Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Pertanggung Jawaban


__ADS_3

Seperti hari-hari biasanya, Bulan mendorong gerobak bubur ayam di pagi hari. Berbeda jalur dengan gerobak milik Bu Rini. Mereka berbagi lokasi untuk mendapatkan pembeli yang lebih banyak.


“Ah akhirnya sampai juga. Ya ampun anak Bunda sudah lapar aja sih? Kita belum jualan loh, Nak. Kamu capek yah jalan jauh gini?” Bulan yang tengah menata kursi plastik tampak berbicara sambil mengelus perutnya.


Mendorong gerobak yang lumayan mengeluarkan banyak tenaga membuat Bulan merasakan perih di perutnya.


Segera ia pun meminum susu hamil yang ia bawa tadi dari rumah dan memakan semangkuk bubur jatahnya pagi haru.


Pagi yang masih sangat dingin itu membuat Bulan tenang menikmati sarapannya. Tanpa ia duga, ada sepasang mata yang sudah menatapnya tak suka.


“Nasib kamu malang sekali setelah pergi dari hidup Pram. Tenang, itu masih tidak seberapa, Bulan. Sekarang aku akan tunjukkan nasib yang sebenarnya cocok untuk kamu.” Wanita yang usianya tampak matang itu turun dari mobil dengan tatapan yang terus tertuju pada wanita cantik di depan sana tengah menikmati sarapannya.


Bahkan pembeli bubur pagi-pagi itu pun belum ada yang datang.


Pyar!! Pyar!!


Suara pecahan dan kegaduhan lainnya membuat Bulan terlonjak kaget. Matanya membulat saat melihat gerobak serta mangkuk kaca yang belum ia gunakan sudah habis berserakan.


“Kak Hawa? Apa yang kakak lakukan? Kenapa Kakak pecahin ini semua?” Air mata Bulan jatuh sudah melihat segala dagangannya berserakan tak bisa ia jual pagi ini.


Wajahnya benae-benar sedih melihat barang yang bukan miliknya.


Namun, tak ada jawaban yang ia dengar dari sosok Hawa. Selain hanya senyuman kecil tersungging di wajahnya.


“Cih, mengapa kau masih bertanya? Bulan, ini kehidupanmu yang sebenarnya. Kamu tidak layak hidup setelah menghancurkan kehidupan adikku.” ucap Hawa dengan suara tinggi.


Merasa tak perlu menghormati lagi, Bulan pun meyakinkan diri untuk meminta keadilan.


“Aku tidak ada masalah denganmu, Kak. Sekarang ganti rugi ini semua! Kakak tidak berhak menghancurkan dagangan orang.” tutur Bulan.


Matanya yang sendu berubah menjadi tatapan yang juga marah. Sementara Hawa justru berdiri menantang dengan tangan yang ia lipat di depan dada.


“Ganti rugi? Aku tidak mau. Jadilah gembel, Bulan. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia.” pekik Hawa.


Bulan mendengar ucapan sang ipar sampai menggelengkan kepala. Ada yah orang yang tidak punya sisi baik seperti Hawa ini, pikirnya.


“Aku heran, apa sih salahku dengan Kakak? Bahkan saat ini pun aku sudah tidak bersama Mas Pram. Bukan aku yang meninggalkannya, tapi Mas Pram yang menginginkan ini semua. Lalu dimana letak kesalahanku? Bukankah ini yang kalian inginkan? Apa lagi yang masih kurang?” Teriak Bulan tak bisa mengontrol emosinya.


Amarahnya benar-benar memuncak melihat sikap semena-mena sang ipar padanya.

__ADS_1


“Atau jangan-jangan dalang ini semua adalah kau, Kak? Apa kakak yang menjebakku sehingga Mas Pram mengusirku?” Tebak Bulan menatap dalam kedua mata milik Hawa.


“Cih terlalu percaya diri. Aku tidak punya waktu mengurusi mu.” Ketus Hawa.


Bulan terkekeh sembari menggenggam kedua tangannya menahan emosi. “Tidak punya waktu mengurusi ku? Lalu ini apa namanya? Bukankah ini terlalu tidak penting untuk kakak lakukan?” Usai bertanya seperti itu, Bulan segera merebut tas di depan Hawa. Tangannya bergerak cepat untuk membuka dan mengambil dompet.


“Hei apa yang kau lakukan, Bulan? Bulan kembalikan dompetku!” Hawa terus berteriak hingga akhirnya beberapa pembeli berdatangan.


“Pak, tolong copet!” Hawa kesulitan untuk meraih dompet itu lantaran tubuh Bulan memang sedikit lebih tinggi darinya.


“Jangan berteriak copet! Kau yang sudah menghancurkan jualanku. Itu artinya harus ada ganti rugi.” Beberapa pembeli pun hanya jadi penonton sebab yang mereka lihat memang benar. Semua jualan Bulan hancur dan mereka tentu sudah tahu Bulan lah yang memegang gerobak bubur itu.


