Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Mengikuti Bulan


__ADS_3

Setengah hari telah Pram lakukan semua demi memperjuangkan hati sang istri, kini semua ternyata belum berakhir begitu saja. Bulan dan Pram pulang ke rumah Bu Rini. Sepanjang jalan Bulan hanya diam tak berniat bicara pada sang suami.


"Bulan," sapa Pram saat keduanya tiba di depan rumah. Kebetulan merekalah yang pulang lebih awal. Sementara Bu Rini dan juga Lesti belum pulang.


"Ada apa, Mas? Apa mau pulang? Sebaiknya begitu. Karena saya harus bekerja setelah ini." ujar Bulan yang sontak membuat Pram kaget. Ia pikir pekerjaan sang istri hanya sampai siang.


Matanya menatap sekeliling memastikan jika tidak ada persiapan pekerjaan lagi. Bahkan gerobak bubur ayam itu pun sudah habis isi jualannya. Bulan yang paham dengan apa yang suaminya cari akhirnya menjawab.


"Bukan jualan, tapi bekerja di rumah orang.  Sebaiknya Mas segera pulang." usir Bulan tanpa kata-kata lembut lagi.


Pram menelan salivahnya susah payah mendengar dirinya di usir.

__ADS_1


"Bulan, tolong dengan sangat maafkan Mas. Tolong jangan seperti ini, jika kau marah dan ingin menghukum jangan seperti ini caranya. Di sana ada anak kita, Bulan. Pikirkan tubuhnya yang sedang berkembang di dalam sana. Tidak baik membuatnya kelelahan. Aku mohon, Bulan." Pram sungguh sedih melihat sang istri yang membanting tulang untuk bekerja demi mencukupi kehidupannya dan menumpang bersama orang lain.


Hingga tidak memperhatikan keadaannya saat ini yang tengah mengandung. Namun sekali lagi Bulan bukan berniat untuk dendam pada Pram. Ia hanya trauma melihat bagaimana sang suami yang jauh lebih percaya pada sesuatu hal lain dari pada ucapan sang istri. Jika mengingat itu semua kembali sungguh rasanya Bulan ingin menangis dan memukul sang suami.


"Anakku kuat, Mas. Dia bukan anak yang manja dan sangat mengerti keadaan bundanya. Jadi Mas jangan menghalangi aku bekerja. Ini semua demi anakku juga." tutur Bulan yang terdengar begitu menyesakkan dada Pram.


Menyebut dengan kata anakku, rasanya Pram benar-benar tersindir. Sebagai seorang ayah ia seperti tak di anggap.


Hingga perjalanan Bulan yang naik angkot pun Pram ikuti. Ia tak akan membiarkan sang istri pergi seorang diri. Hingga beberapa menit berlalu, rupanya Bulan memasuki halaman rumah megah yang menjadi tempatnya bekerja paruh waktu.


"Permisi, Pak." sapa Bulan pada security yang membuka gerbang untuk Bulan.

__ADS_1


Pram yang datang bersama Bulan mendapat tatapan aneh dari satpam itu. Pelan ia pun menganggukkan kepalanya tanda hormat. Pram hanya merespon dengan anggukan kepala. Bulan berjalan di ikuti Pram masuk ke rumah yang ternyata pemiliknya tengah menonton televisi.


"Nyonya selamat siang?" sapa Bulan pada wanita paruh baya.


Wanita paruh baya itu pun tersenyum. "Mba Bulan, baru pulang jualan? Yasudah langsung masuk saja yah?" sapa wanita itu dengan ramah.


Hingga matanya melirik Pram yang berdiri di belakang Bulan dengan tatapan dalam. "Tuan..." sapa wanita itu dengan kaget setelah menyadari jika pria di hadapannya ini adalah rekan kerja sang suami.


"Pah! astaga Papah!" teriaknya sangat antusias bahkan tubuhnya turut bergoyang kesana kemari menantikan kehadiran sang suami yang berada di kamar.


Pram merasa lupa dengan wajah wanita di depannya, lantas ia berdiri berusaha mengingat tanpa sadar jika Bulan saat ini sudah berlalu ke dalam dapur.

__ADS_1


__ADS_2