
Sejak pertemuan dengan Fahmi saat itu membuat Bulan memilih untuk membiarkan Bu Rini ke rumah sakit seorang diri. Hari ini adalah hari dimana Lesti akan keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah. Bersyukur rasanya kala mendengar anak dari wanita yang ia anggap seperti ibunya sendiri sudah membaik.
"Bu, hari ini Ibu saja yang ke rumah sakit. Bulan biar gantikan bawa gerobak ibu. Oh iya gerobak yang satunya biar Bulan cari orang buat perbaiki yah, Bu?" tanya Bulan membuat Bu Rini menggelengkan kepalanya seraya tersenyum teduh.
Tangan Bu Rini menggenggam tangan Bulan saat Bulan ingin masuk ke dalam dapur untuk mempersiapkan keberangakatannya pagi ini. "Tidak usah, Nak. Nanti agak siangan saja kita berjualan bersama. Kamu tidak mau ikut ke rumah sakit?" tanya Bu Rini yang membuat Bulan menggelengkan kepala pelan lantaran merasa tak enak menolak ajakan wanita paruh baya di depannya saat ini.
"Bulan sudah ada janjian sama pelanggan hari ini, Bu. Kasihan kalau mereka menunggu ternyata kita tidak ada yang jualan. Apalagi semenjak Bulan hamil Bulan juga bisa merasakan apa yang tidak kita dapatkan saat mengidam sangat menyakitkan rasanya."
Mendengar penuturan sang anak angkat panjang lebar membuat Bu Rini pun hanya bisa menghela napasnya kasar dan pasrah akan keputusan yang Bulan ambil.
"Baiklah kalau begitu Ibu pergi sekarang yah? Lesti pasti sudah menunggu." tutur Bu Rini pagi itu segera pergi usai bersiap ke rumah sakit.
Bulan yang juga sudah mempersiapkan semua jualan bergegas mendorong gerobak jualannya. Tidak tahu saja dirinya jika ada sepasang mata yang terus memperhatikan pergerakan wanita hamil itu. Sembari berteriak sesekali ia menjajahkan dagangannya.
Namun tujuan akhir tetaplah di tempat biasanya. Bulan duduk setelah menata beberapa kursi plastik yang akan di duduki para pembeli bubur pagi itu.
Sementara di tempat yang berbeda, tampak sepasang kekasih tengah menyambut kedatangan wanita paruh baya yang tak lain adalah Bu Rini. Senyum lebar Lesti mengembang di ikuti dengan Fahmi yang menyambut ibu kekasihnya itu dengan mencium punggung tangan Bu Rini hangat. Serta tangan Bu Rini yang mengusap sekilas kepala Fahmi.
"Kok pagi sekali sudah di sini? Ibu saja baru sampai." tutur Bu Rini terkekeh melihat pria di depannya dengan wajah segar.
Fahmi yang semula tersenyum tampak beberapa kali melirik ke arah pintu dan akhirnya ia pun yakin jika sang ibu kekasihnya datang seorang diri.
"Ibu datang sendiri? Mba Bulan mana?" tanya Lesti yang membuat wajah Fahmi turut menantikan jawaban sang ibu.
__ADS_1
Sekilas raut wajah antusias sang kekasih lagi-lagi membuat Lesti mengernyitkan keningnya.
"Dia tadi sudah ibu ajak, katanya sayang kalau nggak jualan soalnya ibu juga nggak jualan. Pelanggan ada yang janjian sama dia mau beli bubur ayam katanya hari ini." terang Bu Rini yang mendapatkan anggukan dari Lesti.
Bu Rini yang melihat barang-barang sang anak sudah rapi di dalam tas akhirnya berinisiatif untuk pergi mengurus administrasi dan segera pulang.
"Oh iya, Bu. Kita langsung pulang saja. Tadi Kak Fahmi sudah ngurus semua administrasi Lesti katanya." Ucapan Lesti barusan tentu saja membuat Bu Rini seketika terkejut bukan main.
