
Sadar akan salah jalan, akhirnya Oma Wulan menunduk dan menganggukkan kepalanya lirih. Ia sungguh bersalah dalam hal ini. Ia pun kini menyadari apa yang ia perbuat ternyata justru semakin memperburuk keadaan. Terlalu menyayangi sang cucu sampai tidak membuka mata lebar-lebar melihat kesalahan yang telah ia perbuat.
“Maafkan aku, Pi. Aku bersalah. Aku telah salah memberikan Hawa jalan. Aku yang bersalah, tapi sumpah demi Tuhan. Aku tidak tahu jika Hawa memiliki rasa pada Pram.” Ia menyesali perbuatannya dan mengakui semua yang telah ia perbuat.
“Mami, apa yang Mami lakukan?” Usi bahkan sudah memegang erat tangan Oma Wulan lantaran tak sabar mendengarkan semuanya.
“Mami dan Hawa yang sudah menjebak Bulan malam itu. Mami salah, maafkan Mami, Pi.” Wanita tua itu memohon pada sang suami yang sudah sangat murka saat ini.
Wajah tua nan keriput itu tampak memerah menatap sang istri. Rasanya sungguh ingin mengamuk, namun ia sadar usia mereka tak lagi muda. Akan ada banyak hal buruk yang terjadi jika mereka menggunakan emosi saat ini.
“Dimana Hawa?” Pertanyaan Opa Rasja membuat Usi menggeleng cepat.
__ADS_1
“Hawa tidak ada, Pi. Kamu dari kamarnya mencari hingga akhirnya menemukan foto itu.” jawab Usi.
“Siti, telpon Hawa dan kamu Usi telpon Pram. Suruh mereka semua pulang sekarang juga.” tutur Opa Rasja yang menghela napasnya kasar.
Kepalanya yang sudah lama tak memikirkan apa pun tiba-tiba saja terasa pening dan berat. Sejenak ia memijat pelipis demi menghilangkan pening itu.
“Mi, sudah tak perlu menangis. Pertanggung jawabkan semuanya saat mereka datang nanti. Dan pertanggung jawabkan semuanya pada Bulan.” Keras kepala Oma Wulan biasanya yang selalu Opa Rasja lihat kini lenyap seketika.
Singkat cerita, kini di ruangan keluarga. Semua telah berkumpul kecuali Paman Riyo. Pria itu tengah sibuk bekerja dan tak juga di butuhkan di rumah ini. Sebab ada istri yang harus ia pertanggung jawabkan kehidupannya.
Pram yang mendengar sontak mengerutkan keningnya heran. Ada hal apa yang mengharuskan dirinya pulang saat ini. “Ada apa ini, Opa? Oma?” tanya Pram menatap satu persatu dari mereka.
__ADS_1
Begitu juga dengan Hawa yang jelas tidak tahu sama sekali ada kejadian apa di rumah.
“Duh…Oma ada apa sih? Aku tuh masih sibuk di rumah teman.” keluh Hawa yang tampak kesal di suruh pulang tanpa di beritahu yang sebenarnya.
“Pram, Oma ingin mengakui tentang kejadian di hotel malam itu.” ujar Oma Wulan yang membuat wajah Pram semakin penasaran dan serius.
“Oma!” Pekik Hawa yang terfokus begitu saja. Dalam pikirannya ini pasti masalah Bulan malam itu.
“Omalah yang melakukan semuanya, Pram. Oma yang mengatur segalanya hingga Bulan harus tertuduh selingkuh. Maafkan Oma, Pram.” Oma Wulan menggetarkan bahunya saat mengakui kesalahannya di masa lalu.
Sementara Pram tampak membulatkan matanya tak percaya. Bagaimana mungkin Oma yang ia percaya justru dalang di balik ini semua.
__ADS_1
Pram menggelengkan kepalanya. Bahkan air matanya jatuh membayangkan bagaimana kehidupan sang istri saat ini saat tengah mengandung anaknya justru harus berjuang mati-matian di luar sana.
“Oma, apa ini Oma? Apa maksudnya ini, Oma?” tanya Pram yang menahan gemuruh di dalam dada saat menghadapi sang oma.