Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Membawa Pulang Kembali


__ADS_3

Keadaan pagi yang masih sangat gelap, samar terdengar seseorang membuka pintu. Namun, keadaan lelah dan tidur yang lelap rupanya membuat satu-satunya penghuni di rumah itu tetap memejamkan matanya. Dengkuran yang terdengar sangat pelan nyatanya tak membuat seseorang yang baru tiba mengetahui siapakah orang di kamar miliknya. Lampu yang bercahaya orange membuatnya memilih segera merebahkan tubuh tanpa melihat wajah yang berada di kamarnya.


“Huamm…” tubuh tegap yang tidur dengan terlentang pun ia peluk erat.


“Bu, kok baunya beda yah? Nggak pakai handbody toh?” celetuk pria itu yang ternyata adalah suami pemilik rumah yang semalam Pram bayar.


Hening, tak ada jawaban. Ia pun acuh dan menaikkan sebelah kaki memeluk sang istri yang rasanya lebih padat dan datar.


“Huh apa karena capek yah? Yasudah lah yang penting meluk.” tuturnya masa bodoh.


Hingga jam menunjuk pada pukul enam pagi. Suara teriakan panik terjadi di rumah sederhana itu.


“Siapa kamu?”


“Pak, biar saya jelaskan.” Pram berusaha menundukkan wajah saat pria paruh baya itu hendak memukulnya dengan sapu.


Tak ingin mendengarkan Pram. Pria paruh baya itu pun memilih bergegas keluar kamar mencari sang istri.


“Bu? Ibu! Dimana toh? Bu! Sarmi!” Teriaknya sampai memanggil nama sang istri.


Marah melihat sang istri yang tak kunjung datang. Pria itu menarik kerah baju Pram keluar kamar dan mendorongnya keluar dari rumah.


“Pergi kamu dari sini! Pergi!” Pekiknya.


Pram pun dengan suka rela hendak pergi toh ia sudah mendapatkan tempat tidur malam ini dekat dengan sang istri.


“Heh…mau kemana kamu?” Panggilnya lagi.


“Pergi, Pak. Anda menyuruh saya pergi kan?” Pram dengan santainya menjawab.

__ADS_1


Toh dia merasa tidak bersalah saat ini. Ia tidur atas ijin dari sang pemilik rumah dengan membayar sejumlah uang.


Keributan di depan rumah Bu Sarmi tampak membangunkan beberapa tetangga.


“Dimana istri saya? Siapa kamu sampai berani tidur di rumah saya? Apa kamu selingkuh dengan istri saya? Jawab!” Amarah pria paruh baya itu mendidih kala membayangkan wajah pria yang tidur di rumahnya ternyata sangatlah tampan di bandingkan dirinya saat muda dulu.


Belum sempat Pram menjawab, tiba-tiba terdengar suara sosok yang di cari sang suami sedari tadi.


“Eh ya ampun…bapak, kenapa marah-marah toh? Tuan, maafkan suami saya.” Bu Sarmi tampak menunduk tak enak. Sebab ia sudah menerima uang itu dengan hati yang berbunga-bunga.


“Bu, siapa toh? Ibu dari mana? Apa begini kelakuan Ibu? Bapak pulang capek-capek Ibu malah keluyuran? Iya?” Bu Sarmi menggelengkan kepala.


Matanya beralih menatap ke beberapa tetangga hingga akhirnya pandangannya jatuh pada sebuah rumah yang terbuka terakhir dari rumah lainnya.


Disana nampak Bulan, Bu Rini serta Lesti yang keluar dari pintu.


“Bu, ada apa sih?” tanya Lesti.


“Lah itu suami kamu, Bulan.” Bulan pun terfokus pada pria yang sedikit tertutupi oleh tetangga yang sudah kepo luar biasa.


Seketika wajah Bulan yang menekuk akhirnya mengembangkan senyuman.


“Eh Bu mau kemana?” Bulan mengikuti laju langkah Bu Rini saat tangannya di genggam erat oleh wanita baik itu.


“Oh jadi dia ini suaminya wanita yang tidur di rumah Bu Rini itu? Terus kenapa jadi di rumah kita sih, Bu? Kan mereka suami istri?” mendengar penjelasan sang istri barulah pria itu mereda amarahnya.


“Yah mana ibu tahu, Pak. Yang penting Tuan ini kasih uang ke ibu. Aman kan?” Sontak sang suami pun menganggukkan kepalanya.


“Lah ini kan istrinya?” Ia pun kembali bersuara saat melihat Bu Rini membawa Bulan memasuki area kerumunan para tetangga.

__ADS_1


“Iya, Pak. Dia istri saya.” jawab Pram mengakui.


Bulan hanya diam menunduk. Semua tetangga menatap kagum pada keduanya yang tampak serasi.


“Wah cantik dan ganteng…”


“Iya, kasihan kok malah milih tinggal di sini sih? Pasti istrinya lagi galak karena hamil tuh…”


Dan masih banyak lagi yang Bulan dan Pram dengar dari para tetangga.


“Mba, suami ganteng begini jangan di galak-galakin. Nanti banyak yang antri loh.” Sahut salah satu tetangga.


“Bulan semalaman nyariin loh. Ternyata tidur di sini.” celetui Bu Rini sontak membuat wajah Pram mendadak berbinar bahagia. Sementara Bulan membulatkan matanya syok.


“Sayang…itu artinya?” Pram tanpa sempat melanjutkan ucapannya tiba-tiba saja mendekat dan memeluk Bulan. Ia berpikir jika dirinya sudah mendapatkan maaf dengan Bulan yang mencarinya semalam.


Sungguh Pram benar-benar senang. Para tetangga pun turut senyum-senyum melihatnya.


“Mas, tolong…”


“Aaaa!” Baru saja Bulan ingin menjelaskan, namun terlalu senang membuat Pram tanpa permisi langsung menggendong sang istri menuju mobil.


Ia melajukan mobilnya menuju rumah kembali. Tak perduli jika Bulan terus ingin bicara.


“Mas, tolong turunkan aku.”


“Mas, tolong berhenti!”


“Mas Pram, tolong aku tidak mau pergi bersama kamu. Aku harus jualan.” tutur Bulan namun Pram justru menggenggam tangan sang istri. Satu kecupan mendarat di punggung dan jari-jari mungil Bulan.

__ADS_1


“Hentikan, Bulan. Jangan bicara apa pun. Mas sangat bahagia mendengarnya.” Rasanya ia tak menyangka usai mendengar Bu Rini bicara, Pram merasa yakin jika sang istri tidak sebenci yang ia bayangkan selama ini.


__ADS_2