
"Permisi!"
Suara seseorang tampak beberapa kali mengganggu sang pemilik rumah. Bahkan ketukan di pintu rumah sederhana malam itu pun membuat sang pemilik rumah yang baru menyelesaikan mandi malamnya usai bekerja siang sampai malam terpaksa buru-buru memakai pakaian.
"Siapa sih yang ketuk-ketuk pintu? Bapak kan biasanya bawa kunci rumah apa lupa yah?" gumam wanita paruh baya yang tampak berjalan cepat keluar kamar dan membukat pintu.
Pandangan matanya menatap ke arah depan dimana sosok pria yang biasa ia lihat sejajar dengannya tidak begitu tinggi kini lantas berbeda. Menengadah menatap wajah yang jauh lebih tinggi dan tampak.
"Siapa yah?" tanya wanita itu dengan wajah yang penuh kekaguman.
"Saya Pram, bisa saya menginap di sini?" tanyanya yang tanpa menjelaskan dari awal maksud kedatangannya.
Mendengar penuturan pria di depannya justru membuat wanita itu menganga tak percaya. "Hah? Tidak, tolong jangan lakukan apa pun? Saya sudah sangat tua, suami saya di luar bekerja keras untuk saya, tolong Tuan jangan masuk ke rumah saya." wajah wanita itu tampak ketakutan dan Pram justru kaget mendengar ucapannya.
Niat hati ingin menginap justru ia harus di sangka pria jahat. "Bu, saya bukan orang jahat.."
__ADS_1
"Tolong, Tuan. jangan sakiti saya. Saya sungguh bukan wanita yang cantik. Tubuh saya kendur semua."
Merasa enggan bicara panjang lebar, Pram sadar kedatangannya yang malam tentu membuat siapa pun akan berpikiran ia lelaki jahat. Bahkan menemui wanita yang berada di rumah seorang diri sungguh tidak baik. Hingga akhirnya ia bergegas mengeluarkan uang cash yang hanya bernilai dua juta saja. Rasanya tidak akan kurang untuk menutup mulut wanita di depannya ini.
"Ini saya berikan uang ini..."
Menggeleng wanita itu menolak cepat. "Tidak, Tuan. Tolong saya wanita baik-baik. Meski saya wanita miskin dan tua tapi saya punya harga diri. Saya tahu anda sangat tampan tapi tolong Tuan saya sangat mencintai suami saya, Tuan."
Astaga sumpah demi apa pun Pram tak tahu lagi harus berkata apa saat ini. Kepalanya pusing dan tubuhnya lelah. Ia inginĀ segera beristirahat. Melihat sekeliling, rasanya hanya rumah ini yang paling dekat jaraknya dengan rumah Bulan.
Telak, wanita itu terbungkam bibirnya saat mendengar ucapan Pram yang justru berniat untuk menjaga istrinya. Bukan berniat untuk menggoda wanita tua sepertinya.
"Oh istri? hehehe boleh kalau begitu. Silahkan Tuan, saya dengan senang hati mengambil uang ini. Kalau begitu saya tunjukkan kamarnya. Mari..." ujarnya segera menarik cepat uang Pram dan menarik tangan pria itu masuk ke rumahnya.
Hilang sudah rasa takut yang ia rasakan tadi. Kini justru Pram yang merasa takut saat tangannya di genggam erat tangan wanita yang tua di depannya.
__ADS_1
"Astaga jangan sampai aku yang di apa-apakan ibu ini?" batin Pram terus melangkah masuk ke dalam rumah yang berlampu remang-remang itu.
"Ini kamarnya, Tuan, Saya sudah bersihkan. Silahkan istirahat, kalau ada apa-apa panggil saja saya di rumah yang di depan rumah warna kuning itu. Saya tinggal di tempat adik saya untuk malam ini." tuturnya menunjukkan rumah yang masih terlihat dari arah ruang tamunya.
Pram diam tanpa berniat membalas ucapan wanita itu. Yang ingin ia lakukan saat ini hanya mandi dan istirahat. Satu set pakaian yang ia bawa sudah Pram letakkan di kamar kecil yang hanya berisikan kipas angin kecil.
Sendiri di rumah sederhana membuat pria itu memilih mandi dan berganti pakaian.
Tanpa ia tahu di dalam rumah, Bulan justru mengintip kembali sang suami. Seperti malam sebelumnya, aksi Bulan kembali tertangkap basah oleh Bu Rini.
"Kasihan suami kamu, Bulan. Apa tidak bisa semuanya di selesaikan baik-baik? Ibu lihat Pram benar-benar menyesali perbuatannya." ujar wanita paruh baya itu tidak sanggup melihat kesedihan di wajah Bulan setiap malam.
Jelas bukan hanya kesedian, Bulan tentu sangat khawatir dan kasihan pada sang suami.
"Mobilnya ada di depan, Bu. Tapi orangnya kok tidak ada yah? Apa mas Pram berbohong meninggalkan mobilnya di depan rumah biar saya mengira dia menjaga saya dan datang di pagi-pagi buta?" tutur Bulan menerka apa yang ia pikirkan saat ini.
__ADS_1
Dalam pikirannya Pram tidak akan kuat jika harus berjuang terus menerus dengan keadaan yang sangat tidak nyaman hidup susah dan lelah yang harus ia tahan sampai batas waktu yang belum di tentukan.