
"Itu artinya yang di kandung adalah anakku?" pertanyaan Pram takut-takut di jawab oleh Oma Wulan dengan menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar tak sanggup untuk menatap wajah sang cucu saat ini.
"Hawa dan Oma yang mengatur semuanya, Pram. Oma tidak tahu jika ini akan terjadi. Oma tidak tahu sama sekali tentang kakakmu yang memiliki rasa denganmu." ujarnya berusaha jujur meski ia sendiri tidak tahu apakah Pram akan percaya lagi dengannya.
Semua sangat tidak habis pikir, bahkan semua mata di ruangan itu kini terfokus pada satu orang, yaitu Hawa. Semua tatapan tajam itu membuat Hawa tak berkutik sama sekali. Tangannya yang biasa ia gunakan untuk menyakiti orang, memukul meja serta menghamburkan uang kini hanya bisa ia gulung di ujung bawa baju menahan kegugupan.
Terlebih kini sang opa sangat menahan amarahnya melihat sang cucu bertingkah melebihi orang gila.
"Hawa, besok berangkatlah ke tempat yang Opa sediakan. Kemasi barangmu saat ini juga sebab tiket akan opa siapkan saat ini juga." Hawa yang semula menundukkan kepalanya seketika mendongak menatap pria tua di depannya saat ini.
Air mata Hawa jatuh, dadanya sesak mendengar sang opa seakan ingin mengasingkan dirinya. Bahkan perasaannya pada sang adik pun tak terbalaskan. Sungguh ini bukan yang Hawa harapkan selama ini. Segera wanita itu bergerak maju dan berlutu memohon ampun pada sang opa.
"Opa, maafkan Hawa. Maafkan Hawa, jangan usir Hawa, Opa." ujarnya menangis di pangkuan sang opa Rasja. Sayangnya semua sudah terlambat, sebelum terlalu jauh Hawa bertindak dan merugikan banyak orang, Opa Rasja harus segera bertindak.
Sedangkan Pramudya, kini pria itu sudah bergegas melajukan mobilnya menuju tempat Bulan berada saat ini. Yah, wanita itu tengah tidak berjualan sebab pergi ke rumah sakit. Hanya Bu Rini yang berjualan hari ini. Gerobak bubur pun tinggal satu sebab yang Hawa rusak masih belum selesai di perbaiki.
__ADS_1
"Halo," Tampaknya Pram tengah menghubungi seseorang saat mengendarai mobilnya itu.
Beberapa kali ia berucap namun suara di seberang sana tak terdengar jelas.
"Halo," Lagi Pram menunggu jawaban yang terdengar seperti putus-putus.
"Hah ada apa sih ini? Mana mungkin jaringan yang jelek. Itu masih daerah kota." gerutunya kesal melirik ponsel dan kembali melakukan panggilan. Namun, Pram tak fokus pada kemudinya hingga ia pun tidak sadar jika mobil yang ia kendarai sudah mengarah ke jalur lain.
Tin Tin Tin
Siang itu, keadaan jalan sangat ramai. Seluruh pengguna jalan antusias melihat kecekalaan yang terjadi antara mobil dan mobil.
Pram sudah tidak sadarkan diri dengan beberapa luka di wajah akibat pecahan kaca. Beruntung keadaan mobil keduanya sama-sama tidak begitu laju. Sehingga kecelakaan pun tidak begitu parah.
Singkat cerita keluarga di rumah tampak kaget saat mendengar kabar dari pihak rumah sakit.
__ADS_1
Belum usai kemarahan Opa Rasja, kini kabar sang cucu kecelakaan sukses mengobrak abrik perasaan pria tua itu. Ia bahkan sampai memijat kepalanya yang terasa pusing akibat kejadian hari ini.
Usi yang mendengar sudah tak kuasa menahan tangis. Hanya satu orang saja di sana yang tampak baik-baik saja, yaitu Tante Siti.
Tanpa menunggu lama semua sudah bergegas menuju rumah sakit dengan Hawa yang juga turut ikut. Semua tampak panik tentu tak memiliki waktu lagi mengurusi Hawa.
Saat semua keluarga telah masuk ke dalam mobil, kini Opa Rasja justru menghentikan supir yang hendak melajukan mobilnya.
"Pak, stop dulu." ujar Opa Rasja.
"Ada apa, Pi?" tanya Usi tak sabar jika harus menunggu lama untuk menuju rumah sakit.
Opa menatap Hawa di belakangnya melalui kaca spion. "Kamu jemput Bulan. Bawa dia ke rumah sakit menjenguk suaminya. Pertanggung jawabkan perbuatan kamu, Hawa. Opa tidak pernah mengajari cucu Opa untuk lepas tanggung jawab." pintah Opa Rasja yang membuat Hawa mau tidak mau harus turun dari mobil saat itu juga.
Seperginya Hawa dari mobil itu, kendaraan roda empat itu segera melaju meninggalkan Hawa seorang diri yang mengumpat kesal.
__ADS_1
"Sial, kenapa harus aku sih? Nggak, aku tidak akan mau meminta maaf pada wanita itu. Biarkan saja mereka bertemu sendirinya." ucap Hawa yang justru acuh dari perintah sang opa dan menuju mobil untuk pergi ke suatu tempat yang menurutnya akan membuatnya tenang kembali.