Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Memanfaatkan Status Istri


__ADS_3

"Bulan mengingat sakit itu memang perlu untuk di jadikan pelajaran. Tapi cukup untuk pelajaran agar tidak terjerumus di lubang yang sama. Ibu sangat sangat tahu apa yang kamu rasakan. Bahkan ibu juga tidak bisa membayangkan yang jadi kamu menderita terusir dari rumah dalam keadaan hamil. Tapi, apa arti pernikahan di matamu itu sesederhana itu? Pernikahan yang seharusnya akan kita perjuangkan sampai titik darah penghabisan. Dari semua cerita kamu dan yang ibu lihat, Pram adalah pria yang patut kamu perjuangkan. Mungkin dari semua kesempurnaan Pram di matamu, inilah Tuhan tunjukkan kekurangan suami mu, Bulan. Ibu tidak akan memaksa, hanya saja Ibu akan mengeluarkan yang di dalam pandangan ibu. Bahkan satu pun kata tidak ada ibu katakan membela Pram, bukan? Hanya setiap orang memiliki kekurangan ada yang bahkan banyak sekali kekurangannya."


Terdiam, Bulan pun mulai berpikir apa yang di katakan Bu Rini sangat benar. Selama ini bahkan Bulan sering bertanya di mmana kurangnya sang suami? Sebab Pram benar-benar pria yang sempurna menurutnya. Penyayang, perhatian, bertanggung jawab, tampan, mapan, baik, semuanya ada di dalam diri pria tampan itu.


Dan Tuhan kasih tunjuk di mana kurangnya sang suami, satu kejadian yang membuat Pram goyah akan kepercayaannya pada Bulan. Dan semua itu tak luput dari rasa cinta yang begitu besar hingga membuatnya terbakar api cemburu. Bahkan banyak orang yang dalam keadaan cemburu tak bisa membedakan mana bebek dan mentok.


Yah seperti itulah kira-kira gambaran saat Pram memergoki keadaan sang istri yang tengah bersama pria lain hingga kemudian Bulan memberi tahu ia hamil.


"Ya sudah kamu istirahat saja. Biar ibu dan Lesti yang lanjutkan suir ayamnya yah?" ujar Bu Rini mengambil alih ayam yang entah sejak kapan Bulan pegang tanpa ia letakkan.


"Ayo mba saya antar ke kamar dulu." tutur Lesti mengajak Bulan.


Patuh Bulan pun ikut dengan Lesti menuju kamarnya. Dimana ia akan memikirkan semuanya untuk ke depan. Untuk dirinya, pernikahannya dan untuk anaknya kelak. Bulan tak ingin gegabah kali ini mengambil keputusan. Usai mengantar Bulan, Lesti segera ingin beranjak dari kamar itu, tiba-tiba saja pandangan  mata Bulan teralihkan padanya.


"Mba Lesti," panggil Bulan lirih.


Lesti pun menghentikan langkahnya. "Iya, Mba." jawabnya.


Diam, Bulan berpikir apa kata yang cocok untuk ia bicara dengan Lesti saat ini. "Jangan terburu-buru memutuskan menikah dengan Mas Fahmi. Sebaiknya cari tahu semuanya dulu." Ucapan Bulan seketika di tanggapi Lesti dengan tersenyum.


"Iya, Mba. Terimakasih yah. Kalau begitu Mba istirahat saja. Saya mau ke dapur lanjut kerjanya." ujar Lesti segera menutup pintu kamar Bulan.


Bulan tampak merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ini adalah hari pertama kalinya ia berbaring di siang hari selama pergi dari rumah. Sebab selama ini Bulan hanya menghabiskan waktu untuk bekerja terus. Rasanya sangat melelahkan kerja tanpa henti. Namun, semua Bulan lakukan demi sang anak yang akan segera lahir ke dunia.

__ADS_1


Bahkan pikiran Bulan pada Lesti pun sudah mulai ringan sebab ia tengah menyampaikan keraguannya pada Lesti tentang Fahmi.


Sementara Lesti yang tiba di dapur mendatangi sang ibu. Bu Rini menoleh melihat sang anak yang berubah wajahnya.


"Ada apa, Lesti?" tanya Bu Rini penasaran.


Lesti menatap sang ibu dengan perasaan ragu ingin mengatakan. "Bu, tadi Mba Bulan bicara sesuatu sama Lesti." jawabnya dengan perasaan yang mendadak tak enak saat ini.


Kening Bu Rini mengernyit heran mendengar ucapan sang anak yang sepotong itu menurutnya. "Bicara apa? Apa Bulan masih tidak mau memaafkan suaminya?" tanya Bu Rini menduga yang tidak-tidak.


Sontak Lesti menggelengkan kepala. "Bukan tentang suaminya, Bu." jawab Lesti.


"Lalu?" tanya Bu Rini kembali.


"Tentang Mas Fahmi, Bu." jawab Lesti yang mendapat tatapan dalam dari sang ibu seketika.


