Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Empat Lembar Foto


__ADS_3

Bagai tersambar petir rasanya saat Usi mengambil selembar foto yang tadinya ia kira hanya kertas biasa. Air matanya menetes melihat apa yang di depan matanya.


Bukan selembar lebih tepatnya, melainkan empat lembar foto yang berisikan wajah sama namun pose yang berbeda.


Tanpa bisa menahan, ia menangis histeris di dalam kamar itu.


“Nyonya? Nyonya ada apa?” Pelayan yang tengah memungut baju kotor kembali ia jatuhkan. Ia berlari mendekat dan melihat keadaan sang nyonya saat itu.


“Bi, saya tidak salah lihat kan, Bi? Ini Pram kan, Bi?” Ia menangis terisak sembari menunjukkan empat lembar foto Pram di sana.


Pelayan itu melihat wajah sang tuan muda yang sepertinya tidak sadar jika sedang di potret. Ia pun mengangguk seakan bingung. Memangnya kenapa jika itu Pram? Toh hanya foto pikirnya.


“Iya, Nyonya. Itu tuan muda Pram.” jawab Bibi yang semakin membuat Usi menangis.


Hingga ia terduduk di kasur menahan tubuhnya yang terasa lemas.


“Nyonya, ayo saya bantu keluar.” Dua wanita itu berjalan pelan keluar kamar Hawa.

__ADS_1


Usi terus meneteskan air mata, perasaannya begitu kacau saat ini. Sebagai wanita ia tentu tahu apa yang terjadi saat ini.


“Mami, Papi!” Panggilnya pada dua orang tua yang tengah bersantai mendengarkan berita di tv.


Sontak mereka pun menoleh, jangan lupakan Tante Siti yang juga pengangguran saat ini. Sebab tak ada lagi kegiatan arisannya.


“Kamu ini mau buat Mami sama Papi jantungan kah? Teriak-teriak seperti itu?” sahut Tante Siti.


Tak perdulu, Usi segera mendekat. Ia memberikan foto empat lembar itu di atas meja.


“Hawa, Mi. Hawa menyimpan foto ini. Di bawah bantalnya, dan lihat tulisan di sana. Ya Tuhan anakku…” ia menangis sembari mengatakan pada sang mertua.


“Usi, apa ini benar? Bagaimana mungkin Hawa itu kakaknya Pram?” Pekik Oma Wulan yang juga syok kali ini.


Tante Siti yang tidak melihat apa yang Usi tunjukkan segera mendekat.


“Apa itu, Mami?” tanyanya kepo.

__ADS_1


Dan di detik berikutnya matanya membulat sempurna serta mulut yang terbuka lebar ia tutup dengan tangan.


“Apa ini artinya Hawa menyukai adiknya sendiri? Gawat, ini tidak bisa di biarkan, Mi. Hawa harus di tegur ini. Bikin malu saja.” ujarnya sengaja menambah percikan api kala suasana sedang panas.


Usi menatap iparnya dengan perasaan kesal. “Diam kamu, Mba. Ini urusan anak saya dan Mami Papi. Jangan bersuara kalau tidak ada jalan keluar yang kamu berikan.” ketus Usi yang merasa sangat kesal pada wanita berkepala ular itu.


Mendapatkan teguran telak, akhirnya Siti memilih bungkam. Beberapa kali matanya tampak mendelik menatap sang ipar yang menangis.


“Apa ini sebabnya?” lirih Oma Wulan bertanya-tanya namun Usi dan Opa yang mendengar sontak bertanya.


“Sebab apa, Mi?” tanya keduanya serentak.


“Cucuku…bagaimana ini bisa terjadi, Nak?” Oma Wulan turut meneteskan air mata.


Keganjalan di dalam hatinya selama ini akhirnya terhawab sudah.


“Mi, apa Hawa penyebab Bulan dan Pram pisah?” tebak Usi saat melirik kembali foto Pram dan Bulan yang di robek terpisah di sana.

__ADS_1


Oma Wula menunduk sedih dan penuh kecewa. Rasa bersalah tiba-tiba saja menguasai dirinya saat ini.


“Mi, apa yang terjadi? Apa Mami tahu ini?” Saat ini giliran Opa Rasja yang berbicara pada sang istri.


__ADS_2