
Pram sama sekali tak beranjak dari duduknya. Ia terus menunggu sang istri di rumah sakit. Sementara Bu Rini pun juga turut menjaga di ruangan itu. Sungguh ia begitu merasa bersalah.
Satu nama yang ia ingin temui saat ini. Yaitu Lesti, yang entah kemana perginya saat ini.
Terdiam beberapa saat, wanita paruh baya itu berniat untuk bergegas pulang dan memberi hukuman pada sang anak.
“Bulan, Ibu harus pulang. Ada yang harus ibu selesaikan.” Mendengar itu tentu saja pikiran Bulan tertuju pada Lesti.
Segera ia menghentikan langkah wanita paruh baya itu.
“Bu, bisa Bulan minta temani di sini dulu? Nanti-nanti bisa kan Ibu selesaikan masalahnya? Bulan tidak suka di ruangan ini jika sepi.” Alasan yang semua pun tahu jika itu bukan keinginan Bulan yang sebenarnya.
Namun, melihat semua yang di ruangan itu menatap ke arahnya tentu saja Bu Rini tak mungkin bisa menolak. Ragu ia menganggukkan kepala.
“Ibu tidak usah khawatir. Biar saya yang akan selesaikan semuanya.” Kini justru Pram yang bersuara, pria itu menatap ke depan dengan tatapan penuh amarah.
Bulan menggeleng. Ia tak ingin sang suami melakukan hal di luar kendali.
__ADS_1
“Mas, kendalikan amarahmu. Aku sungguh baik-baik saja.” ujar Bulan memegang lengan sang suami.
Namun, Pram rupanya tak mengindahkan ucapan sang istri. Ia mengetik pesan yang entah apa isinya pada seseorang yang mereka yakini orang kepercayaan Pram.
“Kamu sudah salah besar menyentuh keluarga mereka, Lesti. Ibu tidak tahu harus melakukan apa saat ini.” Bu Rini sedih mengingat sang anak yang sudah melewati jalan yang salah.
Seharusnya ia berpikir sebelum bertindak. Bulan bukan lagi wanita yang terasingkan dan hidup begitu kasihan. Ia saat ini sudah menduduki kursi ratu di hati Pram. Yang artinya tak ada siapa pun yang bisa lolos jika mengusiknya seujung kuku pun.
***
Dan di tempat yang berbeda. Tak butuh waktu satu jam, Lesti sudah di bawa paksa oleh beberapa orang pria. Bukan hanya Lesti seorang melainkan ada sosok Fahmi yang juga turut di seret ke sebuah mobil.
Bukan dengan kekerasan. Melainkan dengan membuka kebenaran. Itu adalah hal yang paling menyakitkan lagi tentunya.
Mendapat kabar semua sudah beres, Pram segera meninggalkan rumah sakit tanpa perduli sang istri yang memanggilnya terus menerus.
Perjalanan yang tidak macet membuat Pram tiba dengan cepat. Langkah lebar pria itu kini memasuki rumah dengan tatapan penuh amarah.
__ADS_1
“Tuan, ini kedua orang yang anda minta.” Sambutan dari salah seorang anggota membuat Pram melanjutkan langkah mendekati wanita yang menatapnya dengan tatapan benci.
“Tak ada bandingannya sama sekali dengan istriku. Sepercaya diri apa kau berani mencelakai istriku?” Tatapan menghujam Pram layangkan.
“Lepaskan saya! Istri anda wanita munafik!” Hardik Lesti yang tampak begitu berbeda dari biasanya.
Mendengar itu Pram justru terkekeh.
“Munafik!” Ujarnya terkekeh lagi namun tangannya seketika memukul tubuh Fahmi yang sontak menjerit kesakitan.
Sepasang mata Lesti membulat sempurna melihat sang kekasih di pukul.
“Munafik katamu istriku?” Lagi Pram melayangkan tinju tepat di bagian perut Fahmi.
“Apa lagi?” tanya Pram ingin mendengar semua kejelekan yang Lesti layangkan untuk Bulan.
“Cih apa anda sebegitu mencintainya? Bahkan dia dengan rendahan menggoda calon suami saya.” Cibir Lesti yang tak sadar jika semakin menjelekkan Bulan ia akan melihat Fahmi mengeluarkan darah dari mulutnya.
__ADS_1
Marah, Pram menghajar habis-habisan sosok pria yang sudah membuatnya mendidih lantaran mengetahui pernah menggoda istrinya yang tengah mengandung itu.
“Hentikan! Jangan lukai Kak Fahmi!” Teriak Lesti yang ternyata masih menaruh rasa pada pria itu.