
Kekhawatiran yang di rasakan Bulan sepanjang jalan tak ia sadari jika itu ternyata adalah sebuah feeling. Orang yang tengah ia pikirkan saat ini tentu saja membuat wanita itu tidak begitu menghiraukan keberadaan sang suami yang berada di sampingnya. Pelan, Pram menggerakkan tangan untuk menggenggam tangan sang istri. Dimana Bulan yang sadar akan perlakuan sang suami seketika menghentikan lamunan dan menoleh.
Perjalanan pulang dari rumah Bu Rini terasa sangat sunyi sedari tadi. "Mas?" Bulan menatap suaminya dengan tatapan aneh itu.
"Jangan terlalu berlebihan dalam urusan orang lain, orang yang kamu pikirkan bukan anak kecil lagi yang tidak tahu mengambil keputusan. Yang penting ibunya sudah kamu beri tahu, apa pun yang terjadi berarti itu semua keinginan Lesti." tutur Pram yang khawatir jika Bulan terlalu berperan dalam kehidupan percintaan Lesti akan berakibat buruk ke depannya.
Bulan pun patuh, ia tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mas." jawabnya dan mengikuti pergerakan tangan sang suami yang membawanya bersandar pada bahu kokoh itu.
Tepat seperti apa yang Bulan sangat khawatirkan, siang ini Lesti yang usai berjualan di bantu oleh Fahmi tampak jalan berdua ke rumah Lesti. Sepanjang jalan keduanya saling bercanda tak jarang Fahmi melakukan ciuman curi-curi pada pipi sang kekasih.
"Kak, jangan seperti itu. Nanti ada yang lihat." ujar Lesti malu-malu.
Kontak fisik yang mereka lakukan semakin kesini sudah semakin berani. Bahkan beberapa kali Fahmi mengajak sang kekasih kontak bibir dan Lesti pun mulai suka akan hal itu bahkan candu. Terlalu terbuai dengan kedekatan dan rayuan sang kekasih membuatnya lupa akan janjinya pada sang ibu untuk mengenal lebih jauh dulu pada pria di hadapannya ini.
"Les, malam ini mau nggak makan malam ala-ala kencan orang kaya gitu? Kita selama pacaran kan makannya cuman di pinggiran itu pun tiap kamu atau aku yang ulang tahun." ajak Fahmi tampak membuat Lesti semakin antusias mendengarnya.
__ADS_1
Sebagai wanita yang hidupnya pas-pasan tentu saja Lesti sangat tergiur mendengar kata kencang yang di tawarkan oleh Fahmi. Tanpa berpikir panjang ia pun mengangguk setuju sampai lupa jika sang ibu sudah memberikan tugas di rumah setiap malam padanya mempersiapkan ayam suir untuk mereka jualan besok.
"Mau, Kak." jawabnya.
Fahmi pun mengangguk dan mereka terus berjalan dengan Fahmi yang mendorong gerobak itu menuju rumah dan tibalah saatnya mereka sampai di halaman rumah. Rupanya di sana sudah ada keluarga sang ibu yang tiba lebih dulu.
"Paman Kadir, sudah pulang ternyata?" sapa Lesti yang di ikuti dengan Fahmi mengangguk.
"Halo, Paman." sapanya turut menyapa pria yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan selidik.
"Les, aku pulang dulu. Jangan lupa nanti malam yah?" tanyanya dan Lesti mengangguk setuju.
Kepulangan Fahmi membuat Lesti memutuskan segera masuk ke dalam rumah. Sayang langkah wanita itu harus terhenti kala Pak Kadir bersuara.
"Jaga jarak sama pria seperti itu, Mba Lesti." ucapan dari sang paman membuat Lesti mengernyitkan kening heran. Ia merasa kurang nyaman mendengar peringatan dari sang paman. Terlebih Fahmi dan dirinya sudah lama bersama bahkan sang ibu saja tidak pernah menegur secara frontal seperti tadi.
__ADS_1
"Gimana mau jaga jarak, Paman? kan Kak Fahmi itu kekasih aku bahkan calon suami." jawab Lesti yang cemberut dan langsung melangkah meninggalkan sang paman.
Kepergian Lesti tak lama kemudian muncullah Bu Rini dengan gerobaknya. Wanita paruh baya itu menyandarkan gerobaknya tepat di sebelah gerobak sang adik.
"Mas Kadir, sudah pulang juga ternyata?" tanyanya dengan senyum di wajah.
Pria yang sedari tadi duduk di teras rumahnya tampak mengistirahatkan tubuh segera berdiri membantu sang adik membawa sisa jualan dan perlengkapan lainnya untuk di bersihkan.
"Aku barusan tegur Lesti untuk jaga jarak sama laki-laki itu, rasanya aku punya feeling nggak enak sama laki-laki itu. Sini aku bantu, setelah ini aku harus segera cari kontrakan dan cari kerjaan tambahan, Rin." tuturnya yang membuat Bu Rini menatap sang sepupu.
"Cari kontrakan? Di sini kenapa? Dan feeling apa? Pada Fahmi maksudnya?" Bu Rini bertanya sesuai dengan apa yang membuat ia bingung mendengar ucapan sang sepupu.
"Kita bukan adik kakak, rasanya tidak baik tinggal serumah. Lagi pula aku laki-laki harus bisa bertanggung jawab dengan diriku sendiri. Tenang untuk gerobak ini akan tetap jadi tanggung jawabku. Iya pacarnya si Lesti itu. Dari gerakannya seperti bukan pria yang benar." Pelan Bu Rini meneguk salivahnya kasar.
Siang ini adalah waktu yang ia tunggu untuk bicara pada sang anak, berharap semua akan baik-baik saja setelah ia membicarakan tentang keinginannya untuk Lesti mencari tahu semua tentang Fahmi.
__ADS_1