
Keresahan terlihat jelas di raut wajah Pram. Mendapat telepon dari Bu Rini tentang Bulan yang di rawat di rumah sakit, tentu saja Pram sangat khawatir. Keadaan Bulan yang sedang hamil tak bisa ia bayangkan jika sampai terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya.
“Astaga Bulan, apa yang terjadi?” gumam Pram mengusap kasar wajahnya.
Sementara di rumah sakit Bu Rini tampak menangis ketakutan. Ia merasa bersalah sebab ini terjadi karena anaknya.
“Mas bagaimana ini kalau sampai Pram membunuh saya atau Lesti? Bulan seperti ini karena anakku, Mas.” Tangis ketakutan membuat Pak Kadir juga turut menggelengkan kepala.
Sebab mereka hanyalah orang asing bagi Pram dan tidak mungkin membuat pria itu berpikir dua kali mencelakai mereka demi melampiaskan amarahnya.
“Rin, berdoa. Semoga semua baik-baik saja. Seharusnya Lesti ada di sini untuk meminta maaf. Tapi kita nggak tahu kemana dia sekarang.” Pak Kadir sampai pusing membayangkan tingkah Lesti yang tak terduga itu.
Wanita yang biasa selalu menjadi penurut bahkan lemah lembut bisa berubah seperti singa karena cinta butanya tak sesuai dengan harapannya.
“Aduh sakit…” Suara Bulan yang merintih dan sadar dari pingsan akhirnya membuat Bu Rini mengusap air mata di kedua pipinya.
__ADS_1
“Bulan? Akhirnya kamu sadar juga, Nak.” Wanita paruh baya itu berdiri memeluk Bulan.
Kening Bulan mengerut melihat mata merah Bu Rini. “Bu, kenapa menangis? Aku baik-baik saja.” tuturnya mengusap bibir yang terasa perih saat itu.
Bekas serangan Lesti membuat Bulan merasa sakit di beberapa bagian wajah.
“Maafkan Ibu, Bulan. Ibu tidak sigap menolong kamu. Lesti sudah bersalah besar melakukan ini padamu. Secepatnya Ibu akan mencari dia dan memberikan pelajaran.” ujar Bu Rini,
“Bu, Ibu tidak perlu seperti ini menangis. Lesti yang salah, ibu tidak salah apa-apa.”
Pejalanan dari kantor yang lumayan jauh, membuat Pram keduluan sang ibu tiba di rumah sakit. Usi yang mendapat kabar dari sang anak tentang menantunya segera melajukan mobil ke arah rumah sakit bersama Oma dan Opa.
Semua keluarga mencemaskan keadaan Bulan saat ini.
“Bulan? Ya Tuhan, wajah kamu. Bulan, apa yang terjadi? Bagaimana bisa kamu seperti ini? Siapa yang melakukan ini?” Bertubi-tubi Usi melontarkan pertanyaan pada sang menantu.
__ADS_1
Tangannya bergerak memeriksa wajah Bulan yang tampak kebiruan.
Lantas melihat hal itu, Bu Rini memberanikan diri bersuara. “Nyonya, maafkan anak saya. Saya bersalah juga dalam hal ini.” Pelan dan takut ia berucap.
“Anak Ibu? Apa yang di lakukan pada Bulan?” Kini suara Opa Rasja yang terdengar.
“Anak saya salah paham dengan Bulan dan menyerangnya membabi buta, Tuan.” jawab Bu Rini kikuk.
Tak ingin tinggal diam, Bulan pun membela.
“Opa, ini hanya salah paham. Jangan di perbesar. Semua akan baik-baik saja dan lagi pula Bulan tidak apa-apa.” Ia meyakinkan keluarga sang suami dirinya baik-baik saja.
“Bulan? Sayang? Apa yang sakit? Bagaimana keadaan kamu? Anak kita baik-baik saja kan?” Pram datang dengan wajah penuh keringat bahkan tubuhnya sampai menggeser tubuh sang ibu.
Kepanikan membuatnya seperti orang kerasukan. Bulan belum sempat menjawab ia hanya menganggukkan kepala dan tersenyum lemas.
__ADS_1