
Mendengar keterangan dokter jika semuanya baik-baik saja, akhirnya Pram meminta saat itu juga untuk pulang. Rupanya pingsannya itu hanya di sebabkan kaget bukan benturan yang parah saat kecelakaan. Bahkan semua keluarga tampak menghela napas dan mengusap dada mereka mengucap rasa syukur.
"Opa dan lainnya, pulanglah lebih dulu. Aku harus melanjutkan tujuanku menjemput Bulan. Aku tidak ingin menunda waktu lagi." ujar Pram yang membuat semuanya saling menatap dalam.
Hingga beberapa saat terdengar hening, akhirnya Oma Wulan yang berbicara saat ini. "Mari kita jemput bersama, Oma harus menjelaskan semuanya dan mendapatkan maaf dari Bulan. Karena Oma yang menyebabkan semuanya." tutur Oma Wulan sontak membuat Pram berpikir.
Ia takut saja jika nantinya akan ada ucapan sang oma yang justru membuat Bulan merasa tersakiti kembali. Hingga akhirnya Pram memutuskan untuk menolak secara halus.
"Oma, biarkan Pram saja sendiri yang menyelesaikannya. Bulan adalah istriku. Oma dan Opa pulanglah untuk istirahat." tutur Pram sembari tersenyum hangat.
Ia sangat senang melihat keluarganya sedikit berubah meski tidak tahu sedalam apa rasa penyesalan yang oma Wulan rasakan saat ini. Yang terpenting mereka sudah tidak begitu membenci Bulan. Entah Pram sendiri pun tidak mengerti mengapa mereka begitu menolak Bulan yang hanya dari kalangan biasa saja.
Bahkan Bulan sangat baik pada mereka selama ini. Tidak pernah sedikit pun ia merasa tersinggung dengan ucapan keluarga Pram. Mendapatkan penolakan dari sang cucu, tak membuat Oma Wulan menyerah begitu saja. Ia tetap kekeuh untuk ikut.
__ADS_1
"Oma akan ikut, ayo. Jangan menolak lagi, Pram. Oma harus mempertanggung jawabkan ini semua."
Tanpa bisa di bantah mereka semua pun ikut dengan Pram ke arah tempat yang sedikit jauh dari pusat kota itu. Namun tidak memakan waktu begitu lama. Sebuah mobil mewah terparkir rapi siang ia di halaman rumah sederhana sesuai dengan perintah Pram yang di beri tahu sang anak buah.
Dari dalam rumah tampak Bu Rini yang bersiap-siap menuju toko sembako untuk membeli bahan jualan besok. Keningnya mengernyit kala melihat dari dalam rumah tepatnya jendela yang ia singkap gordennya sedikit. Matanya menajam berusaha mengenali sosok pria tampan yang bertubuh bak atlet itu berjalan mendekat menuju rumah sederhana miliknya. Tak lupa melihat ada beberapa luka yang belum kering di wajah tampan dan putih itu.
"Siapa yah? Seperti pejabat rapi sekali?" gumamnya mengingat-ingat siapakah sosok pria di pandangannya saat ini.
Dari arah kamar tampak Lesti keluar memperhatikan sang ibu. "Bu, kok ngintip-ngintip gitu? Ada apa sih? Ibu lagi nggak ngutang sama rentenir kan?" tanyanya membuat tubuh Bu Rini seketika terkejut.
"Permisi!" teriakan dari Pram membuat Laurent turut mendekat dengan sang ibu dan mengintip juga.
"Haaaah....?" ujarnya yang sangat kaget melihat sosok pria seperti model majalah berdiri tegap di depan pintu yang mungkin sudah sampai di kepala pria itu lantaran terlalu tinggi.
__ADS_1
"Bu, Lesti sudah punya Mas Fahmi. Ibu mau menjodohkan Lesti sama itu?" tanyanya yang justru membuat Bu Rini menepuk jidatnya.
Habis di rawat di rumah sakit beberapa hari sepertinya Lesti terkena virus di otaknya. "Hah kamu ini kok malah bicara ngawur sih. Sini Ibu maub buka pintunya." tutur Bu Rini yang mendorong pelan sang anak dan membuka pintu itu cepat.
"Eh...maaf. Cari siapa yah?" tanya Bu Rini dengan senyuman lebar.
Namun, tak lama setelah itu manik matanya terfokus pada mobil yang terbuka satu persatu pintunya. Di sana ada beberapa orang yang ia lihat. Keningnya semakin mengerut tak mengenali siapa semua yang datang ke rumahnya saat ini.
"Apa benar di sini Bulan tinggal? Saya..." Pram yang tak ingin bicara basa basi seketika membulatkan matanya saat mendengar suara dari arah dalam yang sangat ia rindukan selama ini.
"Bu, ini Pak Iyan sudah selesai katanya perbaiki gerobak..." Sama dengan Pram yang tak sempat melanjutkan ucapannya. Bulan pun juga menggantung ucapannya saat melihat dari celah antara Bu Rini dan Lesti ada sepotong wajah pria tampan yang terus ia mimpikan selama berpisah kini.
Tubuh Bulan menegang tak bisa bergerak lagi saat ini. Ia berdiri di tempatnya saat terakhir melangkah sebelum melihat wajah sang suami. Sungguh rasanya Bulan seperti mimpi, bahkan potongan ayam yang tengah ia bersihkan di tangannya meneteskan air di lantai tak lagi ia perhatikan.
__ADS_1
"Mas Pram..." lirihnya tak tahu harus berkata apa dan melakukan apa. Tubuh dan pikirannya terasa mati tiba-tiba. Sama dengan sosok Pria yang juga mematung di depan sana tanpa melanjutkan ucapannya.