
Meski bibir selalu berkata tidak, bahkan kerap kali melontarkan kata amarah. Nyatanya kasih sayang Pram pada sang istri tidaklah secepat itu menghilang. Ia sudah berada di rumah sakit saat ini. Menunggu dengan gelisah informasi yang di berikan wanita di depannya saat ini.
"Maaf, Tuan. Pasien atas nama Nyonya Bulan sudah tidak di rumah sakit. Baru saja beliau mengurus penyelesaian administrasinya." terang wanita itu.
"Apa yang terjadi? Dari laporan penggunaan kartu tadi bukan periksa kandungan saja." tutur Pram begitu penasaran.
Sang wanita yang bekerja itu pun menjelaskan pada Pram jika Bulan mengalami kontraksi palsu akibat keadaannya yang sepertinya tegang. Dan semuanya sudah kembali membaik seperti semula. Helaan napas Pram pun ia hembuskan kasar.
Setidaknya ia sudah mengetahui jika Bulan baik-baik saja. Tanpa kata pria itu pun memilih pergi dari rumah sakit dan kembali ke perusahaannya. Sepanjang jalan bahkan Pram terus berpikir tentang wanita yang masih utuh namanya di dalam hatinya saat ini.
"Mengapa aku harus sepanik ini? Bahkan itu adalah anak orang lain. Tidak, aku tidak boleh lemah. Sebentar lagi perceraian akan berlangsung. Kuat, Pram. Kau tidak boleh sampai terperdaya oleh cinta buta ini." gumamnya memperingati diri sendiri.
Sementara di tempat yang berbeda.
Bulan meneteskan air matanya kala ia sudah duduk di kursi sederhana di rumah Bu Rini.
"Bulan, ada apa?" tanya Bu Rini cemas.
Bulan masih menunduk tak berani menatap wajah Bu Rini saat ini. Perasaannya begitu merasa bersalah. Usaha mereka yang tidak seberapa untungnya justru harus hancur karena masalah Bulan yang berurusan dengan kakak iparnya.
"Bu, ini uang yang saya berhasil minta pertanggung jawabannya. Saya yakin ini masih belum cukup untuk mengganti kerugian itu. Tapi saya akan berusaha mencari tambahan setelah ini." tutur Bulan membuat Bu Rini menggelengkan kepalanya.
"Kamu menangis karena ini, Bulan? Ya ampun Ibu kira karena apa. Sudah itu bukanlah sebuah masalah. Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Bu Rini lagi.
Hening sejenak sebelum Bulan mengusap air matanya. "Kaka ipar saya, Bu. Saya juga tidak tahu apa yang membuat dia datang dan mengacaukan semuanya. Mereka benar-benar belum puas menyakiti saya selama ini, Bu." Bulan sebelumnya sudah banyak bercerita pada Bu Rini.
Bukan bermaksud untuk membuka aib keluarganya. Namun, selain Bu Rini ia merasa tak memiliki orang yang dekat dan tulus padanya.
__ADS_1
"Sudah, sekarang serahkan semua pada sang kuasa. Tidak usah mengumpat atau melawan mereka. Kita orang yang tidak memiliki apa-apa tidak akan menang melawan mereka keculai kehendak Tuhan. Yang sabar, Ibu yakin ada saatnya mereka benar-benar menyesal, Bulan. Bersabarlah, Nak."
Kedua wanita berbeda usia itu tampak saling memeluk memberikan kekuatan. Hingga akhirnya Bu Rini memutuskan untuk mengajak Bulan ke rumah sakit yang berbeda. Ia tidak ingin meninggalkan Bulan seorang diri di rumah. Sudah pasti Bulan tak akan tinggal diam jika ia memerintah untuk beristirahat. Bulan dengan kuat akan mencari pekerjaan sampingan lagi.
"Kita siap-siap ke rumah sakit saja, yuk? Kamu maukan temani Ibu ke rumah sakit?" tanya Bu Rini saat melihat Bulan tersenyum dan tidak sedih lagi.