"Ibu kok justru mikirnya kesana sih? Yah nggak mungkin lah, Bu. Mba Bulan cuman bilang jangan terburu-buru memutuskan menikah dengan Mas Fahmi. Cari tahu semuanya dulu, katanya begitu, Bu." ujar Lesti merasa dadanya seperti ada yang mengganjal kala mendengar ucapan Bulan tadi.


Bu Rini yang mendengar pun tampak mencerna beberapa saat hingga akhirnya ia pun mengganggukkan kepalanya pelan. "Yah itu yang ibu rasa selama ini, Les. Ibu itu tidak melarang kamu berpacaran dengannya juga. Tapi Ibu hanya ingin kalian saling mengenal lebih dalam sebab pernikahan itu bukan hanya setahun dua tahun. Tapi untuk selamanya. Tidak baik jika menikah dan memutuskan berpisah setelahnya. Lebih baik semuanya di matangkan dulu lalu jika sudah mantap baru menikah. Lagi pula kalian semua masih sama-sama muda. Akan sulit mengatasi masalah pernikahan dalam ego yang sama-sama masih labil."


Lesti tampak memahami setiap ucapan sang ibu. Hari ini Bu Rini bahkan seperti penceramah terkenal. Dalam sehari, ia sudah melakukan ceramah tiga kali pada orang berbeda. Pertama keluar Pram, kedua pada Bulan, dan ketiga pada anaknya sendiri.


Yah seperti itulah memang kehidupan. Bukan masalah sukses dan tidak, kaya dan miskin. Semua pelajaran hidup yang kita dapat dalam keberhasilan mencapai jalannya atau dalam kesakitan menghadapi masalah akan lebih baik kita bagikan setiap pertimbangannya pada orang yang membutuhkan.

__ADS_1


"Iya, Bu. Lesti akan pikirkan semuanya. Semoga saja Mas Fahmi orang yang tepat yah, Bu? Lesti berat rasanya kalau harus memulai dari awal lagi dengan orang yang berbeda. Selama ini juga Mas Fahmi sudah baik banget sama kita. Apa lagi kemarin sampai mau bayarin biaya rumah sakit Lesti." Tak menjawab, Bu Rini hanya bisa tersenyum menganggukkan kepalanya.


Hari ketegangan kali ini kian cepat berganti menjadi malam. Ada yang berbeda dengan sosok Pram hari ini. Pria itu tampak jauh lebih semangat dari biasanya. Ia bahkan bekerja dengan tenang satu hari ini. Melihat wajah sang istri begitu menjadi mood booster untuknya bekerja. Semangat yang hilang beberapa waktu lalu kini telah kembali.


Yah, Pram yakin hubungannya dengan Bulan akan segera membaik, bahkan ia bertekad untuk mengusahakan apa pun demi membawa Bulan kembali ke rumahnya. Termasuk dengan langkah pertama malam ini.


Saat seluruh penghuni rumah tampak duduk di kursi meja makan untuk makan malam, Pram justru melewati mereka begitu saja. Tak ada sapaan yang ia berikan pada Ibu, oma dan opanya. Jangan tanyakan Hawa dimana. Sampai malam ini pun ia belum juga menunjukkan batang hidungnya. Padahal ini adalah malam terakhir ia berada di indonesia.


"Pram, mau kemana?" tanya Usi yang melihat sang anak sudah rapi kembali usai pulang kantor dan mandi.


Langkah Pram pun terhenti. "Mau bertemu Bulan, Bu." jawabnya seadanya tanpa menjelaskan niatnya pergi.


Tentu mendengar ucapan Pram, tak ada yang bisa melarang lagi kali ini. "Yasudah hati-hati. Apa tidak makan malam dulu?" tanya Usi mengingatkan.


Pram pun dengan cepat menggeleng.


"Tidak, nanti saja." Segera melangkah menuju mobil Pram melajukan kendaraan roda empat itu menuju rumah tempat sang istri tinggal selama ini.


Meski yakin Bulan tak akan mau bertemu dengannya, Pram tetap datang malam ini.


Singkat cerita, akhirnya Pram sudah berada di hadapan wanita yang ingin sekali ia peluk kembali. Namun, demi kenyamanan sang istri urung ia lakukan.


"Kita keluar makan yah?" tanya Pram saat melihat Bulan yang diam saja usai membuka pintu, Bahkan tak menyuruh masuk atau sekedar duduk di teras rumah.

__ADS_1


"Saya sudah makan. Pergilah sendiri kalau mau makan." ujar Bulan berniat mengusir sang suami.


Pram tak gentar ia masih tetap mengembangkan senyumnya. "Bulan, Mas masih suami kamu. Nggak boleh biarkan suami makan sendiri kalau bisa menemani." ujar Pram yang mulai menggunakan kunci pernikahan untuk memaksa Bulan.


__ADS_2