
Meski pada dasarnya kepedihan yang mereka rasakan sekeluarga atas apa yang Hawa perbuat selama ini, saat wanita itu meninggalkan mereka semua keluarga sangat sedih. Bagaimana pun mereka memiliki ikatan tali kekeluargaan yang masih sangat dekat.
Oma dan Opa turut meneteskan air mata menyambut kedatangan cucu mereka di tanah air. Kepergian dengan paksaan dan kini Hawa datang dengan petu jenazah.
“Mi, tenanglah. Ayo tenang jangan sampai darah tinggimu naik lagi.” Opa Rasja memeluk sang istri yang menangis histeris melihat wajah Hawa pucat tak ada aliran darah yang terlihat di sana.
Ia menggeleng berusaha menyangkal kebenaran di depan matanya. Namun, semua sudah jelas terjadi. Banyaknya para pelayat yang turut hadir untuk berbela sungkawa.
Di sini Bulan tak melepaskan pelukannya pada sang mertua. Ia turut sedih atas kepergian kakak iparnya.
“Bu, ayo minum dulu. Ibu tak ada mengisi perut sama sekali.” ujarnya penuh perhatian, sementara Pram yang mendengar itu segera meminta pelayan membawakan makan.
__ADS_1
“Sayang, ini berikan pada ibu. Setelah itu kita gantian dan kau makan.” pintah Pram perhatian.
Bulan yang sebenarnya merasa tidak lapar ingin menolak. Namun, kehamilannya membuat wanita itu berpikir dewasa. Ia tak boleh memikirkan keinginan dirinya lagi saat ini. Ada janin yang harus tepat waktu ia beri sari makanan.
“Bu ayo makanlah.” Kesekian kalinya Bulan menyodorkan makan namun Usi terus membungkam bibirnya tanpa berkata apa pun. Hanya air mata yang terus berjatuhan.
Pram tak sampai hati melihat sang istri susah payah membujuk sang ibu. Terlbih ia takut jika sang ibu akan emosi tiba-tiba. Pelan ia mendekati Bulan.
“Kemarikan piringnya. Dan kau pergilah makan, Sayang. Tubuhmu jangan sampai lemas.” pintahnya di sanggupi oleh Bulan.
“Terimakasih, Bi.” ujar Bulan tersenyum kecil.
__ADS_1
Meski matanya sembab namun kecantikan Bulan benar-benar masih terlihat jelas. Para pelayan pun kagum dengan Bulan yang begitu lembut. Padahal mereka tahu bagaimana pahitnya Bulan di fitnah oleh keluarga ini.
Makan dengan susah payah menelan, berkali-kali Bulan mendorong makannya dengan air putih. Merasa cukup, ia pun kembali meminum vitamin untuk ibu hamil. Sebab kepalanya mulai terasa pusing lantaran kurang tidur.
Singkat waktu berlalu, semua kini telah berkumpul di pemakaman mengaminkan doa yang di pimpin imam di depan sana. Isak tangis masih terdengar mengiringi kuburan yang sudah tertutup sempurna.
“Kak, aku tidak menyangka hubungan kita berakhir dengan cara seperti ini. Maaf aku melukai hati wanita yang selalu menjagaku di masa kecil hingga dewasa. Maaf aku tidak bisa menjaga hatimu. Aku menyayangimu, aku maafkan segala kesalahanmu.” batin Pram dalam hati menatap nanar batu nisan di depannya.
Sementara Bulan juga berucap dalam hati. “Kak Hawa, maaf jika kehadiranku menyakiti kakak. Tapi aku berjanji pengorbanan kakak merelakan kami bersama tidak akan aku sia-siakan. Pram akan aku cintai sebesar mungkin. Aku memaafkan semua perbuatan kakak selama ini. Semoga kakak tenang di sana dan senang melihat kami bahagia. Begitu pun kakak yang bahagia di sana.” ucap Bulan.
Semua pun pelan-pelan mulai beranjak pergi dari pemakaman. Yang paling terakhir adalah Opa Rasja dan Oma Wulan.
__ADS_1
“Mi, ayo.” ajak pria tua itu dengan tongkat yang membantunya berdiri meski tak kokoh.
Pelan keduanya bergegas meninggalkan pemakaman. Tinggal Hawa yang menjadi penduduk baru di pemakaman itu.