Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Firasat Terburuk


__ADS_3

Tidur yang di iringi dengan keadaan dingin sepanjang malam sedingin udara kala di musim salju, yah Pram hanya bisa menatap punggung sang istri yang tidur sepanjang malam ini tak membalikkan tubuh. Bahkan sedikit saja tubuh mereka bersentuhan, Bulan terbangun dan kembali memberi jarak. Hingga kantuk semakin menyerang Pram akhirnya terpejam dengan tangan yang memegang kasur tanpa bisa menjangkau tubuh sang istri.


Bukan tak ingin membujuk, namun niatnya untuk memberi kejutan pada sang istri entah mengapa begitu sulit membuatnya mengalah. Dan pagi ini sesuai dengan bayangan di pikirannya. Wajah Bulan tak menunjukkan kemarahannya lagi saat melihat bagaimana seorang pria tengah mendorong gerobak dari depan rumah yang cukup lama menjadi huniannya.


Pram berjalan pelan dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana. Mendengar kehadiran sang suami, sontak wanita berbadan dua itu menoleh ke belakang.


"Mas, kok nggak bilang?" tanyanya cemberut. Bayangan sepanjang malam terasa lelah sekali memajukan bibir yang di buat semonyong mungkin demi sang suami iba padanya.


"Ada nanya?" tanya Pram balik yang di jawab gelengan kepala kikuk oleh sang istri.


Meski dalam hati yang paling dasar Bulan senang pagi ini. Sebab suaminya bukan hanya sekedar memenuhi kewajiban sebagai sang suami. Namun, ia sadar akan hal kecil yang berada di sekitar istrinya tanpa mereka perdebatkan.


"Kan aku udah ngomel..."


"Sepanjang malam? Ngomel tanpa nanya? apa seperti itu kewajiban istri? Atau lagi berlatih menjadi bunda?" tanya Pram tak tahu harus di jawab apa oleh Bulan.

__ADS_1


Dirinya sendiri pun tidak tahu apa penyebab sifatnya seperti ini. "Sudah ayo kita kesana. Sekarang nggak ada lagi alasan kamu untuk kerja kan? gerobaknya sudah ada yang handle. Kebetulan bapak itu juga butuh kerjaan. Aku nggak asal nyari orang kok. Kalau nggak percaya tanya saja sama pemilik usaha ini."


Bulan antusias ingin tahu, ia segera bergegas masuk ke dalam rumah di susul dengan Pram di belakangnya. Keduanya masuk dan di sambut dengan baik oleh Bu Rini.


"Selamat pagi, Bu?" Bulan mencium punggung tangan dan memeluk tubuh Bu Rini. Begitu pun Pram yang ikut menjabat tangan wanita paruh baya di depannya.


Kedatangan pria tampan itu di sambut dengan senyum hangat dari wajah Bu Rini.


"Tuan Pram, terimakasih sudah mempertemukan saya dengan dia. Kami sudah lama saling bercari rupanya. Kesulitan yang kami alami membuat waktu tidak bisa kami luangkan untuk sekedar menelusuri kota ini." Pram tampak terkejut begitu pun dengan Bulan.


Anggukan dari Bu Rini membuat Bulan sangat senang. Akhirnya suaminya bisa berfungsi secara positif juga untuk orang yang menolongnya selama ini.


"Syukurlah, Bu. Kalau begitu saya tidak sia-sia mencari seseorang yang berkompeten dalam pekerjaan ini." ujar Pram puas dengan hasilnya. Sedikit besar kepala tentunya, namun jiwa gengsi masih menguasai pria yang sebentar lagi menjadi ayah ini.


"Memangnya siapa, Bu? Teman?" Bulan pun nampaknya penasaran.

__ADS_1


Sontak pertanyaan Bulan mendapatkan jawaban gelengan kepala dari Bu Rini. Usai menghela napas kasar, barulah ia  bersuara. "Dia itu sepupu Ibu, Bulan. Namanya Mas Kadir, dia juga dulunya usaha jual bubur sama seperti ibu. Tapi bukan di kota ini. Sayangnya kami terputus komunikasi semenjak rumah ibu dulu terbakar tanpa sisa. Ibu pindah kesana kemari lontar lantur hingga akhirnya bertahun-tahun ibu baru bisa buka usaha kecil-kecilan."


Bulan dan Pram menganggukkan kepala mendengar kisah yang rupanya mereka tidak tahu jika wanita di depannya ini adalah wanita yang begitu tangguh menjalani hidupnya.


Cukup lama mereka saling bercerita panjang lebar, hingga akhirnya Bu Rini merasa memiliki waktu lebih untuk bicara lagi. ia tak perduli saat ini bagaimana gerobak menunggunya di depan rumah.


"Bulan, Ibu ingin bicara. Tuan Pram jika ingin mendengar juga tak apa. Ini tidak begitu rahasia." Pelan Bulan menoleh ke arah sang suami. Niat hati ingin memberi isyarat jika Pram harus keluar meninggalkan mereka berdua.


Sebelah alis pria itu ia angkat tinggi. Bulan pun tampak menggerakkan wajah dan bola matanya ke arah luar. Bermaksud meminta pergi. Lagi, Pram menaikkan kedua pundaknya tanda tidak tahu lalu berikutnya ia menggelengkan kepala menolak.


"Tidak apa-apa, Bulan. Ini bukan suatu masalah kok." Bu Rini yang paham tersenyum melihat bagaimana Pram begitu tak ingin berpisah dari sang istri. Lebih tepatnya jiwa kepo sang calon ayah itu tengah meronta-ronta.


"Sepupu? Jangan-jangan ibu ini mau combalingin istriku sama sepupunya lagi? Nggak ini nggak benar. Mana tua lagi." gumam Pram berandai hal yang paling buruk di dalam pikirannya.


"Bulan, Nak Fahmi itu membuat firasat ibu tidak enak. Ibu rasa Bulan juga merasakan hal yang sama atau tahu sesuatu tentang pria itu?" tanya Bu Rini pelan nan lembut. Tak ingin salah bicara atau menimbulkan kesalah pahaman.

__ADS_1


__ADS_2