
Satu minggu sudah Bulan dan Pram berpisah rumah, jika di katakan mereka baik-baik saja tentu semuanya hanyalah dusta. Nyatanya setiap malam Bulan menghabiskan waktu dengan menangis setiap membayangkan bagaimana momen pernikahan mereka serta perjuangan mereka untuk bisa bersatu tanpa restu dari keluarga. Rasanya begitu menyakitkan saat bersama dengan mudah perpisahan itu terjadi.
Tak perduli rasa lelah di tubuhnya, malam ini masih sama seperti malam kala ia membayangkan memeluk tubuh hangat sang suami.
"Apa kamu baik-baik saja, Mas? Aku sakit menahan ini semuanya. Sejujurnya aku ingin kamu bersamaku di masa kehamilan seperti ini." ucapnya memeluk diri sendiri.
Di luar kamar, Bu Rini tampak menata makan di meja makan yang berisi hanya empat kursi kayu. "Kasihan Bulan, pasti ia kelelahan kerja jualan bubur, di sambung jadi buruh cuci baju. Semoga kerja keras mu di ridhoi, Nak." gumamnya menggelengkan kepala.
Hidup menjadi single perent tentu saja Bu Rini begitu paham rasanya tak ada suami terlebih ketika Bulan tengah mengandung.
"Bulan, ayo makan. Ibu siapkan tumis kangkung pedas seperti yang kamu pengen loh. Temani Ibu makan yuk?" teriak Bu Rini sembari mengetuk pintu kamar Bulan.
Seketika Bulan sangat terkejut dan menghentikan tangisnya. Ia bangun dari tempat tidur dan melihat wajah di cermin kamar. Setelah memastikan semuanya aman, ia pun mengembangkan senyum sebelum membuka pintu.
"Tumis kangkung, Bu? Wah ayo Bu. Oh iya, nanti habis makan Bulan akan ambil upah hari ini, Bu." ujarnya penuh semangat. Tak perduli bagaimana Bu Rini selalu menolak, namun Bulan merasa mendapatkan tempat tinggal dan kerjaan sudah cukup baginya. Ia tidak butuh lagi uang untuk dirinya.
"Tidak, Bulan. Tabunglah, kamu harus memikirkan untuk biaya persalinan nanti. Anak kamu pasti akan butuh tabungan. Penghasilan gerobak itu saja sudah sangat cukup untuk kita." ujar Bu Rini.
Namun, bukan Bulan namanya jika tidak keras kepala. "Ibu tidak boleh menolak. Pokoknya semua Ibu yang pegang. Oh iya malam ini Bulan juga dapat kerjaan tambahan di restoran, Bu. Cuman bagian cuci piring sama bantuin siapin pesanan. Nanti setengah jam lagi perginya."
Keduanya makan dengan tenang sembari mendengar Bulan yang terus memuji makanan kangkung pedas itu. Bu Rini hanya menggelengkan kepala saja mendengar penuturan polos Bulan.
"Ini sayur terenak loh, Bu. Bulan tambah lagi nggak papa yah?" ia sangat bersemangat makan dan ini adalah tambahan ketiga kalinya.
"Kamu itu terlalu berlebihan mujinya. Itu cuman kangkung tumis biasa, Bulan."
Bekerja keras sepanjang hari sepertinya membuat Bulan sangat mudah lapar lantaran tenaganya terkuras habis untuk mencari uang. Usai keduanya menyelesaikan makan malam, Bu Rini pun meninggalkan rumah setelah Bulan pergi bekerja. Ia akan pergi ke rumah sakit menjenguk sang anak yang terkena gejala tifus.
Berbeda dengan keadaan di luar negeri, Pram tampak memarahi sekertarisnya lantaran menyusun jadwal tidak sesuai dengan keinginannya.
Berniat liburan, Pram justru harus menyambil dengan bekerja. Sebab pertemuan dengan beberapa klien rupanya tak bisa di ganti sementara.
__ADS_1
"Apa sih kerjamu? Kamu benar-benar tidak lihat jika saya tidak ingin kemana pun saat ini?" maki Pram kala sang sekertaris yang bernama Wawan mengingatkan jadwal pertemuan malam ini dengan seorang klien.
"Rubah jadwal setelah saya pulang. Saya hanya ingin menenangkan diri sekarang. Atau besok saja." ucap Pram seenaknya.
Wawan menunduk tanpa menjawab. Ia berusaha mengatur kata apa yang tepat untuk ia ucapkan. "Maafkan saya, Tuan. Tapi beliau sudah dalam perjalanan menuju ballroom saat ini. Tadi siang bukankah saya sudah memberi tahu anda?"
Tak ada jawaban yang Pram ucapkan selain lirikan mata tajamnya. Helaan napas ia keluarkan bersamaan dengan tangannya yang melempar gelas di genggamannya menghantam dinding hotel. Sejak perpisahannya bersama Bulan, kemarahan Pram sering kali meluap tanpa bisa pria itu kendalikan.
"Urus kepulangan ku sekarang juga! Aku tidak akan menemui siapa pun!" Wawan mengangkat pandangan wajahnya terkejut.
Namun, bagaimana pun ia memberi tahu sang atasan rasanya tak akan membuahkan hasil. Memaksa pun bisa saja menimbulkan masalah nantinya.
