Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Keputusan Hawa


__ADS_3

Usai menyiapkan sarapan, Usi tampak berjalan mendekati pintu kamar sang anak. Tangannya kembali mengetuk beberapa kali serta berteriak.


“Hawa!”


Tok tok tok


“Hawa! Buka pintunya. Ayo sarapan.” Panggilnya terdiam beberapa saat mendengar jika ada suara dari dalam kamar mendekat ke pintu. Namun, sepertinya tak ada pergerakan sama sekali dari dalam kamar sang anak.


Hingga Usi pun berinisiatif mengetuk pintu lagi. Beberapa menit wanita itu terus berdiri menunggu pintu terbuka hingga saat tangannya melihat jam yang sudah cukup siang. Ia pun mulai gelisah.


“Kemana sih, Hawa? Apa dia baik-baik saja?” Perasaan tak enak mulai menyeruak di dalam hatinya.


Ia pun bergegas meraih ponsel dan menghubungi sang anak. Dering ponsel yang terdengar saat itu juga di seberan sana membuat Pram melepaskan pelukannya pada tubuh Bulan.


“Siapa Mas?” tanya wanita berbadan dua itu.


“Ibu, sepertinya mau menanyakan keberadaan kita. Mas angkat dulu yah?” Anggukan di kepala Bulan membuat Pram pada akhirnya segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.

__ADS_1


“Pram! Kesini segera, Pram. Hawa dari tadi tidak membuka pintunya. Ibu khawatir terjadi sesuatu padanya.” Suara panik sang ibu membuat Pram merasa ada yang tidak beres.


Kening pria itu mengernyit dan segera menjawab. “Bu, tenanglah. Kami akan kesana sekarang juga.” ujarnya bergegas mematikan sambungan telpon dan membawa Bulan pergi dari sana.


Lima belas menit perjalanan, kini Pram tiba bersama Bulan di apartemen sang kakak. Ketukan ia ayunkan di pintu apartemen dan secepat kilat Usi membukanya.


“Pram, kakakmu. Cepat dobrak pintunya, Pram. Perasaan Ibu tidak enak.”


Tak menunggu apa pun lagi, Pram beraksi. Tiga kali tendangan ia berhasil mendobrak pintu. Keadaan kamar yang sangat kacau. Hingga matanya tertuju pada kamar mandi yang terbuka dan tampak air bertumpahan di lantai kamar mandi.


“Hawa!!! Anakku!” Teriakan jerit histeris Usi kala berdiri di belakang Pram mendadak membuat tubuh pria itu terjingkat kaget.


Sementara Bulan yang berada di luar baru masuk ketika mendengar teriakan sang mertua.


“Mas, ada apa? Hah!” Bibirnya ia bungkam saat melihat Pram sudah menggendong tubuh basah Hawa yang tak sadarkan diri.


“Ya ampun Mas,” pekik Bulan kaget bukan main, darah yang ia lihat berasal dari pergelangan tangan hawa.

__ADS_1


“Bu, ayo.” Ia segera memapah tubuh Usi mengikuti langkah Pram yang berlari keluar menggendong sang kakak.


Mereka membaringkan Hawa terlebih dahulu di ruang tv di atas sofa. Barulah setelah itu Pram memeriksa nadinya.


“Bu, nyawanya sudah tidak ada lagi.” Tubuh lemas Usi seketika tumbang mendengar penuturan sang anak.


Ia terduduk lemas di lantai menggelengkan kepala. Ternyata ini perasaan yang sejak pagi terasa sesak dan mengganjal. Rupanya Hawa telah pergi meninggalkannya dari dunia ini.


“Tidak, Pram. Kakak mu masih hidup. Kita bawa ke rumah sakit. Ayo cepat Pram.” Wanita paruh baya itu hanya bisa berucap dengan terisak. Tanpa ia bisa berdiri.


Bulan meneteskan air mata melihat kesedihan sang mertua. Bagaimana bisa Hawa melakukan hal seperti ini? Wanita berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga terhormat, bagaimana mungkin pikirannya sedangkal ini hingga memilih mengakhiri hidupnya hanya karena cinta sedarah? Sungguh Bulan miris membayangkan pikiran wanita di depannya ini.


“Bu, yang kuat. Ibu Bulan bantu bangun yuk?” Pelan ia memapah tubuh sang mertua.


Pram hanya diam sejenak berusaha mencerna hal yang baru terjadi. Wanita di depannya telah banyak melakukan kesalahan padanya, namun bagaimana pun ia masih bisa mengingat kenangan masa kecilnya bersama sang kakak. Mereka hidup saling menyayangi meski kerap bertengkar karena mainan.


Sungguh Pram tak bisa menyangka jika takdir hidup mereka kala dewasa akan seperti ini. Setetes air mata jatuh di pipi kiri Pram. Matanya terpejam menahan perih hatinya.

__ADS_1


“Kenapa kau sebodoh ini, Kak? Kenapa kau seperti ini berpikir? Aku adikmu, kenapa kau melakukan ini semua? Lihat Ibu, dia sakit karena ulahmu untuk yang ke sekian kalinya.” Pram bertutur dalam hati tanpa bisa mengekspresikan perasaannya saat ini.


__ADS_2