
Suasana berduka cita masih menyelimuti kediaman Opa Rasja dan Oma Wulan. Meski pemakaman telah usai namun banyaknya kerabat yang datang bergantian mengucapkan bela sungkawa membuat keluarga tak hentinya meneteskan air mata. Jika saja kepergian Hawa adalah hal yang tidak sangat mengejutkan mungkin keluarga dengan tenang melepaskannya.
Namun, miris yang mereka rasakan saat Hawa pergi dengan status yang masih lajang tetapi dengan cara bunuh diri.
“Maafkan Pram, Oma, Opa.” Suara pria yang merasa semua turut andil dari kesalahannya justru merasa bersalah. Meski ia tidak suka dengan pikiran sang kakak namun Pram pikir mungkin ada cara yang jauh lebih baik dari pada bersikap tegas dan keras pada almarhumah.
Para keluarga tampak duduk berkumpul di ruang keluarga, bola mata Opa Rasja menatap sang cucu. Pelan ia menghela napasnya.
“Jangan minta maaf, Pram. Ini murni bukan kesalahanmu. Kakakmu telah memilih jalan yang salah. Dan kamilah yang seharusnya bisa tegas padanya. Bahkan Oma mu mendukung tindakan tercela Hawa di awal.” Pria tua itu menundukkan kepala tak habis pikir.
Bagaimana mungkin keluarga mereka mendapatkan hal seperti ini? Keluarga yang di pandang penuh hormat dari orang sekeliling.
__ADS_1
“Pram, ini bukan kesalahanmu. Oma berperan banyak dalam hal kesalahan Hawa. Sudah saatnya kamu memikirkan kebahagiaan pernikahanmu bersama Bulan. Hiduplah dengan baik kalian.” Kini berganti Oma Wulan yang bersuara.
Usi pun turut senang mendengar sang anak sudah mendapat restu baik dari kedua mertuanya.
“Kalau begitu kalian istirahatlah. Malam ini tetaplah di sini bersama Bulan. Rumah akan terasa begitu sepi kalau kalian harus pulang secepat ini.” Tak bisa menolak Pram menoleh menatap sang istri, dimana Bulan pun mengangguk kecil.
Ia tidak mungkin menolak permintaan sang opa dan oma. Terlebih kedua orang tua itu pasti masih merasakan duka yang begitu mendalam.
Memilih untuk istirahat, akhirnya Pram dan Bulan merebahkan tubuh mereka di kamar milik Pram. Keduanya baru saja usai membersihkan tubuh mereka.
“Kemari, aku ingin menyapa anak kita.” Pram kembali mendekat bukan lagi dengan tangan melainkan wajahnya bersampingan dengan perut sang istri.
__ADS_1
“Anak ayah…setelah semua selesai maukah ikut jalan-jalan? Bunda mu sepertinya butuh suasana baru.” ujar Pram yang terdengar biasa namun terasa begitu hangat di telinga Bulan.
Perpisahan yang menyakitkan tak pernah ia sangka akan menjadi pertemuan kembali dan cinta yang baru seperti terasa tumbuh lagi di antara mereka.
“Aku harus kembali bekerja, Mas. Gerobak Bu Rini kasihan nganggur. Aku harus tanggung jawab.” ujar Bulan mengingat jasa seorang wanita yang tengah menganggapnya anak di saat semua orang terdekat justru mengucilkan Bulan.
Sepasang bola mata Pram menatap ke arahanya dengan tatapan hangat. “Benarkah? Kalau begitu besok kita akan berjualan bersama.” tuturnya tenang.
“Mas, jangan. Tolong jangan seperti itu. Kita punya tanggung jawab masing-masing. Jangan membuatku jadi buruk di mata keluargamu lagi karena kau mengacuhkan perusahaan.” Bukannya mengiyakan, Pram justru bangkit dari pembaringan. Tubuhnya bergerak begitu cepat memeluk tubuh sang istri dan memposisikan Bulan di atas tubuhnya.
“Mas, lepas.” pintah Bulan hendak bergegas turun. Dadanya terasa begitu kencang berdetak kala melihat tingkah suaminya.
__ADS_1
Tak ada respon yang Pram berikan selain menatap dalam kedua bola mata Bulan.
“Kamu adalah tanggung jawabku. Dan anak kita adalah tanggung jawabku yang sesungguhnya.”