Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
End


__ADS_3

Siang begitu cepat berlalu. Tak terasa dengan kesendiriannya di rumah, Lesti sudah melihat kegelapan menyapa di depan sana. Sang ibu yang sibuk di dapur akhirnya usai dengan masakannya.


Masakan yang nikmat meski lauk apa adanya. Samar terdengar suara piring di letakkan di meja makan.


Sementara di teras rumah, Lesti duduk termenung. Ia sudah memutuskan untuk tidak lagi mengingat Fahmi, jelas ia mendengar bagaimana Fahmi begitu tergila-gila dengan Bulan sampai tega melecehkan dirinya.


Lesti sadar bagaimana pun dirinya melakukan sesuatu, cinta pria iu tidak akan ada untukny. Dan saat ini Lesti memilih untuk menenangkan diri dan melangkah ke depan lebih baik lagi.


Melamun tanpa tahu arah, kedua pundak Lesti terjingkat kaget kala merasa ada sentuhan pelan di lengannya.


“Les, ayo makan sama Ibu.” Segera Lesti menoleh pada wanita di sampingnya.


Sudah rindu rasanya ia mendengar suara ibunya. Dan malam ini Bu Rini memanggilnya.


“Ibu,” ia berdiri dari duduknya. Memeluk erat tubuh sang ibu sembari terisak.


Sungguh Lesti sangat menyesali apa yang ia perbuat. Lesti begitu kehilangan sosok ibu beberapa waktu belakangan ini.


“Maafkan Lesti, Bu.” Ia menangis menenggelamkan wajahnya di pundak Bu Rini,


Usapan lembut di punggung ia rasakan.


“Ibu juga minta maaf. Tidak seharusnya Ibu menghakimi anak sendiri. Kewajiba Ibu untuk menasehati kamu dan membimbing anak ibu ketika di jalan yang salah. Maafkan ibu yah, Les?”


Dua wanita itu saling pandang dan meneteskan air mata bersama. Hingga akhirnya pelukan itu terlerai saat Bu Rini mengajak sang anak makan malam bersama.


Tawa keduanya pun terdengar kembali di meja makan.


Sejak saat itu, Lesti benar-benar berubah. Ia menjadi Lesti yang sebelumnya. Wanita penurut pekerja keras dan juga baik. Bu Rini senang melihat perubahan sang anak.


“Semoga kelak anakku mendapatkan pria yang bisa menerimanya dengan tulus. Tanpa melihat masa lalunya.” gumam Bu Rini sebelum berpisah jualan lagi dengan Lesti.

__ADS_1


Kehidupan mereka sudah tampak baik-baik saja.


Hingga tanpa terasa dimana hari yang di nantikan oleh sepasang suami istri akhirnya terjadi.


“Sayang, kamu kenapa?” Pram kaget melihat Bulan yang ingin bangkit dari pembaringan tiba-tiba mengeluhkan sakit di perutnya.


“Mas, perut aku sakit. Sepertinya ini cuman kontraksi biasa aja.” ujar Bulan yang mengingat perkiraan lahiran seharusnya masih beberapa hari lagi.


“Mas pergj kerja saja. Aku baik-baik saja kok.” pintahnya pada sang suami.


Bukannya menurut, Pram justru meletakkan tas kerja di atas nakas. Firasat pria itu sudah tak enak.


“Ayo kita ke rumah sakit sayang. Kita periksa anak kita.” ajaknya yang langsung mendapat gelengan kepala dari Bulan.


“Mas, aku beneran nggak papa, ini aduhhh… kok makin sakit yah Mas? Aw!” Bulan mengaduh tanpa bisa lagi menahan sakit yang semakin terasa cepat.


Pram melihat itu tanpa bicara langsung membawa paksa tubuh sang istri. Pria itu melajukan mobil ke rumah sakit.


Pram tampak menghela napas kasar. “Aku bosnya, Bulan. Kamu lupa?” Tak lagi Bulan bersuara sebab wanita itu sibuk menarik napas untuk menenangkan diri.


Keringat semakin banyak terlihat di wajahnya.


“Aduh Mas sakit sekali!” Jeritnya bergoyang ke kiri dan kanan tubuhnya. Pram semakin laju menginjak gas mobil.


“Sayang, kamu tenang. Tahan dulu. Sebentar lagi kita akan sampai.” Tangan sang calon ayah itu bergetar panik.


Sumpah demi apa pun Pram tak menyangka kejadian yang begitu cepat justru kini mereka sudah berada di ruang bersalin.


Dimana momen Bulan mengejan, Pram turut mengejak. Menarik napas kembali pria lalu mengejan mengikuti arahan dokter.


Beberapa kali pria itu mengusap keringat di keningnya

__ADS_1


Dalam hitungan kurang lebih sepuluh menit, akhirnya perjuangan suami istri itu mengejan membuahkan hasil.


Tangisan bayi serta ucapan syukur dari Pram membuat Bulan tersenyum lemah. Tenaga wanita itu terasa habis.


“Anak kita cantik, Sayang.” tutur Pram melihat anaknya. Pelan ia mengecup kening sang istri. Tangannya bergerak mengusap rambut Bulan.


Tidak ada lagi kebahagiaan yang mereka impikan selain kebahagiaan mendapatkan anak, dimana pernikahan yang penuh lika liku akhirnya sudah lengkap.


Bukan menjatuhkan air mata. Sungguh rasanya sulit percaya jika ia bisa melihat bayi mungil lahir dari hasil jeritannya. Bahkan saat manik mata wanita itu bergerak menatap pria di depannya, segera ia memeluk erat tubuh sang suami.


“Aku mencintaimu, Mas. Aku sangat mencintaimu.” Isakan pilu terdengar di indera pendengaran Pram.


Dimana pria itu sadar bagaimana sang istri begitu takut kehilangannya. Mereka pernah berpisah dan hampir bercerai, tentu saja Pram sangat sadar akan kesalahannya.


“Maafkan aku, Bulan. Aku bersalah dalam hal ini. Aku sangat bersalag.” Ia barkali-kali mengeratkan pelukan dan mengecup rambut istrinya.


“Tuan, Nyonya, ini bayinya.” Sang suster memberikan bayi mungil itu dan Bulan menyambutnya dengan rasa bahagia tak terkira. Pram turut memeluk keduanya dengan bayi mereka berada di tengah-tengah.


“Kamu pemersatu kami, Nak. Lindiana Rembulan.” Pram mengusap lembut kening bayi itu sembari menyematkan nama yang sudah ia pilih.


“Kenapa seperti namaku, Mas?” tanya Bulan kaget.


“Karena kalian dua wanita yang aku cintai. Aku ingin kalian memiliki nama yang mirip untuk mengingatkan aku, berkat wanita ini aku mendapatkan kehidupan yang lengkap seperti saat ini.” Pram menatap dalam manik mata istrinya.


Bulan hanya mampu tersenyum,


***


Pernikahan itu bukan serta merta untuk saling melengkapi demi kebahagiaan. Melainkan pernikahan itu sebuah komitmen dikala kebahagiaan itu tak ada namun, tetap berjuang untuk bersama. Saling melengkapi, saling percaya, saling menjaga.


Kewajiban seorang pria berbakti pada keluarga. Tapi ingat, ketika telah memutuskan mengambil kewajiban atas istri, maka itulah kewajiban yang akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2