Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Hilangnya Sosok Yang Hangat


__ADS_3

Pram yang ingin membuat Lesti sakit tanpa meninggalkan jejak. Meminta Fahmi untuk mengatakan semuanya. Meski ragu, akhirnya Fahmi mau jujur. Menatap Lesti yang menangis melihat luka di beberapa wajah sang pria.


“Aku sangat mencintai, Bulan. Sejak awal bertemu aku sudah jatuh hati pada Bulan, Les.” Satu ungkapan itu sontak membuat Pram lepas kendali dan menendang berkali-kali tubuh Fahmi.


Murka rasanya mendengar sang istri yang tengah mengandung anaknya masih bisa di cintai pria lain. Pram tak akan tinggal diam jika ada pria lain yang menyukai sang istri.


“Tolong, Tuan hentikan. Jangan sakiti Kak Fahmi.” mohon Lesti namun Pram meminta Fahmi melanjutkan ucapannya.


“Berkali-kali aku mengejar dan menyatakan cinta pada Bulan. Namun ia selalu menolakku. Hingga aku tak bisa lagi menahan diri dan melampiaskannya pada Lesti.” jelas Fahmi yang semakin membuat Pram mendidih.


Ucapan Fahmi barusan sama saja artinya membayangkan sang istri dalam fantasi liarnya. Sungguh sulit di terima.


“Rasakan ini!” Bertubi-tubi Pram menghajar pria itu. Tak perduli bagaimana Lesti mejerit memohon di hentikan.


Niat hati ingin menyakiti Lesti dengan penghinaan sebab sudah melukai istrinya. Sayangnya Pram tidak sesabar itu untuk bisa mengendalikan amarahnya mendengar bagaimana Fahmi bejatnya pada sang istri.


Menginjak, menendak, memukul segala macam sudah Pram lakukan hingga ia melihat Fahmi tak lagi bergerak. Pria itu sudah tidak sadarkan diri lagi. Selepas dari melampiaskan amarah, pria itu bergegas pergi meninggalkan rumah itu.


Bukan melepaskan begitu saja, ia meminta para anak buahnya membiarkan mereka pergi namun tetap dalam pengawasan.


Sementara Lesti yang di antar pulang kini menangis di dalam kamarnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya ke depan. Bahkan hubungannya dengan Fahmi tak bisa lagi di lanjutkan setelah ia tahu sang pria begitu menggilai wanita lain.

__ADS_1


“Kamu jahat, Kak. Salah apa aku sama kamu selama ini, Kak?” ujarnya di sela-sela tangis.


Seorang diri rumah tentu saja membuat Lesti tak bisa menenangkan diri dengan nasihat siapa pun. Bahkan sang ibu saat ini saja tengah menghabiskan waktunya sengan Bulan.


Seolah Lesti hanyalah anak angkat.


Berbeda suasana dengan rumah sakit. Bulan begitu bahagia di kelilingi orang-orang yang baik padanya.


“Mas, kamu baru pulang? Baju kamu…” Bulan menatap takut sang suami. Melihat Pram pulang dalam keadaan kusut berkeringat serta ada beberapa noda darah di bajunya.


“Aku baru pulang, Sayang. Sekarang semuanya aman. Kamu tenang saja. Tidak akan ada yang berani macam-macam sama kamu lagi.” Pelan tangan kekar pria itu mengusap punggung tangan Bulan.


Bukannya tenang mendengar ucapan suaminya, Bulan justru semakin takut. Setelah ia beralih menatap Bu Rini yang juga sama takutnya. Jangan sampai Pram menghabisi nyawa Lesti begitu isyarat tatapan keduanya.


“Dia baik-baik saja. Sekarang dia sudah pulang. Ibu, sekarang bisa pulang temui dia.” jawab Pram lalu beralih pada Bu Rini.


Tanpa mengatakan apa pun Bu Rini sudah melangkah cepat meninggalkan ruangan itu.


“Mas kamu yakin? Mba Lesti baik-baik saja? Lalu ini?” Bulan menunjuk pada baju suaminya yang terdapat noda merah.


Usi dan lainnya hanya diam menunggu jawaban dari Pram. Meski mereka yakin Pram tak akan mungkin melakukan apa pun melebihi batasnya.

__ADS_1


Tanpa mereka duga, pria itu justru memeluk erat tubuh Bulan. Pram mencium puncak kepala istrinya beberapa kali.


“Apa pun kesalahan Mas di masa lalu. Tolong, maafkan Mas, Bulan. Mas sangat menyesal. Bahkan Mas tidak tahu apa yang telah kamu hadapi. Seharusnya Mas tidak percaya siapa pun selain istri Mas sendiri.”


Usi yang mendengar penuturan sang anak sontak mengajak semua keluar dari sana. Arah pembicaraan Pram akan menjurus pada pernikahannya dengan Bulan. Dan tidak baik jika mereka mendengar hal itu.


Bulan pun membalas pelukan suaminya. “Aku sudah memaafkan semuanya, Mas. Aku sangat mencintai suamiku ini. Jadi, tolong berhentilah meminta maaf. Sebab yang aku penasaran apa yang sudah mas lakukan pada mereka?” Bulan melerai pelukan itu dan membuat Pram berdiri kembali.


“Mas hanya memberi pelajaran pada pria itu. Dan mereka sekarang akan mendapat pengawasan dari anak buah Mas. Kamu akan baik-baik saja, Sayang. Kita akan hidup bahagia dengan anak kita nanti.”


Mereka sama-sama tersenyum bahagia. Bulan dan Pram memilih saling tatap untuk beberapa saat.


Sedang di sisi yang berbeda, rumah sederhana milik Bu Rini akhirnya terlihat dari kedua mata wanita paruh baya itu. Langkahnya tergesa memasuki rumahnya. Bukan untuk menemui sang anak, melainkan ia tengah memeriksa bahan jualan untuk esok hari.


Tak ingin larut dalam masalah, Bu Rini memilih menenangkan diri dengan sibuk jualan.


Pergerakannya tentu saja tak lepas dari pandangan sang anak yang berdiri di pintu kamar. Bolak balik Lesti melihat sang ibu melewatinya tanpa berniat menegur sang anak.


Melihat itu Lesti merasa terasingkan. Sikap sang ibu yang biasa hangat dan selalu bertutur kata lembut kini tak ia temukan lagi.


“Bu, Lesti mau bicara.” ujarnya pelan dan takut-takut.

__ADS_1


Namun ucapan itu sama sekali tidak di gubris oleh wanita paruh baya itu. Bu Rini justru meneruskan langkah kakinya menuju dapur dengan wajah yang lurus menatap ke depan.


__ADS_2