Lantaran biaya pengobatan sang anak tentu tidak murah. Sebab Bu Rini yang belum bisa membayar tunggakan kartu kesehatan membuatnya tak memiliki pilihan lain untuk merawat sang anak dengan pribadi.
"Fahmi, biar ibu ganti sekarang. Biaya Lesti sangat banyak tidak boleh menolaknya." ujar Bu Rini yang mendapatkan penolakan langsung dari Fahmi.
"Bu, itu tidak apa-apa. Saya ikhlas membantu Lesti dan Ibu. Lesti juga adalah calon istri saya, maafkan saya, Bu tidak bisa membantu banyak. Setidaknya biarkan kali ini saya akan membantu sebisa saya." Bu Rini dan Lesti sama-sama terharu mendengar penuturan pria di depan mereka saat ini.
"Ya Allah terimakasih, Fahmi. Ibu benar-benar sangat malu sebab keduluan membayar ini semua. Tapi tolong lain kali jangan seperti ini. Bagaimana pun juga Lesti masih tanggung jawab Ibu." Fahmi yang mendengar penuturan Bu Rini hanya menganggukkan kepalanya saja.
Hingga mereka pun sepakat untuk segera bersiap keluar dari ruangan itu dan menuju ke rumah. Begitu pun Fahmi yang sigap membawakan barang bawaan sang kekasih.
Berbeda suasana dengan keadaan di kediaman Oma dan Opa pagi ini. Suasana sarapan yang sangat hening membuat satu pasang sendok dan garpu terletak begitu saja di atas piring lebar berwarna putih polos.
"Kapan perceraian itu di urus, Pram?" pertanyaan sang Oma Wulan seketika membuat sarapan semua jadi terhenti.
Pram menghentikan makan dan meneguk segelas air putih untuk mendorong makanan yang terlanjur ia kunyah namun tak bisa ia telan saat ini.
__ADS_1
"Mi, bicarakan nanti saja. Kita masih sarapan." tutur sang Opa yang kesal melihat sang istri tak tahu waktu membicarakan sesuatu.
Dengusan kasar yang Oma Wulan lakukan membuat Pram tak ingin acuh saat ini. Secepatnya manik mata pria itu menatap ke arah wanita yang baru kemarin ia maki-maki.
Hawa menaikkan sebelah alis enggan menatap baik pada sang adik.
"Percereraian itu tidak akan pernah terjadi, Oma. Dan aku rasa dia sudah mengatakan semuanya pada Oma, bukan?" tanya Pram bergegas pergi segera setelah itu.
"Pram, sarapanmu belum habis, Pram! teriak Usi yang hanya di acuhkan oleh sang anak.
Namun teriakannya tak mendapatkan respon apa pun selain melihat Pram yang menjajuh dari kediaman dan melajukan mobil saat itu juga.
"Kalian perempuan selalu saja bertindak sesuka hati." kesal Opa Rasja yang turut menghentakkan sendok dan meninggalkan ruang makan pagi itu.
Di sini tinggallah Usi, Hawa, serta Oma Wulan yang saling diam. Sarapan yang hangat terasa seperti dingin dan hambar saat ini hingga mereka semua memilih untuk menghentikan sarapan itu.
Di saat semua telah pergi, barulah sepasang suami istri pagi itu keluar dari kamarnya.
"Kalian ini seperti Nyonya besar saja baru keluar kamar." gerutu Oma Wulan yang melihat kehadiran Tante Siti dan Paman Riyo di ruang makan.
"Tuh kan Papah penyebabnya nih? Lihat Oma jadi marah." ucap Tante Siti justru menyalahkan sang suami.
"Mah sudah yah? Papah tidak mau tahu hari ini Mamah diam di rumah dan jangan hamburkan uang lagi. Papah tidak tahu mau cari uang di mana lagi kalau mamah seperti ini terus." gerutu Paman Riyo frustasi melihat sang istri yang begitu boros.
__ADS_1
Bukan boros lebih tepatnya hanya uangnya yang tidak mampu mengimbangi pengeluaran sang istri selama ini. Sebab pengeluaran yang sang istri lakukan masih sama saja bedanya saat ini Pram tak lagi menjadi pemasok uang saku pada sang istri.