
Mendorong gerobak dengan pakaian formal sungguh tak pantas rasanya di pandang mata pagi ini. Bulan bahkan yang berjalan di belakang pria bertubuh tegap kini hanya memandang penuh kerinduan. Bahu tegap yang sebelumnya berhasil menghalau rasa dingin yang menyerang tubuh Bulan. Kini Bulan ingin sekali masuk ke dalam pelukan sang suami, namun ia sadar. Semua harus membutuhkan waktu untuk baik-baik saja. Ia tidak boleh terlalu mudah luluh sebab Pram berhak mendapatkan ujian sebelum semuanya membaik. Agar kemudian hari pria itu tak semudah itu lagi menuduh Bulan.
"Belok ke kanan, Mas." pinta Bulan dan Pram pun menurut.
Keduanya berjalan cepat menuju tempat Bulan akan berjualan pagi ini. Setelah beberapa menit keduanya berjalan kaki dengan gerobak yang di dorong Pram. Akhirnya mereka telah sampai di tempat tersebut.
"Duduk di sini, biarkan Mas yang mengatur kursi ini." ujar Pram bergerak cepat mencegah Bulan mengangkat kursi plastik.
Bulan pun duduk di kursi dan melihat sang suami menata satu persatu kursi plastik itu. Ia tak peduli bagaimana sang istri menatapnya.
"Mba, mau bubur ayamnya satu tapi di bungkus saja." ucap salah seorang remaja yang tampaknya baru usai olahraga pagi dengan kostum training di tubuhnya.
Dengan sigap Bulan bangkit dari duduknya lalu tersenyum. Kali ini Pram tidak mencegah sebab ia belum tahu apa saja yang harus di lakukan untuk membungkus bubur ayam dan takaran jualannya. Hingga akhirnya Bulan bergerak untuk membuatkan, Pram berdiri di samping Bulan memperhatikan satu demi satu yang yang istri ambil.
Satu kali melihat, Pram benar-benar mengingatnya. Tak lama kemudian datang dua orang lagi.
"Mba Bulan, saya mau dua mangkok buburnya yah makan di sini. Dan satu lagi di bungkus." ujar wanita itu.
__ADS_1
"Oh iya kuahnya di pisah yah, Mba Bulan?" pinta pembeli tadi. Hingga Pram yang baru saja menghapal semuanya buyar melihat pesanan yang berbeda lagi. Jika kuahnya di bedakan itu artinya ia harus membuat bungkusan baru lagi.
"Sayang, diamlah di sini. Ini duduk di sini saja. Beri tahu saja aku apa yang harus ku bungkus." pinta Pram namun Bulan rasa ini adalah waktu yang tidak tepat untuk menurut saja.
"Sudahlah, Mas. Duduk saja, pembeli keburu pergi kalau Mas yang jualin." ujar Bulan tak sabaran segera menyediakan bubur untuk di makan dan di bungkus. Pram hanya berdiri bingung, rupanya menghapal saja tidak cukup untuk bisa membantu sang istri. Latihan tentu akan sangat di perlukan.
Hingga akhirnya Pram yang tadinya berniat menggantikan pekerjaan sang istri justru hanya bisa jadi pelayan untuk mengantarkan bubur. Bahkan hari semakin siang, pembeli semakin banyak. Beberapa kali Bulan tampak menyeka keringat kecil yang basah di lehernya.
"Bulan, sebaiknya kita pulang saja. Kamu sudah kelelahan." ajak Pram yang tidak tega melihat sang istri berkeringat sementara pembeli terus berdatangan.
Bulan tersenyum kecil mendengar kekhawatiran sang suami. Ia tahu bagaimana Pram begitu cemas padanya. Terlebih ia sedang hamil saat ini. Namun, Bulan tidak mungkin pulang dan mengecewakan para pembeli yang sudah menunggu. Lagi pula ini adalah kesempatannya berjualan lebih lama sebab ada sang penyemangat yang turut membantunya mengantar jualan.
"Mba Bulan, ini suaminya yah? Kok baru kelihatan sih? Ganteng banget lagi." puji pembeli membuat Bulan hanya tersenyum tanpa menjawab.
Sebab jika ia mengakui Pram adalah suaminya, tentu saja pria itu akan besar kepala dan mengira ia sudah mendapatkan maaf dari Bulan.
Hingga mentari beranjak semakin tinggi, Bulan akhirnya memutuskan pulang usai penjualan bubur ayam hari ini benar-benar habis tak bersisa. Pram turut membantu mengemasi mangkok dan juga kursi.
__ADS_1
"Bulan," panggilan dari seorang pria membuat Bulan dan Pram berhenti dari kegiatannya.
"Kak Fahmi? Kenapa di sini?" tanya Bulan melihat pria yang sangat ia tidak suka mendatanginya.
"Siapa dia? Apa dia alasan kamu menolak saya?" tanya Fahmi yang membuat Bulan menghela napas kasar.
"Kak, apa kamu tidak sadar? Kamu itu sudah mau menikahi Mba Lesti. Apa masih pantas bertanya apa alasan saya menolak kamu? Saya ini sudah bersuami." tutur Bulan seketika membuat Pram membulatkan mata marah mendengar Fahmi rupanya tengah mengejar sang istri yang berbadan dua saat ini.
"Suami? Kamu jangan bercanda Bulan. Saya tidak percaya." ujar Fahmi terkekeh. Apalagi ia melihat penampilan Pram yang begitu berkelas beda dengan Bulan yang sangat sederhana.
"Mba Lesti berjualan di ujung gang itu. Apa perlu saya panggil ke sini untuk melihat siapa calon suaminya sebenarnya?" tutur Bulan mengancam hingga membuat Pram geram dan maju mendekat.
"Bulan, siapa dia?" tanya Pram tak meminta izin sudah merangkul pinggan berisi sang istri.
Kejadian itu membuat degub jantung Bulan dan Pram berdetak kencang bersamaan. Ada getaran kerinduan yang membuat mereka sama-sama merasakannya namun masih berusaha menahan diri. Melihat kedekatan keduanya, Fahmi segera pergi tak berniat untuk menemui sang kekasih yang juga tengah berjualan di tempat berbeda.
"Jadi dia pacar anak Bu Rini? Sekarang pulang bersama Mas. Mas tidak ingin lagi kamu bertemu pria seperti itu, Bulan. Bahaya." peringat Pram yang membuat Bulan langsung mendorong tangan sang suami dari pinggangnya.
__ADS_1
Bulan tak bersuara. Ia bergerak mengemasi barang dan ingin mendorong gerobak. Secepat kilat Pram mengambil alih gerobak dan mendorongnya untuk di bawa pulang kembali.