Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Penyesalan


__ADS_3

Perjalanan yang memang tak memakan waktu lama, kini akhirnya sampai di rumah sakit. Dan buru-buru semuanya keluar dari mobil untuk menuju ruangan di mana Pram berada.


Sesuai yang sudah di beritahu jika Pram berada di ruangan UGD, beruntung pria itu sudah sadar saat baru saja dokter mengobati lukanya.


"Pram!" Sebagai seorang ibu, Usi sudah menangis sekencang-kencangnya melihat wajah tampak sang anak banyak luka yang menganga usai di berikan obat. Sungguh hatinya begitu terluka melihat Pram untuk pertama kalinya mendapat luka separah ini.


"Bu, aku baik-baik saja." ujar Pram tersenyum melihat sang ibu menangis di depannya. Ada perasaan rindu melihat sang ibu begitu mengkhawatirkan dirinya.


Sungguh Pram besar telah merindukan sosok ibu yang selalu menjaganya seperti telur yang tidak boleh pecah sama sekali. Hingga tanpa bisa menahan diri Usi memeluk sang anak yang masih terbaring di brankar rumah sakit.


"Pram, apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini? Apa ini karena Hawa? Opa tidak akan tinggal diam saja, Pram. Rumah tanggamu dan Bulan akan tetap baik-baik saja. Opa jamin hal itu." ujar Opa Rasja merasa bertanggung jawab atas semuanya.


Meski sebenarnya ia tidak begitu suka pada Bulan, namun mengingat wanita itu tengah hamil penerus keluarga mereka, tidak mungkin pria tua itu tega membiarkan rumah tangga sang cucu berantakan hanya karena keinginan mereka yang egois itu.

__ADS_1


Pram sejenak memejamkan matanya sebentar mengingat rentetan kejadia hingga akhirnya ia membuka matanya kembali menatap sang opa. Sementara pelukan Usi sudah terlepas dari tubuh Pram saat ini.


"Ini terjadi karena tidak sengaja lalai berkendara, Opa. Bukan salah siapa-siapa. Aku sedang menelpon anak buahku untuk menjaga Bulan, tapi karena tidak jelas aku sampai hilang pandangan ke arah jalan dan kecelakaan pun terjadi." ujar Pram membuat Opa dan Oma menghela napasnya kasar.


Beberapa saat berlalu hingga Opa Rasja menyadari akan sesuatu yang ia tunggu-tunggu. Matanya mengedar menatap pintu ruangan UGD namun tak juga terbuka.


"Ada apa, Pi?" tanya Oma melihat kegelisahan sang suami.


"Dimana cucu kesayangan mu itu? Kenapa belum membawa Bulan kemari juga? Ini sudah terlalu lama. Aku yakin Hawa pasti tahu di mana Bulan berada." ujarnya membuat Pram mengembangkan senyuman.


"Mungkin masih di jalan, Pi." sahut Oma acuh.


Tak mendengarkan ucapan sang istri, Opa Rasja justru menghubungi Hawa dengan tak sabarnya. Namun, detik berikutnya ia tampak menggerutu kesal saat mendengar panggilannya berkali-kali di matikan dari seberang sana.

__ADS_1


"Hawa benar-benar keterlaluan. Ini tidak bisa di biarkan, Pram di mana tempat Bulan berada? Opa yang akan memerintahkan anak buah Opa menjemputnya. Hawa bisa bertindak neka pada Bulan." Terlihat jelas saat ini Opa Rasja yang tampak sangat khawatir.


Dan Pram sangat suka itu. Bukan bermaksud menjadi cucu yang durhaka. Namun, ia sendiri tahu bagaimana dinginnya sang opa selama ini pada sang istri.


"Jangan Opa, biarkan aku sendiri yang menjemputnya nanti. Semua perlu di bicarakan sebab Bulan sudah sangat kecewa padaku, Opa. Aku sadar kesalahan yang ku perbuat tak layak mendapatkan maaf." Saat mengatakan hal itu Pram tampak menunjukkan wajah penyesalan yang teramat.


Bagaimana bisa dirinya tak mengakui kehadiran benihnya di rahim sang istri. Dadanya terasa tiba-tiba saja sesak menyadari hal yang tidak mengenakkan kala membayangkan kejadian beberapa waktu lalu. Sungguh, rasanya Pram sendiri tidak tahu harus berkata di mulai dari mana.


Kesalahan yang menurutnya sangat fatal dan masih beruntung dirinya tak melakukan gugatan cerai. Jika sampai Pram melakukan hal tersebut, penyesalan yang akan ia rasakan tentu tak akan bisa merubah apa pun saat semua sudah terbongkar.


Di sini seorang wanita yang di tunggu-tunggu kehadirannya justru tengah menghabiskan waktu dengan tidur di rumah temannya.


"Ya ampun ini orang malah tidur baru datang. Hawa! Haw, bangun!" ujar sang teman yang tak suka dengan kehadiran Hawa justru membuat kamarnya berantakan.

__ADS_1


"Hawa, bangun. Aku harus ke kafe hari ini." ujar sang teman yang merupakan pemilik salah satu kafe.


Namun, goyangan di tubuhnya itu tak membuat Hawa membuka matanya sedikit pun. Lelah meminta maaf pada keluarga membuat Hawa sangat mengantuk. Padahal menangis merasakan penyesalan pun tidak sedikit ia lakukan.


__ADS_2