Segera wanita cantik itu menganggukkan kepalanya. "Ayo, Bu. Biar Bulan temani. Kapan-kapan Bulan juga mau kok ganti Ibu yang ke rumah sakit." tuturnya dengan senang hati.
Usai bersiap dan berganti pakaian, Bulan menemui Bu Rini yang menunggunya di teras depan rumah. Keduanya berjalan keluar gang rumah untuk mencari angkutan umum.
Semua kejadian pagi ini seakan tak lagi membekas di ingatan Bulan. Tanpa ia tahu jika sang suami yang tengah uring-uringan di kantor beberapa kali memarahi para pekerjanya.
“Duh si Bapak hari ini marah mulu.” keluh salah satu karyawan usai keluar dari ruangan kerja Pram.
“Habis di marahin juga? Baru aja gue di lempar map.” sahut salah satu karyawan.
Anggukan lirih ia lihat. “Semoga hari ini cepat berakhir. Nunggu jam pulang kerja lama banget lagi.” Mata beberapa karyawan yang mendapatkan teguran tampak menatap jam dinding.
Berbeda jika ingin waktu lebih lama, maka pergantiannya akan terasa sangat cepat.
“Ada apa kalian?” Suara seorang wanita yang terdengar ketus membuat beberapa pekerja itu terlonjak kaget.
“Kerja, jangan merugikan perusahaan.” Ia adalah Hawa, kakak perempuan sang pemimpin yang bahkan kerjaannya pun tidak jelas sampai saat ini.
Berlenggak lenggok menuju ruangan sang adik, Hawa tak merasa bersalah sedikit pun tengah berbicara ketus pada orang lain.
“Gimana mau laku mulutnya aja pedas kayak cabe rawit.” celoteh mereka sembari ada yang mengangguk mengiyakan. Dan ada pula yang menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Perawan tua wajar saja. Bukankah malah dia yang merugikan perusahaan. Untung saja Pak Pram sudah menonaktifkan kartu kreditnya. Bisa bangkrut perusahaan kita kalau nombokin pengeluaran wanita macam dia.”
Hingga langkah kaki Hawa berhenti di depan pintu ruangan kerja sang adik.
Tok tok tok
Ketukan yang ia lantunkan membuatnya segera membuka pintu. “Pram,” sapanya dengan senyuman di wajah.
Bukannya mendapatkan sambutan hangat layaknya adik dan kakak. Hawa justru melihat tatapan tajam sang adik. Bahkan wajah Pram tampak merah kala itu.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” Gugup tentu saja Hawa rasakan saat melihat bagaimana sangarnya wajah sang adik serta ruangan yang sangat kacau saat ini.
Beberapa kali Hawa berusaha menerbitkan senyuman di wajahnya yang selalu membuat senyuman itu lenyap kala rasa takut dalam tubuhnya lebih dominan.
Braak!!!
Suara satu buah laptop pecah di depan kaki Hawa saat itu juga. Tak bisa lagi Hawa berbohong untuk tersenyum. Tubuhnya bergetar. Seumur hidup ia tak pernah mendapatkan amukan atau bentakan dari seseorang termasuk sang ayah.
Dan kini sang adik justru membuatnya sangat ketakutan. Sontak saja air mata Hawa terjatuh begitu saja.
“Pram, ada apa? Mengapa kau melakukan ini? Kakak akan adukan perlakuanmu ini pada Ibu.” Berusaha mencari perlindungan nyatanya kini Pram sudah berdiri tepat di hadapan Hawa.
Tubuh Hawa menegang sempurna. Dengan sigap Pram sudah mencengkram kedua bahu sang kakak. Memberi perintah untuk keduanya saling menghubungkan mata.
“Apa yang kakak lakukan?” Pertanyaan Pram membuat Hawa bingung.
Wanita itu menggelengkan kepala tak mengerti.
__ADS_1
“Maksud kamu apa, Pram? Melakukan apa?” Suara Hawa yang bergemetar membuat Pram semakin naik pitam rasanya.
Bahkan keributan di ruangan itu membuat suara gaduh keluar dari ruangan. Pram tak lagi perduli saat ini. Di luar sana banyak telinga yang berusaha mendengar setiap perdebatan sang atasan.