
"Bu, tidurlah lagi. Bulan hanya ingin mencari sapu tadi di kamar ada rambut rontok Bulan yang mau di sapu." tuturnya yang membuat Bu Rini akhirnya memilih tak ikut campur.
Sebagai orang yang lebih dewasa ia akan memberikan Bulan ruang berpikir menentukan pilihannya. Dan Bu Rini yakin Bulan adalah wanita yang bijak dalam mengambil keputusan. Hingga akhirnya Bulan kembali menyingkap gorden melihat bayangan tubuh Pram yang terlelap dalam mobil.
"Kasihan Mas Pram, maafkan aku, Mas. Aku ingin memberikan kamu waktu untuk menyesali semuanya dan tidak dengan mudah meragukan ku lagi. Di dalam sini ada anak yang akan menjadi tanggung jawabmu kelak. Aku tidak ingin engkau sia-sia kan dia di waktu mendatang kala fitnah lain datang menerpa hubungan kita." gumam Bulan menatap sedih sang suami yang tidak tahu.
Hingga akhirnya Bulan berusaha tega meninggalkan sang suami kembali ke kamarnya untuk tidur. Kini kedua mata Bulan akhirnya bisa tertutup dengan sempurna.
***
Pagi hari yang cerah tampak seluruh keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan. Namun, mata mereka menatap satu kursi yang biasa tempat Pram duduk sarapan.
"Apa dia belum pulang semalaman?" tanya Opa Rasja menyadari sang cucu laki-laki tak ada.
__ADS_1
"Belum, Pi. Sepertinya Pram menginap di tempat istrinya." ujar Usi yang menduga Pram akan berjuang membawa istrinya kembali pulang.
Pelan Opa Rasja menganggukkan kepalanya.
Di sini orang yang tengah di bicarakan tampak sudah bersih dari wajah bantal meski baju yang ia kenakan bukanlah baju yang semalam.
"Di minum tehnya, Tuan." ujar Bu Rini memberikan teh hangat pada Pram pagi ini.
Pram sudah duduk di kursi ruang tamu sederhana milik Bu Rini. Beberapa kali matanya melirik ke arah kamar yang Bu Rini tunjuk sebagai tempat Bulan. Nampaknya istrinya itu belum juga bangun padahal waktu sudah menunjukkan angka setengah tujuh pagi.
"Bergadang, Bu? Melakukan apa?" tanya Pram khawatir.
"Saya juga tidak tahu, Tuan." jawab Bu Rini tak ingin membuat Bulan malu di depan suaminya jika semalam ia kepergok mengintip sang suami tidur dari jendela rumah.
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu sarapan buburnya di makan yah, Tuan. Saya harus pergi jualan sama Lesti." ujar Bu Rini yang membiarkan begitu saja Pram di rumahnya menunggu Bulan untuk bangun.
Pram pun menganggukkan kepalanya patuh dan membiarkan dua wanita itu berangkat dengan gerobak masing-masing yang mereka dorong.
Kepergian Bu Rini membuat Pram leluasa menikmati sarapannya seorang diri. Hingga suara Bulan yang bergegas menuju kamar mandi membuat pria itu menghentikan sarapannya.
"Bulan?" sapa Pram.
Bulan terdiam di tempatnya. "Mas Pram? kenapa masih di sini?" tanya Bulan kaget bahkan kini ia bisa melihat pakaian sang suami sudah berganti dari yang semalam. Itu artinya sang suami sudah mandi. Mengingat kata mandi segera Bulan berjalan cepat menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban sang suami lantaran malu membayangkan wajah lusuhnya saat ini.
Pram menggelengkan kepala tersenyum. Istrinya benar-benar membuatnya sangat rindu.
Singkat cerita kini Bulan telah selesai dengan pakaian, tak lupa ia mengunci pintu kamar saat bersiap dan kini ia sudah hendak pergi berjualan.
__ADS_1
"Bulan, biar Mas yang bantu." ujar Pram yang sebenarnya ingin melarang sang istri jualan. Namun rasanya tidak mungkin Bulan menurut sebab ia sadar akan kesalahannya di waktu lalu.
Tak semudah itu Bulan menurut padanya. Suami yang sudah menelantarkan sang istri karena ragu dengan benih yang ia kandung.