“Bulan! Aku bilang hentikan!” Hawa sang marah saat tangan Bulan berhasil mengelurkan cukup banyak uang kertas merah itu.


Hingga tanpa sengaja perebutan itu berakhir dengan kemarahan Hawa yang mendorong tubuh Bulan keras dan terjatuh pada trotoar.


“Ah…” rintihan Bulan merasakan sakit di perutnya seketika menghentikan kebrutalan Hawa.


“Tolong, perutku sakit!” Bulan berteriak sembari memegang perutnya.


“Hei dasar pengacau!”


“Dia pengacaunya!”


Para orang sekitar tampak berteriak ingin membawa Hawa.


Tentu saja Hawa sang panik. Ia menatap cukup panjang orang yang sepertinya akan memihak pada Bulan.


“Tidak, aku tidak boleh di bawa mereka. Ah sialan Bulan mengambil uangku.” gerutunya yang bergegas lari menuju mobil.


Sementara beberapa orang yang ingin mengejar Hawa terpaksa menghentikan aksi mereka saat Bulan terus merintih kesakitan.


“Mba, mba Bulan kenapa?” tanya mereka membantu Bulan untuk duduk.


“Bu, perut saya sakit. Saya hamil muda, Bu.” jelas Bulan yang sangat takut jika sang anak sampai kenapa-kenapa.


Tanpa bertanya lagi, para warga pun segera membantu membawa Bulan ke rumah sakit.


Selama perjalanan Bulan terus meringis kesakitan di bagian perut. Meski darah tak ada yang keluar dari rahimnya. Namun, ia tetap khawatir dengan kandungannya.

__ADS_1


Sementara Hawa melajukan mobil menuju rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya.


“Seharusnya aku bisa mengambil uang itu. Ini semua gara-gara orang miskin itu semua!” maki Hawa pada orang yang menolong Bulan tadi.


Beruntung tas dan dompet sudah ia genggam saat ini.


Kejadian pagi itu pun cukup membuat Bu Rini cemas. Sebab kini jam sudah menunjuk angka sebelas namun Bulan tak kunjung pulang.


“Apa jualannya ramai yah sampai belum pulang juga? Apa sebaiknya aku susul kesana saja?” Bu Rini tampak segera menutup pintu rumah dan berniat menyusul Bulan.


Hingga berjalan beberapa menit di tengah teriknya matahari, akhirnya wanita paruh baya itu tiba di tempat Bulan menyadarkan gerobak bubur ayam.


“Astagfirullah…” kedua tangan Bu Rini membungkam bibirnya terkejut. Matanya mengedar melihat gerobak pecah kacanya dan mangkok yang berserakan serta wadah bubur yang tumpah semua.


Sementara kerumunan orang tadi sudah pada pergi lantaran terlalu lama jarak kejadiannya. Bahkan mereka pun tidak tahu harus melaporkan pada siapa sebab gerobak Bu Rini juga sudah pindah tempat dari biasanya.


“Bulan, apa yang terjadi denganmu, Nak?” Bu Rini sangat cemas kali ini.


Hingga tak berapa lama kemudian ada wanita yang berjalan mendekat ke arahnya.


“Bu, nyari penjual gerobak ini kan?” tanyanya dan Bu Rini sontak menganggukkan kepala cepat.


“Tadi di bawa ke rumah sakit sama orang-orang. Soalnya perutnya sakit.” ujar wanita itu semakin membuat Bu Rini sangat cemas.


“Bu, apa rumah sakit terdekat?” tanya Bu Rini cepat.


Setelah mendapatkan jawaban, akhirnya Bu Rini bergegas ke rumah sakit. Sepanjang jalan ia terus berdoa.


Keadaan yang berbeda di rumah sakit.


Senyum kelegaan di wajah Bulan terpancar saat mendengar penjelasan dokter tadi jika kandungannya baik-baik saja. Dan mendapatkan pengobatan segera.


“Terimakasih, Nak. Kamu sangat kuat ternyata.” ucap Bulan dengan wajah tenangnya.


Hingga Bulan berinisiatif untuk melakukan pembayaran. Tangannya bergerak mengambil sebuah kartu di dompetnya.


“Ini adalah tanggung jawab kamu karena ulah keluargamu, Mas.” ucap Bulan dengan senyum puas melihat kartu yang rupanya tidak ia tinggal saat pergi dari rumah.


Kartu yang ia pikir akan di gunakan mengenai anaknya. Sebab Bulan gengsi untuk menggunakan kartu itu untuk hidupnya.

__ADS_1


Seketika itu juga laporan pembayaran rumah sakit masuk dan terbaca oleh pihak sekertaris Pramudya.


“Rumah sakit Xx? Ada apa dengannya?” tanya Pram pada sang sekertaris yang mendengarkan laporan itu.


__ADS_2