
Tiga pasang mata saling menatap bergantian saat ini. Bulan ingat sebelum ia pergi, dirinya hanya mengatakan pesan yang sebenarnya sangat menjadi tanda tanya untuk Bu Rini mau pun Lesti. Dan kini wanita paruh baya itu menyadari akan pesan dari Bulan beberapa waktu lalu. Namun, dirinya belum mengetahui firasat buruk yang ia rasakan saat ini benar atau salah.
Dengan tenang Bulan pun bersuara tanpa mau menjadi orang yang sok tahu. "Bu, apa yang membuat Ibu berfirasat? Apa ibu melihat sesuatu?" tanyanya yang ingin tahu lebih dulu. Sebab Bulan juga tak ingin jika sang ibu justru akan terpengaruh hanya karena ucapannya tanpa adanya temuan lebih dulu.
Bulan sadar jika ia tidak boleh menghancurkan hubungan orang meski ia tahu itu buruk. Sebab memperingati adalah hal yang paling tepat.
Pelan Bu Rini mengangguk. Seketika tubuh Bulan yang duduk tenang menegang. "Lihat apa, Bu?" tanyanya antusias. Sementara Pram juga duduk dengan serius menunggu cerita selanjutnya dari dua wanita di depannya.
"Sejak pertemuan kalian di rumah sakit saat menjemput Lesti hingga saat ini, Ibu merasa aneh dengan tatapan Fahmi pada kamu, Bulan. Ibu merasa ada yang dia sembunyikan. Itu sebabnya Ibu ingin bertanya padamu. Sebab ibu melihat kamu pun tidak nyaman dengan kehadiran pria itu." tutur Bu Rini panjang lebar membuat Bulan akhirnya bungkam.
Kini ia harus jujur dengan apa yang ia rasakan dan alami. Jika tidak, semua akan jadi salah paham padanya termasuk sang suami yang posesif saat ini.
__ADS_1
"Bu, Ibu benar. Bulan tidak nyaman. Sebab pria itu beberapa kali melihat Bulan seperti tatapan aneh dan juga sempat datang ke tempat Bulan bekerja jual bubur saat itu. Bulan tidak cerita saat dia nekat menemui Bulan di pagi hari bahkan banyak pembeli yang mengira dia adalah pria yang akan mengejar Bulan dan meminta Bulan hati-hati. Bulan tidak ingin menjadi perusak hubungan Mba Lesti dan kekasihnya, Bu. Itu sebabnya Bulan minta untuk hati-hati dan mengenal lebih jauh lagi." ujar Bulan dengan tenang.
Sontak Bu Rini menggeleng tak menyangka jika sang calon menantu sampai sejauh itu melakukan aksinya pada Bulan. Bu Rini semakin dekat duduk dengan Bulan.
"Mendatangi kamu di penjualan pagi? Apa yang dia katakan, Bulan?" tanya Bu Rini lagi.
Ragu rasanya Bulan menjawab. Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya. "Meminta Bulan untuk bersamanya dan akan meninggalkan Mba Lesti, Bu." jawab Bulan terasa begitu berat.
"Enak saja pria itu. Bulan, ayo antar Mas menemuinya. Mas akan beri pelajaran dia." Pram yang geram mendengar segera menggenggam tangan sang istri untuk bergegas mencari keberadaan Fahmi. Kepalanya yang dinign tiba-tiba terasa mengeluarkan asap.
Selama ini ia begitu tenang sebab pikirannya ia hanya butuh waktu untuk bersama Bulan kembali, tanpa ia tahu sang istri yang bunting pun masih ada pria yang mengejar-ngejar di luar sana. Sungguh keresahan di dalam hati Pram semakin membara.
__ADS_1
"Mas, tenang. Biarkan saya selesai bicara dulu." ujar Bulan melepaskan tangan sang suami.
"Tidak, Bulan. Mas akan cari pria itu dan patahkan tulang-tulangnya. Mungkin dia ingin jadi manusia purba Mas buat." geram Pram mengingat betapa ia menjadi pria lengah selama ini.
Bulan yang enggan mendengar ocehan sang suami segera beralih ke Bu Rini kembali. "Bu, sudah jangan di pikirkan. Sekarang biar kita cari tahu apa saja yang Fahmi perbuat di luar sana biar bisa menutup mulutnya untuk tidak menyangkal lagi." tutur Bulan dengan tenang.
Ketenangan yang ia tunjukkan sama sekali tak berpengaruh pada Bu Rini. Wanita paruh baya itu tampak memikirkan sesuatu dalam lamunannya.
"Bu, jangan di pikirkan. Bulan akan bantu semuanya." ujar Bulan menggenggam tangan wanita paruh baya yang teramat syok saat ini.
"Sudah tidak apa, Bulan. Ibu baik-baik saja. Ibu harus jualan dulu yah?" Bu Rini yang pusing memilih mengalihkan pikirannya pada jualan yang sejak tadi sudah menunggunya.
__ADS_1
Melihat respon wanita di depannya, Bulan pun merasa ia tak bisa menahan keinginan Bu Rini untuk berjualan. Pelan Bulan tersenyum. "Baiklah, Bu. Bulan akan pulang bersama Mas Pram kalau begitu." tuturnya yang menjadi akhir keduanya bertatap muka sebelumm melanjutkan dengan aktifitas masing-masing.