Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Prasangka Yang Tak Salah


__ADS_3

Berbincang cukup lama, kini sudah saatnya Fahmi undur diri. Ia berdiri dari duduknya setelah berkata, “Les, kakak pulang dulu. Masih banyak kerjaan.” ujarnya.


Lesti pun tersenyum mengangguk. “Iya, hati-hati yah, Kak. Hubungi kalau sudah sampai.” tutur wanita itu ramah seperti biasanya.


Sementara Fahmi, sebelum dirinya pergi. Ia sempat menengok ke arah dalam. “Ibu mana? Saya mau pamit.”


Sebelum Lesti bersuara, tampak Bu Rini bergegas keluar. Sebab sedari tadi pun ia mendengarkan perbincangan sang anak dengan Fahmi dari arah dapur.


“Eh sudah mau pulang?” tanya tersenyum mendekati dua sosok yang tengah tersenyum-senyum itu.


“Iya, Bu. Saya harus pulang dulu.”


Fahmi pun pergi usai bersalaman. Di sini tampak Bu Rini dan Lesti yang tinggal berdua berdiri menatap kepergian Fahmi yang semakin jauh.


“Les, ibu mau bicara sebentar.” ujarnya.


Lesti dengan santai mengikuti sang ibu. “Ada apa, Bu? Kok serius amat wajahnya?” tanya Lesti penasaran.


Bi Rini pun menghela napasnya kasar. “Ibu kok merasa Fahmi itu aneh yah?” Mendengar penuturan sang ibu. Sontak saja Lesti pun mengernyitkan keningnya.


“Aneh maksudnya, Bu? Perasaan ibu saja kali.”


“Bukan, ibu yakin kok. Kenapa ibu perhatikan setiap ketemu kamu dia itu justru memperhatikan Bulan? Kadang liatin Bulan terus, kadang juga malah sok cari perhatian sama Bulan. Tadi malah nanyain Bulan. Kamu nggak curiga?” Bukannya berpikir yang buruk, Lesti justru terkekeh mendengar ucapan sang ibu.


Ia menggelengkan kepala. “Bu, nggak mungkin. Yah namanya juga Mba Bulan orang baru kan? Wajar dong Kak Fahmi itu penasaran mungkin takut kalau Mba Bulan orang jahat yang mau jahatin kita.”

__ADS_1


Rasanya tak mungkin jika Lesti akan menaruh pikiran buruk pada pria yang sangat ia cintai itu. Akhirnya Bu Rini pun memilih untuk diam dan tak ingin memaksa prasangkanya di akui oleh sang anak. Sebab, bagaimana pun Lesti akan percaya pada Fahmi tanpa ada bukti yang benar ia lihat.


***


Di belahan negara dimana Bulan dan Pram tengah saling memeluk menikmati waktu yang banyak terlewatkan dengan kesendirian. Senyuman terukir lebar di wajah keduanya.


Bulan baring bersandar pada sandaran kasur, sedang Pram tampak berbaring di kedua paha sang istri. Wajah tampan itu menatap dekat pada perut sang istri. Jangan lupakan tangan yang terus bergerak mengelus perut sang istri.


“Anak ayah sudah bangunkah? Bagaimana tidurnya semalam? Ayah selalu peluk loh?” Bulan menggeleng terkekeh lucu mendengar sang suami bercakap dengan anak yang belum terbentuk sempurna di dalam sana.


“Apa? Nggak bisa tidur nyenyak? Kenapa?” Pram tampak mengernyitkan kening usai menempelkan telinganya di perut sang istri.


Tak ada komentar yang Bulan suarakan. Ia terus menatap reaksi demi reaksi sang suami saat ini. Sungguh, rasanya begitu bahagia bisa bersama Pram kembali menikmati hari demi hari menjalani kehamilan saat ini.


Anggukan kepala Pram membuat Bulan terus tersenyum tanpa pudar.


“Bunda dengar tidak? Dedeknya mau di jenguk banyak kali. Katanya nggak papa asal pelan-pelan. Katanya sih gara-gara kangen berat sama ayahnya.”


Tak tahan mendengar celotehan sang suami, Bulan tak lagi tersenyum namun ia terkekeh lucu.


“Mas, kamu ini pintar aja ngelesnya. Nanti setelah kita kontrol ke dokter berikutnya baru kita bisa nentuin yah? Sekarang aku nggak berani.” Pram yang mendengar pun mengangguk.


“Iya, Sayang. Aku bercanda kok. Yasudah sekarang kita mandi, sarapan dan jalan-jalan. Oke?”


“Memangnya kamu nggak papa Mas lama di sini. Perusahaan bagaimana?” tanya Bulan yang khawatir dengan pekerjaan sang suami.

__ADS_1


“Sudah, ayo. Jangan mikir hal yang nggak seharusnya di pikir. Semua sudah aku pikirkan kok.”


Keduanya pun bersiap untuk keluar usai mandi dan sarapan. Dan di sinilah mereka berada.


Sebuah tempat wisata dimana mereka termanjakan dengan danau yang indah serta taman bunga yang begitu segar. Tanpa di minta Pram pun tahu jika sang istri sangat menyukai ini semua.


Benar saja, Bulan tersenyum memandangi hamparan bunga warna warni yang bermekaran semua siang itu. Matanya tampak berbinar.


“Mas, rasanya aku bahagia banget bisa lihat seperti ini. Di negara kita nggak ada yah seperti ini?” celetuknya membuat Pram mengangguk.


“Pulang nanti aku akan berikan yang seperti ini untukmu. Di halaman rumah samping yang luas sepertinya bagus kita buat seperti ini. Penuh dengan bunga mekar.” Mendengarnya Bulan tak kuasa untuk tidak memeluk suaminya.


“Terimakasih yah, Mas.” Pelukan hangat pun ia dapatkan kembali. Hingga Pram yang merasa momen ini sangat pas segera merogoh ponsel dan memotret ia dan Bulan yang berpelukan dengan latar belakang bunga mekar.


“Ih suamiku hoby selfie yah?” Bulan tergelak melihat hasil jepretan Pram untuk pertama kalinya.


“Mengejek dari hati atau karena kehamilan sih?” gerutu Pram yang malu di goda oleh Bulan.


Tangannya tampak bergerak mengetik caption ‘my wife’ dan memposting foto teromantis menurut Pram.


Betapa bahagianya Bulan melihat akun sosmed sang suami yang tak ada foto apa pun untuk pertama kalinya menampilkan wajah mereka yang begitu romantis. Pelukan erat pun Bulan tambah di tubuh suaminya itu.


Tanpa mereka sadari dari tempat yang berbeda seorang wanita menjerit histeris kala melihat notifikasi yang benar-benar menyakitkan.


Hawa membanting ponsel miliknya dan memilih ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.

__ADS_1


“Aku tidak bisa melihat itu, Pram. Aku tidak kuat.” tuturnya terdengar lirih.


__ADS_2