Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Pengakuan Pram


__ADS_3

Bu Rini dan Lesti yang mendengar suara dari belakang mereka sontak refleks membuat kedua tubuh mereka berbalik. Di sana Bulan sangat tampak menyedihkan, tanpa berkata apa pun hanya air mata yang mereka lihat. Bahkan Pram sendiri bisa melihat begitu pilu sang istri saat tak bersamanya. Tubuhnya yang tak berisi lagi dengan leher yang tampak memanjang serta rambut indah yang biasa tergerai kini sudah tergelung acak-acakan.


"Bulan," ucap Pram pada akhirnya segera berlari masuk tanpa permisi bahkan tak perduli bagaimana kakinya yang masih melekat alas kaki di sana. Tubuh tegap itu memeluk erat tubuh sang istri yang sangat di rindukan. Wanita yang selalu menyiksa batin dan pikirannya selama keduanya tak bersama.


Mendapat pelukan tiba-tiba dan begitu erat tentu saja Bulan sangat kaget. Lantaran sebelumnya ia berpikir jika sang suami datang membawakan surat gugatan cerai. Nyatanya tidak, ia justru di antarkan pelukan hangat dan nyaman kini.


"Maafkan aku, Bulan. Maafkan aku yang tidak mendengar penjelasanmu. Aku suami bodoh, Bulan." Pram terdengar merutuki dirinya terus sembari mengeratkan pelukannya. Bahkan Bulan terlihat kesulitan bernapas saat ini. Beberapa kali tangannya memukul pundak sang suami untuk di lepakan. Namun, Pram justru salah paham. Pria itu mengira Bulan tengah mengusap punggungnya. Menyandarkan kepala pria itu pada pucuk kepala sang istri sembari memejamkan mata.


Pram benar-benar larut dalam pelepasan kerinduannya pada sang istri. Hingga ia tidak sadar jika semua keluarga telah datang ke dalam rumah itu.

__ADS_1


"Pram, meminta maaf jangan sampai melenyapkan nyawa istrimu." ujar Opa Rasja yang membuat Pram kaget dan menoleh ke arah sang keluarga.


Ia mengerutkan kening dan baru menyadari saat matanya menatap sang istri yang memohon padanya untuk di lepaskan. "Maaf, Bulan. Mas tidak tahu." tuturnya segera meregangkan pelukan itu tanpa melepasnya.


Bulan hanya diam, ia justru merasa tak nyaman melihat keluarga sang suami datang di rumah Bu Rini. Rasanya Bulan sungkan untuk memasukkan mereka semua ke rumah orang yang sudah begitu baik menolongnya selama ini.


Namun, Oma Wulan yang justru tahu ini tidak semudah pikiran Pram. Akhirnya melangkah mendekat pada sosok Bulan dan Pram. Pelan, Bulan mendorong tubuh sang suami saat melihat sosok Oma Wulan yang tak pernah bicara padanya selama ini.


Takut, tentu saja Bulan takut ia tidak ingin membuat keributan. Terlebih baginya ia saat ini sudah jauh lebih tenang bersama keluarga yang baik dan menerimanya dengan tulus.

__ADS_1


"Bulan," Untuk pertama kalinya Oma Wulan mengeluarkan suara di depan Bulan. Dan suara itu terdengar bergetar. Entah Bulan tidak tahu apa penyebabnya.


Yang jelas saat ini Bulan berusaha menjauh, tubuhnya tanpa ia tahan bergerak ke belakang Pram. Sebab saat ini hanya pria inilah yang bisa melindungi dirinya dan sang anak. Bulan tidak ingin anak yang masih baru ingin berkembang terhambat lantaran perlakuan kasar wanita tua ini.


Melihat Bulan yang takut, Oma Wulan sangat sedih. Susah payah ia melangkah kan kakinya tanpa memakai tongkat atau pun kursi roda, namun justru Bulan bereaksi semenyedihkan itu padanya.


"Bulan, Oma ingin bicara. Dia tidak akan melukaimu atau pun anak kita." Penuturan Pram barusan justru membuat Bulan sangat kaget bahkan wajahnya menatap sang suami yang menatap Oma Wulan saat ini.


Tentu saja Bulan kaget, ia tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya saat ini? mengapa suaminya yang sudah tega mengusir Bulan dari rumah justru kini tengah mengatakan anak yang Bulan kandung adalah anaknya. Tidak, Bulan tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan.

__ADS_1


__ADS_2