
Beberapa kali ketukan pintu yang terdengar dari arah pintu kamar milik Lesti sontak membuatnya bergegas membuka pintu. Matanya yang berbinar kala melihat sang ibu berdiri di depan pintu kamarnya.
"Les, kok senyum-senyum begitu? Ada apa?" tanya Bu Rini menatap heran pada sang anak.
Namun, mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Lesti tak segera menjawab. Ia justru menggandeng tangan sang ibu untuk memasuki kamarnya. "Ayo masuk ke kamar, Bu. Lesti tadi lagi asik main hp jadi mager mau buka pintunya." terangnya membuat sang ibu menganggukkan kepala.
"Kok main hp? Bukannya siap-siap buat kerja?" tanya sang ibu yang menatap heran pada sang anak.
Lesti tampak acuh, ia memperlihatkan chatnya bersama sang kekasih. "Bu, Lesti hari ini jual bubur aja. Besok baru kerja lagi. Malam ini ada janjian sama Kak Fahmi." Mendengar nama Fahmi di sebut seketika perasaan Bu Rini tak nyaman.
Ia berpikir aneh-aneh dalam hatinya. Entah mengapa sejak mendengar ucapan Bulan kini ia semakin yakin jika pria itu bukanlah pria yang baik. Dan rasanya takut sekali melepaskan Lesti untuk pergi malam ini.
"Les, boleh ibu katakan kalau malam ini jangan bertemu Fahmi dulu?" Pertanyaan yang berusaha selembut mungkin ia lontarkan membuat kening sang anak mengernyit heran.
__ADS_1
Lesti terkejut sebab biasanya ia selalu di perbolehkan bertemu sang kekasih dan kepercayaan sang ibu selalu ia jaga sampai detik ini juga.
"Loh kok di larang sih, Bu? Kan selama ini kami pacaran sehat seperti yang ibu minta. Kenapa giliran mau dinner gini malah di larang?" Wajah kesal sang anak rasanya tak mampu membuat Bu Rini tegas.
Yah, hidup hanya berdua saja membuat mereka saling menyayangi satu sama lain. Membuat sedih sedikit saja rasa bersalah rasanya langsung menggunung. Dan kini Bu Rini memejamkan mata sejenak berdoa untuk kegelisahan hatinya.
"Ya Tuhan, aku mohon perlindunganmu untuk anankku di mana pun berada. Sungguh rasanya tidak sanggup melihatnya bersedih seperti ini."
"Boleh kan, Bu?" Lesti tersenyum lebar menatap penuh harap sang ibu hingga samar ia pun mendapatkan anggukan kepala dari Bu Rini.
"Bulan, ada apa dengan Mba Bulan, Bu?" tanya Lesti antusias.
"Eh bukan apa-apa. Kan dia hari itu ngingatin kita buat cari tahu benar-benar tentang Fahmi dulu. Baru setelah itu kamu boleh memutuskan menikah dengannya. Jadi, ibu hanya mengingatkan kamu untuk tidak melewati batas." ujar Bu Rini yang mendapat anggukan dan helaan napas kasar dari sang anak.
__ADS_1
***
Singkat waktu berlalu, di sinilah sepasang kekasih yang tengah berjanjian untuk dinner. Tepat pukul setengah sembilan malam barulah keduanya usai menikmati makan malam mereka. Meski tak semewa di cerita-cerita novel dan film, namun Lesti sudah begitu bahagia melihat semua yang di persiapkan oleh Fahmi.
"Maaf, Kak. Saya tidak minum itu." ujar Lesti menolak saat Fahmi bergerak hendak menuangkan wine di gelas Lesti.
"Sedikit saja tidak akan berdampak buruk. Sebagai pelengkap dinner kita malam ini." ujar Fahmi terdengar santai namun Lesti diam tak menanggapinya.
"Ayo minumlah, anggap ini sebagai balasan atas semua usaha ku yang aku siapkan jauh-jauh hari untuk malam indah kita ini, Les."
Ragu namun Lesti tak enak juga jika harus menolak kembali. Pelan tangannya meraih gelas dan meneguk minuman yang terasa sangat tidak enak itu. Wajahnya menahan rasa yang sangat membuatnya ingin memuntahkan minuman itu.
Benar, beberapa detik meminumnya Lesti merasa baik-baik saja hingga wanita itu duduk santai menatap wajah sang kekasih di depannya yang kembali meneguk wine di gelas miliknya sendiri.
__ADS_1
Namun, di detik berikutnya kepala yang berdiri kokoh seketika terasa bergerak. Beberapa kali Lesti mengerjapkan kedua matanya menahan pusing.
"Kak, kepalaku pusing." ujarnya yang tak segera mendapat respon dari sang kekasih.