
Perjalanan yang memakan waktu lama akhirnya berakhir dengan Bulan, Pram serta Usi di apartemen Hawa. Samar terdengar Usi mengetuk pintu.
Dari dalam pintu pun terdengar terbuka. “Bu…” dengan wajah pucat Hawa menyapa sang ibu. Namun, senyuman di wajahnya tiba-tiba terlukis kala melihat sosok kedua yang masuk ke dalam apartemennya.
“Pram,” sapa Hawa dengan bahagia.
Pram masuk tak lama kemudian saat Hawa ingin mendekat, wajahnya berubah datar melihat Bulan turut hadir di sana.
“Kenapa ada dia?” Kesal Hawa menunjuk ke arah Bulan.
Melihat sikap sang anak, Usi bisa menyimpulkan jika Hawa masih sama tak berubah sedikit pun. Bahkan kesalahan yang ia perbuat nyatanya belum ia sadari.
“Pram, Ibu sudah di sini dengan Hawa. Kalian bisa pergi ke hotel tempat kalian sekarang.” pintahnya tak ingin jika Hawa berbuat hal di luar dugaannya saat ini.
__ADS_1
Patuh, Pram mengangguk. “Baik, Bu. Ini tas dan barang Ibu. Kami pergi dulu.” Tanpa mengatakan sepatah kata pun Bulan dan Pram bergegas pergi meninggalkan apartemen Hawa.
Kepergian keduanya membuat wajah Hawa terdiam. Tak bisa melakukan apa pun saat ini selain menerima kedatangan sang ibu tanpa ada Pram.
“Mas, apa yang terjadi? Kenapa kalian tidak bertegur sapa?” Bulan yang sejak tadi memperhatikan pemandangan tak biasa akhirnya bertanya setelah mereka tiba di dalam mobil.
Pram terdiam sejenak sembari menghela napasnya kasar.
“Biarkan Hawa menyadari kesalahannya, Bulan. Mas tidak ingin memberi celah padanya.” Kening Bulan mengernyit tak mengerti. Apa sefatal itu perlakuan Hawa sampai Pram tak menegur sang kakak? Pikirnya.
Ia menceritakan kejadian demi kejadian di mulai Hawa yang meminta Oma melakukan semua kejahatan hingga Hawa yang menyukai dirinya. Bulan bukan tak pernah mendengar hal ini sebelumnya, namun ia pikir ini adalah sebuah kesalah pahaman atau kejadian yang tidak begitu serius. Namun, melihat keadaan Pram dan Hawa sejauh ini, ia menyadari jika semua memang sangat fatal.
“Bulan, kita berlibur di sini. Jadi, biarkan waktu ini menjadi masa yang indah untuk kita. Anggap saja kita sedang honeymoon.” Mendengar penuturan sang suami, Bulan bukannya tersenyum. Ia justru memutar matanya malas.
__ADS_1
“Kamu nggak liat di perut aku ini, Mas?” tanyanya membuat Pram terkekeh.
“Ingat, bagaimana mungkin aku lupa? Anak ini sudah membuat ayahnya benar-benar minta ampun karena bundanya sangat galak.” Pram terkekeh mengingat bagaimana ia memperjuangkan maaf dari Bulan. Meski berakhir di hari kedua.
Namun, satu hari yang cukup membuat Pram benar-benar kelelahan dan tak ingin lagi melakukan kesalahan sekecil apa pun itu.
Hingga waktu berlalu beberapa menit, akhirnya keduanya tiba di hotel. Jika keduanya menikmati hari pertama dengan istirahat dan saling berpadu mesra, berbeda dengan suasana di apartemen.
Hawa merajuk dengan mengunci pintu kamar usai mendapatkan nasihat dari sang ibu.
“Hawa, apa mau kamu sebenarnya? Apa kamu tidak malu Ibu mengetahui semuanya? Kamu seharusnya menjadi contoh untuk adik kamu. Bukannya seperti ini!” Wajah teduh Usi akhirnya berubah bak ibu tiri.
Ia tak menyangka pikiran sang anak akan sedangkal itu. Bagaimana mungkin cemburu melihat sang adik kembali bersatu dengan istrinya.
__ADS_1
Lama tak ada jawaban, Usi duduk di sofa meninggalkan pintu kamar sang anak. Pikirannya memikirkan bayangan masa lalu. Mencari kesalahan fatal apa yang pernah ia perbuat hingga anaknya bisa memiliki keinginan yang di luar nalar.