
Akhirnya setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, kini suasana yang berbeda Lesti lihat di pagi hari. Rumah sederhana yang selalu membuatnya rindu ingin pulang dan kini ia sudah berada di rumah tersebut. Bersama sang ibu dan juga sang kekasih. Keadaan rumah pun tampak sunyi sebab Bulan sudah pergi dengan gerobak Bu RIni.
"Ayo Fahmi masuk. Ibu buatkan teh hangat dulu." pintah Bu Rini dan Fahmi pun setuju untuk masuk ke dalam rumah bersama Lesti yang ia ikuti dari arah belakang.
"Memangnya biasa ibu dan dia jualan di mana, Les?" tanya pria itu tiba-tiba saja bersuara saat memastikan Bu Rini telah berada di dapur dengan suara sendok yang berdenting dengan gelas.
"Biasa sih bagi dua arah. Ibu di ujung kiri dan gerobak satunya lagi di ujung kanan jalan besar di depan sana," cerita Lesti dengan yang ia tahu. Bahkan sang ibu belum memberi tahu jika gerobak miliknya tidak bisa di gunakan saat ini lantaran rusak.
Fahmi yang mendengar pun menganggukkan kepalanya paham. Hingga tak lama setelahnya Bu Rini datang dengan dua gelas teh untuk mereka.
"Bu, Lesti kan bukan tamu." tuturnya membuat sang ibu terkekeh mendengar.
"Nggak papa. Kan kamu belum pulih benar. Biar ibu yang buatkan nanti kalau pulih benar baru buatkan untuk ibu gampang kan?"
__ADS_1
Ketiganya pun saling tertawa mendengar Bu Rini yang berucap dengan canda. Hingga tanpa terasa Fahmi pun menghabiskan satu gelas teh hangat. Bukan karena buru-buru melainkan ada sesuatu yang membuatnya ingin segera pergi dari rumah sang kekasih.
"Bu, saya pamit pulang dulu. Lesti istirahat yah? Kakak pulang dulu cepat pulih yah?" Lesti menganggukkan kepala usai mendengar sang kekasih berpamitan. Begitu pun dengan Bu Rini yang menyetujui dengan mengantar Fahmi hingga di depan pintu.
Situasi yang berbeda tampak mulai ramai. Bulan bahkan hampir kuwalahan saat banyaknya pembeli yang mampir di gerobak buburnya pagi itu. Sebab ia hanya berjualan satu satu gerobak saja tidak bersama Bu Rini. Bahkan para pembeli sudah langganan dengan bubur ayam mereka.
Ia tidak sadar jika dari arah lain ada seseorang yang memotretnya diam-diam dan mengirim pada seseorang. Dan kiriman foto itu membuat sosok wanita tua yang lain adalah Oma Wulan menyunggingkan senyuman liciknya.
"Masih hidup baik-baik juga dia...tunggu Bulan. Aku akan mengajakmu pergi ke tempat yang jauh dan tidak akan kamu lupakan." gumam wanita tua itu.
"Bulan?" senyuman yang terasa tak mengenakkan di mata Bulan membuatnya berusaha menghindar.
"Mas, kok di sini?" tanya Bulan bolak balik berjalan melayani para pembeli.
__ADS_1
"Aku baru saja mengantar Lesti pulang bersama Ibu. Kamu kenapa nggak ikut ke rumah sakit?" tanya Fahmi yang rupanya buru-buru pulang lantaran ingin bertemu dengan Bulan. Namun, tak ada yang tahu akan hal itu sampai pria itu tiba di tempat Bulan berjualan.
"Terus kok kesini? Kenapa nggak temani Lesti?" tanya Bulan seakan ingin menyindir akan tujuan pria itu datang padanya.
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu. Boleh?" tanya Fahmi yang tanpa henti mengikuti pergerakan Bulan.
Sungguh Bulan sendiri merasa risih, namun ia tidak tahu bagaimana caranya mengusir pria itu untuk pergi dari sana. Satu-satunya alasan Bulan hanya dengan melayani pembeli tanpa henti agar Fahmi lama-lama akan bosan.
"Aduh ini orang maunya apa sih? Kok bikin risih begini?" gerutu Bulan dalam hati.
"Maaf, Mas. Saya sibuk. Saya harus bekerja, jadi sebaiknya pulang saja. Lagi pula saya tidak kenal dengan Mas jadi saya rasa tidak ada yang perlu di bicarakan. Saya takut Mba Lesti salah paham. Kalau mau bicara tunggu di rumah saja bersama Mba Lesti dan Ibu." Akhirnya Bulan mantap mengutarakan isi hatinya saat itu juga.
Fahmi yang mendengarnya pun meneguk salivahnya kasar. Bulan bahkan berucap tanpa menjaga perasaannya. "Ini tidak bisa di dengar mereka, Bulan. Saya ingin bicara berdua sama kamu saja." sahut Fahmi yang kekeuh.
__ADS_1
Sungguh Bulan tak ingin mendapatkan masalah, sudah cukup masalah yang di berikan keluarga sang suami saat ini. Jangan lagi ia bermasalah dengan keluarga Bu Rini yang sudah baik menerimanya apa adanya.
"Silahkan Mas pergi saja jika ingin bicara berdua. Karena saya tidak mau, Mas." tutur Bulan dengan tegas tak lagi menghindarkan tatapan matanya dari pria di depannya kini.