
"Bulan, sorry. Aku jatuh hati sama kamu. Aku tahu aku salah, tapi kali ini biarkan aku mengutarakan ini semua." Fahmi dengan beraninya berucap seperti itu. Hingga semua para pengunjung jualan Bulan pagi itu tampak menatap ke arah mereka berdua.
Sementara Bulan begitu marah mendengar ucapan Fahmi. Sungguh ia tidak mengerti mengapa ada pria seperti Fahmi di dunia ini. Bertemu baru saja sudah berani mengatakan kata suka. Yah meski itu ada alasannya. Fahmi tergila-gila melihat kecantikan Bulan yang jika di bandingkan dengan Lesti tentu sangat jauh.
Penuh emosi, Bulan berjalan ke arahnya.
Plak!!
Satu tamparan keras melayang dan mendarat di pipi pria itu. Fahmi yang memegang pipinya melihat Bulan sangat marah saat ini.
"Aku hanya ingin jujur, Bulan. Aku jatuh hati pertama kali kita bertemu." sahutnya kekeuh ingin Bulan mengerti perasaannya.
__ADS_1
"Mas, pergi dari sini. Kamu itu bahkan tidak pantas untuk Mba Lesti. Di depan wanita yang katamu kekasihmu, kamu bahkan berani melihat aku seperti orang lapar. Memalukan. Pergi dari sini atau aku lapor ke Bu Rini?" ancam Bulan yang naik pitam. Hilang sudah wajah lembut dan kalem di wajah cantiknya.
Merasa malu lantaran banyak mata yang melihat, akhirnya Fahmi pun pergi. Tapi sebelum ia pergi, tubuhnya mendekati Bulan dan berbisik.
"Aku akan mengusahakan apa pun, Bulan. Bahkan meninggalkan Lesti pun aku siap."
Merinding Bulan mendengar penuturan pria gila itu. Fahmi yang pergi dengan wajah kesal dan malu membuat Bulan hanya bisa menggelengkan kepala tak habis pikir. Benar dugaannya dari awal, jika pria itu tidak baik bahkan Bulan tak tega rasanya jika Lesti ia beri tahu. Namun, jika Bulan hanya diam saja, sama saja ia mendukung perilaku Fahmi yang buruk itu.
"Ya Tuhan ada pria macam dia ternyata? Kasihan Mba Lesti dapat cowok seperti itu. Tapi bagaimana caranya aku memberi tahu mereka yah? Apa iya mereka percaya begitu saja? Rasanya tidak akan mungkin. Tapi harus bagaimana ini?" gumam Bulan mulai bingung memikirkan cara berikutnya. Hingga terdengar salah satu pembeli bersuara.
"Iya, Bu. Terimakasih banyak yah, Bu." tuturnya dengan penuh ketegangan.
__ADS_1
Bulan tentu paham apa yang ibu itu peringatkan. Fahmi sudah jelas pria yang nekat tanpa memikirkan apa pun akibatnya.
Sementara di tempat yang berbeda, tampak dua wanita berbeda usia saling berhadapan.
"Kita sulit melakukan sesuatu, Hawa. Oma sudah meminta seseorang untuk mengikuti pergerakan Bulan. Tetapi adikmu itu sudah lebih dulu menjaga Bulan dengan orangnya. Oma tidak mungkin melawan orang suruhan Pram itu. Bisa jadi masalah kita." ujar Oma Wulan menyampaikan masalahnya pada sang cucu.
Hawa yang merasa awalnya sangat senang saat sang oma akan turun tangan, kini justru lemas setelah mendengar apa yang terjadi di lapangan.
"Gara-gara wanita itu, Oma aku kehilangan hak ku. Pram tidak pernah perhitungan dengan kami. Semua karena Bulan." ujarnya mengumpat kesal.
Oma Wulan yang mendengar pun tampak menghela napas kasar. Sang cucu di depannya sepertinya bukan hanya menaruh kesal lantaran pelitnya Pram padanya. Namun, seperti ada kebencian yang sudah mendarah daging.
__ADS_1
Hawa yang sangat marah kini berteriak histeris di dalam kamar seorang diri. Semua isi di rak make up ia hambur ke lantai. Tak perduli barang mahal pecah semua. Yang ia inginkan saat ini Bulan hancur dan tidak bisa bertemu sang adik lagi. Namun, harapannya ada satu-satunya orang yaitu Oma Wulan sepertinya harus pupus. Sebab sang oma mengatakan mereka tak bisa melakukan apa pun lagi, sebab Pram sudah menjaga istrinya dari kejauhan.
"Jika mereka tidak bisa, maka aku yang akan melakukannya.