"Baik, Tuan. Akan saya urus." ujar Wawan patuh.
Keluar dari kamar, ia menelpon beberapa orang untuk mengurus kepulangan sang tuan saat itu juga. Bahkan Wawan merasa kepalanya sangat pusing menghadapi kemarahan sang tuan.
"Nyonya Bulan, di mana anda? Jantung ku bisa mati jika bekerja seperti ini terus bersama Tuan. Aku membutuhkan anda Nyonya." gumam Wawan mengingat bagaimana Bulan yang selalu membuat Pram menjadi pria yang hangat selama ini. Bertutur kata lembut dan penuh dengan keputusan yang bijak. Bukan seperti sekarang, bahkan untuk memikirkan perusahaan pun tidak ia lakukan. Tak perduli apa dampak yang akan mereka terima dengan membatalkan pertemuan dengan klien.
"Pram, apa-apaan ini? Peniadaan kartu kredit? Kamu sudah gila yah?" Hawa datang dengan wajah penuh kesal melihat pada sang adik yang duduk memainkan ponsel di ruang kerja.
Menatap sekilas kedatangan sang kakak, kemudian Pram kembali memainkan ponselnya.
"Pram, kamu bercanda kan? kakak malu di restauran tadi teman-teman kakak ngolokin kakak tahu." Hawa mendekati Pram dan menggenggam tangan sang adik.
Helaan napas Pram keluarkan begitu saja. "Kartu kredit bukanlah masalah yang besar aku rasa, Kak. Bisa saja semua fasilitas aku cabut. Perusahaan banyak rugi saat ini. Penjualan sedang menurun dan banyak kerja sama yang di batalkan secara sepihak." jelas Pram acuh.
Hawa melipat kedua tangan di depan dada dan menatap tajam sang adik. "Kembalikan hak kakak, Pram. Kamu usaha dong yang benar. Ini semua tanggung jawab kamu tahu."
Mendengar ucapan tak mengenakkan seperti itu, Pram justru menatap marah pada sang kakak. Ia berdiri dari duduknya dan mendekati Hawa.
"Aku sudah cukup selama ini mengurus kalian semua. Keluarga besar kita aku yang mengurus semuanya. Sekarang, pikirkan hidup kalian masing-masing. Aku juga banyak masalah. Tolong jangan menambah pikiranku, Kak. Sekarang kakak keluar dari sini."
__ADS_1
Hawa menatap tangan panjang sang adik yang menunjuk ke arah pintu ruang kerjanya. Tanpa berkata apa pun lagi, Hawa sudah meninggalkan ruangan sang adik dengan penuh amarah.
"Sialan, ini pasti gara-gara Bulan. Awas saja kamu, Bulan. Aku tidak akan tinggal diam. Pram bahkan berani membentak aku gara-gara kamu sekarang."
Tak perduli bagaimana Bulan sudah menghilang, namun kemarahan yang Hawa dapatkan selalu saja ia sangkut pautkan dengan sang adik ipar yang bahkan tak tahu menahu soal ini.
Kegaduhan pun juga terjadi pada Usi dan Tante Siti. Para wanita yang tidak memiliki pekerjaan di jam siang itu tengah berkeliaran dengan kehidupan mereka masing-masing.
"Mohon maaf, Ibu. Kartunya tidak bisa di gunakan, apa ada kartu lainnya?" seorang wanita yang bekerja di bagian kasir salah satu store tas branded tampak tersenyum ramah. Dua kali ia sudah melakukan penggesekan kartu namun hasilnya masih sama.
"Kemarin saya masih bisa melakukan pembayaran pakai kartu ini, Mba. Uang cash saya tidak cukup ini." Tante Siti tampak bersikeras.
Tas yang hanya ada satu itu sangat membuatnya tergiur. Meninggalkan tas itu rasanya tidak akan mungkin Siti lakukan. Sebab akan banyak orang yang berebut membelinya.
"Saya tinggal ini dulu dan kembali lagi bisa, Mba? Saya kan sudah sering beli di sini." tuturnya terdengar aneh. Memang ini warung yang bisa di titipkan?
"Mohon maaf ibu, tidak bisa."
Dengan berat hati, Tante Siti pun pergi dengan tangan kosong. Beberapa kali menghubungi sang suami serta keponakan semua tak ada yang menjawab. Kepergiannya pun menampakkan wajah sedih kala melihat seorang wanita sudah melakukan pembayaran tas pilihannya tadi.
"Pram harus mengganti ini semua. Aku tidak mau tahu harganya harus yang dua kali lipat." gerutunya penuh kekesalan.
Sementara di tempat yang berbeda.
"Em...Jeng, bisa nggak saya pinjam uangnya dua juta? Uang cash saya kurang ini mau bayar. Kartu saya nggak tahu lagi bermasalah kayaknnya." Usi menunduk malu mengatakan permintaannya pada sang teman di restaurant itu.
"Ya ampun cuman dua juta, ini. Apa sekarang ketua kita lagi turun pamor yah?" para teman Usi bercanda sembari tertawa.
Tak ingin semakin malu, akhirnya Usi memutuskan untuk segera mengajak temannya bubar usai makan dengan kenyang.
"Ada apa yah dengan kartu kreditku? Sialnya atm juga saldonya nggak seberapa huh." gerutu wanita paruh baya itu.
__ADS_1