
Hari yang bergerak semakin malam tentu saja membuat seorang ibu di sini sangat cemas, beberapa kali Bu Rini membuka pintu rumah demi memastikan sang anak pulang namun tak juga kunjung tiba.
Raut cemas di wajahnya semakin bertambah kala ponsel Lesti masih sulit di hubungi. Tinggal seorang diri membuatnya bingung harus bertindak apa saat ini. Tak ada lawan bicara yang bisa ia ajak bertukar pikir.
“Ya Tuhan, kemana Lesti? Kenapa belum juga pulang?” gumamnya yang merasa sangat takut.
Ketakutannya pada sosok Fahmi kini semakin kuat, hanya doa yang bisa ia lakukan saat ini untuk keselamatan sang anak.
Hingga waktu mulai subuh, Bu Rini terduduk meneteskan air mata. Dalam hati yang paling dalam ia sudah sangat yakin ada hal buruk yang segera ia dengar. Namun, waktu subuh rupanya belum juga menjadi waktu yang ia tunggu. Sebab Lesti belum juga menampakkan wajahnya.
Pelan langit mulai semakin terang, bulan sudah mulai menghilang dan berganti dengan mentari yang muncul,
“Rin, kok di sini? Mana jualannya? Loh gerobak kok masih kosong?” Sepupu Bu Rini pun akhirnya datang dengan wajah bingung. Bagaimana ia tak bingung, ini sudah waktunya jualan. Namun, gerobak mereka semua masih kosong.
“Mas, semalaman Lesti belum pulang juga,” ujar wanita paruh baya itu dengan suara lemahnya.
Pak Kadir yang mendengar pun tentu saja merasa sangat kaget. “Apa? Belum pulang? Apa karena pergi sama laki-laki itu?” tuturnya menebak tepat sasaran.
Bu Rini pun tanpa ragu menganggukkan kepalanya. Hingga keduanya di kejutkan dengan jeritan seorang wanita.
“Bu!” Suara yang tak asing terdengar dengan tangisan yang mendekat.
Bu Rini dan Pak Kadir sama-sama menolehkan kepala mereka.
__ADS_1
“Lesti?” Keduanya kompak bersuara dan mendekati wanita yang berwajah sembab serta rambut acak-acakan, baju yang tidak serapi semalam.
Lesti menghambur ke pelukan sang ibu, ia menangis di pelukan Bu Rini.
“Kak Fahmi jahat, Bu. Dia tidurin aku dan kasih aku obat. Dia jahat, Bu,” Lesti menangis mengadukan pada sang ibu apa yang terjadi.
Mendengar hal itu semakin deras saja air mata Bu Rini, ia memeluk erat tubuh sang anak sembari mengumpat dirinya sendiri. Feelingnya tentang pria itu benar dan juga Bulan yang mengatakan dia bukanlah pria yang baik.
“Bulan benar, dia bukan pria yang baik.” Lirih ucapan Bu Rini terdengar di telingan Lesti. Segera wanita itu melerai pelukannya pada sang ibu.
“Ini semua karena Bulan, Bu. Lesti menjadi korban karena dia.” Ucapan Lesti begitu mengejutkan Bu Rini.
Tangisan wanita paruh baya itu pun hilang kala mendengar sang anak menyebut nama Bulan.
“Iya, Les. Dimana Fahmi itu?” Suara Pak Kadir turut mendukung Bu Rini.
Namun, Lesti yang diam tampak memikirkan hal lain. Wajah sedihnya tampak berubah kesal.
“Kamu harus menanggung akibatnya, Bulan,” ucapnya dalam hati dan berlalu pergi ke dalam rumah.
Berusaha kuat, nyatanya Lesti menangis terisak di kamar miliknya. Memeluk tubuhnya sendiri memukul-mukul tubuhnya dan mencakarnya. Ia marah sebab pria yang sangat ia cintai justru menidurinya dengan terus menyebut nama wanita lain.
“Bulan, terus sayang. Yah…aku sangat menyukainya, Bulan.” Itulah sebagian kata yang bisa Lesti dengar kala permainan berulang di pagi hari sebelum Fahmi terlelap dan Lesti kabur dari hotel.
__ADS_1
Air matanya menetes sebab dalam keadaan seperti itu pun Fahmi masih membayangkan wanita lain.
“Apa ini artinya semua terjadi karena Bulan? Wanita itu sudah merusak hubunganku dan Kak Fahmi. Kamu benar-benar jahat, Bulan.” Lesti menatap tajam langit kamarnya.
Sementara di tempat yang berbeda. Tampak Bulan tengah berada di meja makan bersama sang suami dan ibu mertuanya yang berkunjung ke rumah pagi itu.
“Pram, Ibu berniat mengadakan 7 bulanan untuk Bulan. Bagaimana kamu setuju tidak kalau acaranya di adakan di rumah Opa saja? Sebab mereka meminta di sana. Ibu tidak enak mau menolaknya.” Usi berbicara dengan sang anak usai bicara dengan Bulan sebelumnya.
Dimana Bulan hanya setuju dan menyerahkan semua pada sang mertua dan suami.
Tentu saja berurusan dengan Bulan sangat mudah menurut Usi di banding dengan keluarga sang suami.
“Yah Ibu atur sajalah, yang penting Bulan suka dan setuju. Lagi pula Pram mana tahu acara seperti itu,” jawaban yang sangat memuaskan.
Ketiganya pun tampak makan pagi itu dengan tenang. Hingga tiba-tiba saja Bulan tersedak makanan.
“Sayang, ayo di minum. Kamu baik-baik saja kan?” Pram menyodorkan segelas air dengan perhatian pada sang istri.
Sejenak Bulan sempat terdiam, entah mengapa perasaannya tiba-tiba tak nyaman.
“Bulan?” Panggil Pram yang mengejutkan wanita hamil itu.
“Em iya, Mas. Aku baik-baik saja kok,” jawabnya memaksakan senyum.
__ADS_1
“Ada apa yah? Mengapa dadaku terasa ada yang mengganjal? Semoga saja semua baik-baik saja.” ujar Bulan menenangkan diri tanpa berniat cerita pada sang suami.