
Suasana di kediaman sederhana milik Bu Rini begitu terasa sunyi. Kerap kali Lesti memperhatikan sang ibu yang melewati dirinya di depan meja makan. Namun, wanita paruh baya itu tampaknya masih sangat marah dengan sang anak sampai memilih untuk tidak bicara. Di perlakukan sedingin itu oleh ibu sendiri tentu rasanya sangat tidak enak.
Makan sendiri, meski memasak sudah sang ibu lakukan di dapur sendiri tanpa ia membantunya. Tak ada keberanian untuk Lesti membantu sang ibu di dapur memasak. Bahkan jualan pun ia tak berjualan lagi. Sebab sang ibu hanya mengolah jualan untuk dua gerobak saja. Jika ingin jualan pun Lesti artinya harus membuat sendiri dan menyiapkan jualannya sendiri juga.
Di saat dirinya tengah makan pagi itu, tampak Bu Rini sudah menutup pintu rumah dari luar. Wanita itu berjalan mendorong gerobak dengan wajah yang seolah tak terjadi apa pun padanya. Meski tanpa orang tahu jika di dalam hatinya sangat terluka saat ini.
Hati ibu mana yang tidak terluka melihat masa depan anaknya satu-satunya sudah hancur. Bahkan Lesti juga turut mempermalukan dirinya dengan menyerang Bulan yang bahkan tak memiliki salah apa pun pada mereka. Justru Bulanlah yang membuat Bu Rini was was dengan Fahmi.
"Rin," panggilan dari Pak Kadir membuat lamunan wanita itu buyar saat melangkahkan kakinya terus tanpa memperhatikan di depannya.
"Eh iya, Mas. Ada apa?" tanyanya dengan wajah di buat tersenyum.
Pak Kadir tampak menghela napasnya kasar sembari menggelengkan kepala. "Tidak baik seperti itu. Seorang ibu bukan hanya bertugas memberi hukuman. Ada masa depan yang masih bisa kamu perbaiki. Seorang ibu tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja saat tahu tugasnya telah gagal." Perkataan penuh makna pria itu tentu saja membuat Bu Rini diam dan menghentikan langkah kakinya sesaat.
"Tapi aku terlalu kesal sama Lesti, Mas. Dia sudah mempermalukan aku sangat malu rasanya. Bahkan kedepannya entah seperti apa masa depan anakku itu, Mas." keluhnya berterus terang pada sang sepupu.
__ADS_1
Begitulah beratnya menjadi orangtua. Tugas mereka tak hanya serta merta menghidupkan seorang anak dan mencukupi kebutuhannya. Tetapi ada banyak hal yang harus mereka pertimbangkan dan perjuangkan. Bahkan sering kali ketegasan mereka menjadi perselisihan dengan anaknya sendiri.
Hal itu terjadi pada Bu Rini, sedari awal ia sudah mewanti-wanti sosok Fahmi. Namun, Lesti begitu keras kepala mempercayai pria lain dari pada sang ibu sendiri.
"Sabar, saya yakin kamu kuat. Perbaiki semuanya sebelum terlambat. Jangan pikirkan kedepannya di saat semua sudah terjadi. Tapi pikirkan saat ini untuk kedepannya. Lesti masih butuh ketegasan dan kehangatan ibunya." Mendengar penuturan itu keduanya pun memutuskan untuk segera berpisah dengan lokasi jualan mereka masing-masing.
Sepanjang hari itu Bu Rini berusaha menenangkan diri sembari menyibukkan dirinya melayani pembeli. Ia bertekad untuk mendengarkan ucapan Pak Kadir pagi tadi.
"Maafkan ibu, Pak. Tidak bisa menjaga Lesti dengan baik. Dan Ibu berjanji akan membawa anak kita ke jalan yang baik lagi. Ibu akan usaha yang terbaik untuk buah cinta kita. Bapak yang tenang di sana. Ibu tidak akan membuat anak kita sedih lagi." gumam wanita paruh baya itu kala mengingat mendiang sang suami yang sudah tiada.
***
Berbeda halnya dengan keadaan di kediaman Bulan. Wanita itu hanya duduk di sofa ruang televisi menikmati mengobrol santai dengan keluarga sang suami. Dimana Pram sudah bergegas menuju kantor untuk kerja.
"Bulan, apa kau tidak mau membujuk Pram tinggal bersama kita?" pertanyaan tiba-tiba terlontar dari bibir Oma Wulan.
__ADS_1
Tampaknya jawaban Pram tadi masih tak cukup menegaskan jika mereka tak akan pindah dari rumah ini. Bulan merasa serba salah untuk menjawab seorang diri di rumah ini.
Meski ia sendiri pasalnya tak setuju jika pindah menerima ajakan sang oma, setidaknya ini bukan ranahnya untuk memutuskan sesuatu. Ada perasaan keluarga sang suami yang harus ia jaga.
"Bulan ngikut sama Mas Pram saja, Oma. Lagi pula rumah ini juga Mas Pram buat dengan seleranya sendiri yang di berikan untuk Bulan. Pasti dia tidak akan mudah meninggalkan rumah ini. Tadi Mas Pram sudah menjawabnya, kalau Bulan mendesak Mas Pram untuk pindah yang ada nanti dia bisa marah." selembut mungkin Bulan menjawab.
Bukan ia tak tahu bagaimana watak keras sang oma, bahkan sedari awal mereka menikah wanita tua inilah yang sering kali menimbulkan masalah. Itu sebabnya kala mereka sudah berdamai, Bulan sangat menjaga agar tak ada hal sekecil apa pun yang menjadi jarak mereka.
Usi yang melihat sikap wajah ketus sang oma segera bersuara. "Mami, Pram tadi sudah jawab loh. Jangan buat dia marah. Lagi pula orang yang sudah menikah itu kan memang lebih bagus jika tinggal sendiri. Mereka juga butuh privasi mereka, mami." ujarnya.
"Tapi kamu kan bisa saja buktinya tinggal sama kita selama menikah." sahut Oma Wulan menatap sang menantu.
Usi hanya diam mendengar ucapan mertuanya. Bagaimana ia tidak bisa tinggal bersama sang mertua. Bahkan selama sang suami masih ada hingga tiada, Oma Wulan begitu keras pada mereka dan memaksa mereka tinggal di rumah utama.
Dan apa yang Usi rasakan menjadi menantu yang tak di anggap tentu ia tak ingin hal itu terjadi juga pada Bulan. Selama tinggal bersama keluarga besar, Usi harus menelan pil pahit kehidupan menjadi menantu keluarga Opa Rasja dan Oma Wulan.
__ADS_1