Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Pikiran Usi


__ADS_3

Oma Wulan yang melihat Bulan hanya terdiam menatap Pram, segera ia raih kedua tangannya. Oma Wulan menggenggam tangan itu dengan erat. Bulan pun mengalihkan pandangannya pada wajah wanita tua yang di depannya.


"Oma minta maaf, Bulan. Oma salah besar telah melakukan hal yang seharusnya tidak Oma lakukan. Oma akui Oma yang melakukan fitnah malam itu padamu. Apa kau ingat kejadian di hotel malam itu?" tanya Oma Wulan membuat Bulan segera mengangguk lirih. Kedua mata Bulan pun masih menatap Oma Wulan dengan penuh tanya.


Apa inikah sesungguhnya Oma Wulan? Wanita yang berbicara pelan dan lembut? Namun, selama ini Bulan hanya melihat wajah dingin dan tatapan tajam dari wanita tua di hadapannya. Rasanya sulit untuk percaya jika Oma Wulanlah yang bicara padanya kini.


"Oma membayar pria itu untuk menjebakmu. Oma bersalah, maafkan Oma. Bulan, maukah kau memaafkan Oma dan melupakan semuanya?" Oma Wulan bahkan sampai terisak melihat Bulan yang justru tak bereaksi apa-apa saat ini.

__ADS_1


Tatapan mata Bulan tampak kosong. Ini bukan perihal memaafkan dan melupakan saja. Tetapi, ada hati yang terlanjur kecewa. Sungguh sulit untuk di terima dengan akal sehat jika manusia seperti mereka bisa melakukan hal tersebut.


Lama terdiam, semua penasaran akan apa ucapan yang Bulan katakan pertama. Namun, hanya ada air mata yang menetes saat ini. Bulan bahkan tak menatap lagi kedua mata Oma Wulan yang masih menggenggam tangannya erat.


"Memaafkan dan melupakan adalah hal yang sederhana. Tapi kekecewaan yang saya rasakan dan sakit yang saya hadapi tanpa kalian mau mendengar semuanya saya rasa cukup untuk menjadikan jawaban saat ini. Saya ingin tenang bersama kehidupan baru saya. Dan untuk Mas Pram, silahkan jika ingin menggugat saya, saya ikhlas. Setelah anak ini lahir mari kita mengurus semuanya bersama." Ucapan Bulan sontak membuat Pram tak bisa menerima begitu saja. Pria itu segera menggeser tubuh sang oma dari hadapan Bulan dan merebut kedua tangan sang istri.


Sementara Bulan tampak bermonolog dalam hati usai mendengar ucapan sang suami. "Oh jadi orang-orang yang sering aku lihat itu suruhan Mas Pram?" tanyanya dalam hati namun sesaat kemudian Bulan pun sadar dari lamunannya. Ia tampak menghela napasnya kasar.

__ADS_1


"Biarkan semuanya seperti ini dulu, Mas. Aku lelah, biarkan aku tenang selama masa kehamilanku. Aku lelah jika terus berjuang sendiri." tuturnya membuat Pram menggelengkan kepala tak terima keputusan sang istri.


"Bulan, pulanglah bersama kami. Oma dan Opa sudah sadar saat ini kamu semua salah. Ayolah, Nak." Kini akhirnya Usi setelah sekian lama bungkam tutur bersuara. Ia tidak ingin rumah tangga sang anak rusak karena tidak bisa memperbaiki semuanya.


Sebagai ibu, Usi tak bisa berbohong. Ia jelas melihat bagaimana Bulan yang sangat baik dan tulus pada Pram. Ia tak ingin kelak di usia tua anaknya tak memiliki pendamping hidup yang tepat justru akan sangat menyakitkan. Terlebih jika dirinya pergi lebih dulu, tentu Usi baru sadar akan semuanya saat ini.


Ingatannya kembali pada sang anak perempuan. Dimana Hawa justru tergila-gila pada adiknya sendiri. Sungguh tak bisa ia bayangkan ketika dirinya tak lagi ada di dunia, justru Hawa berusaha keras untuk memperjuangkan cinta sepihak itu lagi. Dan tak ada yang bisa mencegah perlakuan buruk apa pun yang akan Hawa rencanakan di kemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2