Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Serangan


__ADS_3

Seperti hari biasanya Pram akan pergi ke kantor usai berpamitan dengan sang istri. Ia mencium kening Bulan dengan penuh cinta serta memeluk Bulan dan terakhir ia mencium perut buncit milik Bulan.


“Hati-hati yah, Mas?” Bulan berucap dengan wajah yang tersenyum lebar.


“Kamu jangan kerja apa pun di rumah.” ujar Pram kembali mengingatkan.


Kepergian sang suami membuat Bulan terasa bosan. Keadaan rumah yang memang sudah rapi membuat wanita itu bingung harus melakukan apa saat ini.


Hingga pikirannya pun terfokus pada Bu Rini, perasaan yang tak enak itu justru membuatnya memikirkan satu nama.


“Apa aku ke rumah Bu Rini saja yah? Oh sebaiknya aku ke jualannya saja kan rame pasti bisa buat Ibu senang ada temannya.” Segera Bulan pun mengirimkan pesan pada sang suami usai bersiap.


Setelah mendapatkan balasan dari Pram untuk mengiyakan, akhirnya ia pun berinisiatif membawa mobil sendiri menuju tempat Bu Rini berjualan.


Dua puluh menit mengemudikan mobil, Bulan akhirnya tiba di sebuah pinggir jalan. Belum ia mematikan mesin mobil, tampak kedua manik matanya menatap ke sana kemari mencari gerobak yang sangat ia hapal bentuknya.


“Kan di sini tempat jualan Ibu? Atau pindah yah? Tapi nggak mungkin deh kalau pindahnya mendadak. Apa aku ke rumah saja? Oh iya sebaiknya aku ke rumah saja.” Kembali wanita itu melajukan mobil menuju rumah Bu Rini.

__ADS_1


Bulan turun segera kala melihat tiga gerobak jualan tak ada yang bergerak. Semua ada di depan rumah sederhana yang pernah ia tempati.


“Assalamualaikum, Ibu.” Panggilnya sedikit nyaring.


Bukan Bu Rini yang keluar namun Pak Kadir yang menyambut kedatangan Bulan. Pria itu datang dengan wajah tersenyum ramah.


“Neng Bulan. Ayo masuk, Rini sama Lesti di kamar.” jawabnya yang langsung di angguki oleh Bulan.


Merasa seperti rumah sendiri, Bulan pun masuk dan kembali memanggil Bu Rini.


“Bu, ini Bulan.” ujarnya.


“Bu, ibu menangis? Ibu kenapa? Bulan feeling nggak enak makanya kesini,” ia memegang kedua lengan Bu Rini.


Tanpa bisa berkata apa pun, Bu Rini sudah memeluk Bulan erat. “Bulan, Lesti…” wanita paruh baya itu menangis terisak.


Bulan yang sadar akan kesedihan Bu Rini tak bertanya lagi. Ia memberikan ruang untuk wanita itu melampiaskan kesedihannya. Bulan hanya menepuk pelan bahu Bu Rini.

__ADS_1


Hingga akhirnya pelukan pun terlerai. “Lesti, Bulan…”


“Bu, ayo duduk dulu. Kita bicarakan dengan tenang. Ibu jangan menangis lagi. Semua kita hadapi sama-sama. Ayo.”


Hingga dua wanita itu pun duduk di kursi bersampingan. Air mata Bu Rini kian jatuh terus menetes.


“Lesti…”


“Oh jadi ini wanitanya, dasar!” Lesti yang lari keluar dari kamarnya lantas menyerang Bulan.


Dengar brutal wanita itu naik di atas tubuh Bulan hingga beberapa kali melayangkan tamparan di wajah Bulan.


“Dasar kamu wanita pembawa sial!” Lesti murka tanpa menghiraukan lagi teriakan sang ibu.


“Lesti hentikan, Lesti. Apa yang kamu lakukan!” Bu Rini menarik kuat lengan sang anak.


“Ya Allah, ada apa ini?” Pak kadir pun berlari mendekati keributan. Pria itu sekuat tenagan mencengkram lengan Lesti yang sudah mendorong keras tubuh sang ibu.

__ADS_1


Bulan sama sekali tak bisa bersuara apa pun. Ia memegang lehernya yang sakit. Pipinya sangat merah dan air mata begitu banyak mengalir. Syok tentu saja membuat Bulan tak bisa berkata apa pun. Tanpa tahu apa yang terjadi ia mendapat serangan.


__ADS_2