Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Ketahuan Mengintip


__ADS_3

Keheningan malam yang semakin larut nyatanya masih tak mampu membuat tubuh Bulan terlelap. Bahkan jam yang sudah menunjuk angka dua membuat kedua matanya masih terang menatap. Membolak balikkan tubuhnya kiri dan kanan berusaha memejamkan mata. Detik berikutnya ia kembali membuka mata.


"Huh kenapa nggak bisa tidur juga sih?" gerutu Bulan tampak gelisah.


Mengingat besok adalah hari dimana ia harus tetap berjualan, rasanya pasti tidak akan cukup tenaganya jika malam ini akan bergadang lagi.


Menarik selimut yang berusaha ia jauhkan tadi, kini akhirnya Bulan menutup selimut itu sampai ke seluruh tubuh dan kepala. Satu detik, dua detik, tiga detik, hingga empat detik akhirnya selimut yang menutup ke ujung kepala Bulan buka kembali. Matanya menatap kesal langit kamar yang ia tempati saat ini.


"Huh kenapa nggak bisa juga sih ketutup matanya. Adek ayo dong bantu bunda bobo. Bunda harus kerja besok." Bulan tampak menatap dan mengusap lembut perutnya penuh kasih sayang. Hingga pada akhirnya ia pun tampak menyerah dan bangun dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Coba aku lihat ke depan. Pasti Mas Pram sudah pulang." ujar Bulan menduga jika sang suami telah kembali ke rumahnya.


Namun, saat ia tengah tiba di jendela dekat pintu utama rumah. Tampak mata Bulan membola sempurna melihat mobil yang tak di sangka masih terparkir rapi di sana. Sungguh, Bulan tak menyangka jika Prammemilih tidur di mobil sebab ia tak membolehkan pria itu untuk masuk tidur bersamanya.


"Maafkan aku, Mas. Aku bukan dendam atau benci atau berniat tega sama kamu. Aku benar-benar masih mencintai kamu. Tapi aku nggak tahu harus bagaimana caranya menerima kamu dengan semua yang pernah kamu tuduhkan pada ku dan benih kamu, Mas." tutur Bulan tampak mengusap perutnya kembali saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


"Bulan," Suara wanita yang ternyata adalah Bu Rini akhirnya membuat Bulan terperanjat kaget dan menurunkan gorden di jendela itu seketika.


Bulan merapatkan tubuh ke jendela rumah itu menghalangi Bu Rini agar tak melihat apa yang ia lihat barusan. Di sana ada mobil pria yang masih menunggu maaf darinya. Entah sampai kapan, bahkan Bulan tahu jika Pram pasti merasakan sangat lelah usai bekerja seharian dan harus datang menemuinya membawanya makan bersama dan kini Pram sudah tertidur di dalam mobil.

__ADS_1


"Kamu lihat apa subuh begini? Belum tidur kamu, Bulan?" tanya Bu Rini yang kian mendekat ke arah Bulan berdiri.


Bulan terlihat begitu gugup, namun ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Bu. Saya tidak melihat apa-apa." ujarnya sayang, Bu Rini tak percaya.


Rasa penasaran membuat wanita itu terus melangkah meski beberapa kali Bulan berusaha menutup korden yang ingin wanita itu lihat.


"Kenapa? Apa kamu sendang mengintip suamimu di luar? Kenapa tidak di suruh masuk saja? Kalian kan masih suami istri?" ujar Bu Rini yang membuat Bulan malu setengah mati.


Rupanya wanita itu tahu jika Pram masih berada di depan rumahnya hingga saat ini.

__ADS_1


__ADS_2