Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Trik Gagal


__ADS_3

Berbeda halnya dengan Bulan dan Pram yang kini tengah asik menikmati jalan-jalan ke berbagai tempat ramai. Hingga tanpa terasa mereka menghabiskan waktu di luar sampai malam hari. Pram sadar keadaan istrinya yang tengah hamil dan ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Bulan mau pun calon anak mereka.


"Bulan, kita pulang sekarang. Besok kita jalan lagi. Kau harus istirahat." Mendengarnya Bulan pun patuh. Ia mengikuti keinginan sang suami untuk pulang ke hotel.


Jika kebanyakan wanita akan takut menuju ke hotel sebab keganasan sang suami, berbeda dengan Bulan yang tampak tenang. Pram sudah berjanji tidak akan sering meminta hal itu dan jika melakukannya pun akan sangat lembut.


"Ini susunya di minum dulu baru setelah itu kita tidur." Setibanya di hotel mereka berdua tampak menikmati fasilitas mandi dengan baik. Dan mengganti pakaian dengan piyama lalu menuju ke tempat tidur. Sebagai suami siaga, Pram mulai membuktikan dengan membuatkan susu hamil untuk sang istri.


Perputaran waktu yang begitu cepat, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam. Merasa kantuknya hilang, Bulan membuka mata dan menatap wajah teduh pria yang memejamkan mata di depannya saat ini. Ada senyuman yang terbit di bibir wanita itu kala melihat tangan kekar sang suami masih betah melihgkar di perutnya. Moment yang selalu membuatnya rindu ketika mereka berpisah selama ini.


"Aku sangat rindu kamu, Mas." tutur Bulan sembari mengusap lembut rahang tegas milik Pram.


"Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi, aku benar-benar sakit setiap kali mengingatnya, Mas. Aku sungguh tidak ingin perpisahan itu terjadi." ujar Bulan lirih.


Tangannya begitu betah memegang rahang sang suami. Semula ia bangun ingin beranjak dari tempat tidur. Namun, melihat betapa erat sang suami memeluknya akhirnya Bulan mengurungkan niat untuk turun dari ranjang. Lama kelamaan mata yang terang itu mulai terpejam kembali.


Tanpa mereka perduli bagaimana keadaan Hawa yang semakin putus asa di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Brengsek! Sialan, harusnya Pram datang kemari bersama Ibu saja, bukan dengan wanita ular itu!" makinya dalam hati.


Sebuah rencana yang sudah ia pikirkan sejak lama akhirnya terjadi, keadaan yang sengaja ia buat sakit dan membuat sang ibu mau tak mau akan datang untuknya. Namun, kedatangan yang sesungguhnya ia harapkan adalah kedatangan Pram.


Beberapa kali Hawa menjambak rambutnya, kemarahan yang begitu berkobar sulit ia redakan saat ini. Tatapan mata wanita itu begitu kejam terlihat. Hingga akhirnya ia memilih untuk mencari ponsel. Di sana Hawa melacak keberadaan Pram.


"Sialan! Kenapa passwordnya sudah di ganti?" kembali Hawa mengamuk melempar segala botol parfum kaca miliknya ke dinding kamar.


Selama ini tanpa Pram ketahui jika sang kakak sering melacak keberadaan Pram melalui email milik Pram sendiri. Hawa sebelumnya selalu menjadi orang kepercayaan Pram. Namun, tanpa Hawa ketahui sejak Pram tahu semuanya pria itu pun segera menutup akses apa pun yang ia ingat tentang sang kakak.


"Hawa, keluarlah. Ayo makan, Nak." Usi di luar sana yang tidur terkejut mendengar amukan sang anak kembali di tengah malam. Rasa khawatir sebagai seorang ibu membuatnya serba salah saat ini.


Lama menunggu, Hawa tak memberikan jawaban apa pun.


***


Sedangkan di kediaman Bu Rini.

__ADS_1


"Kak Fahmi cari siapa?" tanya Lesti saat melihat Fahmi yang sejak kedatangannya tampak menoleh sana sini di ruang tamu.


Kedatangannya siang ini membuat Lesti kaget, sebab ia dan sang ibu baru saja pulang berjualan. Sontak saja mendapat pertanyaan dari sang kekasih membuat Fahmi kaget setengah mati.


"Em tidak, kok kalian jualan hanya berdua?" tanyanya basa basi.


Lesti yang tidak menaruh curiga apa pun tampak menganggukkan kepala. "Oh itu...Mba Bulan kan sudah di jemput suaminya, Kak. Mas Pram namanya, mereka sudah baikan jadinya Mba Bulan pulang deh ke rumahnya. Bahkan mereka sempat pamit mau keluar negeri." cerita Lesti yang membuat wajah Fahmi mendadak muram.


Dari cerita Lesti saja ia bisa mendengar bagaimana suami Bulan begitu orang berada. Sepertinya tak sebanding dengannya.


"Oh jadi Bulan itu sudah punya suami?" tanya Fahmi menganggukkan kepalanya.


Dengan senyuman di wajah Lesti pun bertanya, "Memang kenapa, Kak? Apa Kakak suka sama Mba Bulan?" pertanyaan yang tanpa Lesti duga membuat wajah Fahmi seketika gugup dan kaku ingin bicara apa saat ini.


"Hah? Suka? ah em ng-nggak lah..."


Lesti terkekeh melihat ekspresi sang kekasih. "Ya ampun Kak Fahmi kok gitu sih? Aku kan cuman bercanda. Kenapa serius gitu mikirnya? Lagian siapa sih yang nggak suka sama Mba Bulan? Aku saja yang sesama wanita suka lihat wajahnya cantik banget adem gitu."

__ADS_1


Tanpa di sadari keduanya, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan percakapan mereka.


__ADS_2