Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Keegoisan Bulan


__ADS_3

Bolehkan kali ini saja Bulan ingin egois. Tak ingin mendengarkan siapa pun yang bersuara di depannya. Berkali-kali selama ini ia menghadapi masalah dengan keadaan diri yang sangat sakit namun tetap diam. Tanpa melawan sedikit pun. Sampai pada titik ia benar-benar lelah kala masalah kembali datang bahkan tak satu pun orang menjadi tameng untuknya. Satu-satunya harapan adalah sang suami, namun kekecewaan benar-benar menampar Bulan dengan kenyataan di mana sang suami justru tidak mempercayai dirinya.


Sumpah demi apa pun, setiap kali kejadian itu terulang di ingatan Bulan. Saat itu pula dadanya sangat panas seperti ingin meledak. Kepalanya seakan ingin keluar dari tengkorak kepala itu. Bulan tak ingin lagi semua terjadi dengan dirinya yang berjuang seorang diri dengan mendengar ucapan orang di sekelilingnya.


Untuk itu Bulan benar-benar bertekad saat ini untuk tetap pada pendiriannya sendiri. Setidaknya sulit memberikan maaf pada orang akan membuat mereka tak semena-mena merendahkan orang lain.


"Maaf. Saya ingin tetap di sini dan bekerja di sini. Tolong kalian segera pulang, sebab saya di sini hanya menumpang." ujar Bulan yang memang enggan menatap siapa pun pada saat ini.


Keadaaan tampak hening. Jika mendengar ucapan dari Bulan semua sudah tahu saat ini Bulan sama sekali tidak tergerak untuk menerima maaf mereka dan ikut pulang bersama mereka. Hingga akhirnya Opa Rasja yang tahu semua tak akan mudah untuk di selesaikan dalam waktu singkat memilih angkat suara.


"Opa dan semuanya minta maaf, Bulan. Tapi biarkan kami tetap bertanggung jawab dengan cicit kami dan memberikan cinta kami padanya. Saat ini Opa dan lainnya akan pulang. Tapi di hari lain ijinkan kami untuk datang menjengukmu kembali." Ujar Opa Rasja yang membuat Bulan hanya tetap diam.

__ADS_1


Berusaha kuat untuk tetap baik-baik saja, Bulan tak ingin meruntuhkan pertahanannya dengan menatap mereka yang tentu akan menjatuhkan air matanya saat itu juga.


"Bu, saya ke belakang dulu. Ayamnya sudah jatuh biar Bulan bersihkan dulu." Pamit Bulan justru pada Bu Rini yang tak tahu harus berucap apa selain hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Lesti memandang sang ibu dengan wajah heran dan Bu Rini tampak diam saja.


"Tuan Pram, sebaiknya pulang dulu. Biarkan saya menenangkan Bulan. Dia masih belum bisa menerima semuanya, mungkin ini juga pengaruh karena hamil muda di  mana ia lebih sensitif." Bu Rini yang mendengar semua kisah Bulan yang pilu sebenarnya kasihan.


Namun, saat ia melihat tekad baik keluarga Pram datang bersama Pram membuatnya paham jika mereka benar-benar merasa bersalah dan berniat untuk memperbaiki semuanya. Jelas sakit yang Bulan rasakan tak akan mudah untuk di obati. Semua wanita pasti akan sangat murka jika mendapat tuduhan memalukan seperti itu dari suami sendiri saat hamil benih sang suami.


Sepakat dengan berat hati Pram meninggalkan rumah sederhana itu bersama para keluarga. Rasanya ia tak ingin meninggalkan sang istri lagi. Yang ada di dalam pikiran Pram saat ini membawa pulang sang istri ke rumah mereka dan menghabiskan waktu berhari-hari berdua untuk menebus waktu yang mereka buang selama ini. Tapi, sayang semua tak bisa sesuai dengan apa yang ia harapkan.

__ADS_1


Bulan terlalu sakit untuk bisa memaafkan semuanya. Ia tak bisa lagi berkata apa pun saat wanita itu pergi ke dapur meninggalkan mereka semua. Andai saja Pram tak bersalah, tentu ia bisa sesukanya menarik paksa sang istri pulang dan semua akan baik-baik saja. Sayangnya, saat ini masalahnya sangat fatal.


Dimana Pram sudah meragukan kesetiaan sang istri yang termasuk merendahkan harga diri Bulan. Secara tidak langsung Bulan sudah di tuduh bersetubuh dengan  pria lain selain suaminya sendiri sehingga menghasilkan janin yang ada di perutnya saat ini.


Belum lagi Pram memikirkan jika hal itu termasuk ke dalam ia tak mengakui anak itu. Sungguh Bulan sangat tidak terima anaknya tak di akui dengan ayahnya sendiri.


"Pram, tenanglah. Semua butuh waktu. Ibu juga seorang wanita, tentu Ibu paham rasanya sakit Bulan. Kamu harus sabar dan tunjukkan kesungguhan kamu memintanya kembali. Bulan tidak lagi marah, Ibu tahu itu. Dia hanya butuh di perjuangkan saat ini. Buat kekecewaannya itu berubah menjadi cinta yang kembali tumbuh. Tidak ada kata terlambat untukmu memperbaiki semuanya. Perjuangkan anak dan istrimu, Pram." Nasihat Usi membuat Pram menatap dalam sang ibu.


Ia sangat tenang mendengar dukungan sang ibu yang menurutnya membuat ia semakin kuat dan mantap untuk terus maju.


Setelah kepergian mereka semua kini tampak Bu Rini yang datang ke dapur bersama Lesti mendekati Bulan. Bukan seperti yang Bulan katakan di depan sang suami tadi untuk meneruskan pekerjaannya di dapur. Justru wanita itu tengah terduduk di kursi meja makan dengan menangis tanpa suara. Bulan menelungkupkan wajah di kedua tangan yang ia lipat di meja makan. Isakan yang terdengar membuat Bu RIni dan Lesti saling pandang lalu mendekat.

__ADS_1


"Bulan, sudah Nak." lembut tutur kata Bu Rini tak membuat Bulan mampu menghentikan tangisannya. Ia hanya bisa mengangkat kepala dan beralih memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Aku lelah, Bu. Kali ini aku ingin mempertahankan apa yang menurutku benar. Aku tidak mau lagi mendenga ucapan siapa pun. Selama ini aku selalu mendengar kata orang tapi setiap kali hal itu memunculkan akibat buruk tidak ada yang bisa membantuku bahkan untuk berdiri di sampingku, Bu. Aku benar-benar lelah kali ini. Hatiku terlalu sakit, Bu di tuduh seperti itu oleh Mas Pram. Anakku yang aku kandung di ragukan oleh ayahnya sendiri, Bu." Sungguh ucapan dan isakan dari Bulan terasa menyayat hati Bu Rini yang notabennya saja bukan ibu kandungnya Bulan.


__ADS_2