
"saya mau tanya ustad" Kata saras
"silahkan mau tanya apa?" jawab ustad ilyas dengan tenang dan senyum manis di bibir nya,tapi lain hal nya dengan ku yang deng-dengan bukan Karna ustad ilyas senyum tapi karna saras yang akan bertanya aku takut Dia bertanya macam-macam.
"boleh tanya apa aja kan ustad? "Kata saras
duh perasaan ku mulai tidak enak ni
"boleh,silahkan" kata ustad ilyas sopan
"kan tadi ustad bilang belum punya pacar dan tentunya belum beristri nah sekarang aku mau nanya ustad udah menemukan seseorang yang ustad ingin melamar dan dijadikan istri belum"
tuh kan bener firasat ku laras memang kadang-kadang agak gesrek "oh tuhan punya teman gini amat" aku hanya bisa membatin dan menahan malu
" maaf sebelumnya saya boleh tahu namanya siapa?" kata ustad ilyas kepada saras dengan ramah dan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya
" nama saya sarah dan ini teman saya citra dia ini teman yang baik ustad saya cuman punya satu teman nah ini dia orangnya bail, tapi sangat dingin dan pendiam" kata saras dengan pd nya waktu saras menyebut nama ku, aku langsung mendongkrak menghadap saras dengan wajah yang sudah menahan amarah dan mail tapi dianya cinere kuda.dan aku bisa pastiin semua orang sedang menatap kami.
" baiklah saya akan menjawab pertanyaan dari saudari saras, calon sih belum ada untuk sekarang tapi tidak tahu ke depannya akan seperti apa hanya tuhan yang tahu jodoh, rejeki, maut itu semuanya sudah diatur oleh yang maha kuasa" jawab ustad ilyas masih dengan senyuman yang sangat mempesona
" ustad kalau kita di caci, dihina dan diremehkan orang lain dan kita hanya bisa diam tapi, ***dalam hati kita berkata aku harus sukses agar mereka tidak bisa menghina aku lagi aku harus buktiin sama mereka kalau aku bisa dan akan aku pastikan bahwa* mereka yang ngatain aku akan menyesal di kemudian hari nanti**, apakah kita salah ustad berkata seperti itu? " tanya saras dengan bersungguh-sungguh sontak aku menatap wajahnya yang serius dan aku tahu maksud dia mengatakan itu dan aku juga sudah tahu betapa berat perjalanan hidup dia selama ini jujur, aku salut dengan sikap saras yang terkadang sangat dewasa tapi tidak jarang juga dia sangat menyebalkan.
__ADS_1
" pertanyaan nya sangat bagus mungkin tidak semua orang merasakan gimana rasanya di caci, dihina dan diremehkan dan bagi mereka yang sudah merasakan hal demikian pasti akan berkata sama seperti saras, tapi alangkah lebih baiknya kalau kita tidak menghiraukan mereka, biarkan mereka berkata sesuka mereka karena sukses mu hanya untukmu bukan untuk yang lain, dan jika kamu berpikir kamu harus berusaha untuk membuktikan kepada mereka bahwa kamu mampu tidak sepenuhnya kamu salah berkata demikian tapi, sedikit dari perkataan itu di dalamnya ada balas dendam"
" mengapa demikian ustad? padahal saya tidak berniat untuk membalas kan dendam, saya hanya berniat untuk membuktikan saja bahwa saya mampu bahwa saya tidak sehinina yang mereka pikirkan" kata saras kembali tidak terima bahwa dia dikatakan ingin balas dendam
" memang kamu tidak berniat untuk balas dendam tapi alangkah lebih baiknya kamu berniat lillahi ta'ala agar allah meridhoi langkah kamu memudahkan langkahmu untuk terus menggapai mimpimu jangan pikirkan perkataan orang lain karena itu hanya akan membuatmu lebih fokus kepada dunia bukan akhirat" kata ustad ilyas
"ada lagi yang ingin bertanya"kata ustad ilyas kembali
"teman saya ustad"kata saras kembali, dan itu membuat mataku yang indah membulat sempurna Pasal nya saras tidak punya teman selai aku.
"aku tidak mau bertanya saras" Kata Ku Pelan tapi tegas dan tidak lupa tangan just mencubit pahanya karna geram, tapi yang Di cubit hanya nyengir kuda
" terima kasih ustad, sebenarnya saya bingung mau bertanya apa tapi, karena sudah dipersilahkan tidak enak juga kalau tidak bertanya" kata ku dengan senyum terpaksa
" ustad, jika seseorang berjanji kepada kita dan kita pun berjanji kepada orang itu baik itu teman, orang tua adapun sahabat, kita sama-sama saling berjanji untuk tidak pernah melupakan satu sama lain walaupun jarak memisahkan, akan tetapi janji itu di ingkari salah satu dari mereka dan diikuti oleh yang lainnya tapi ada satu orang yang setia menunggu, apa yang harus dia lakukan? haruskah dia tetap menunggu atau pergi mengikuti jejak mereka untuk saling melupakan?" Kata Ku panjang lebar, tapi pas aku melihat kiri kanan semua orang sedang menatap ku tidak terkecuali saras
"celaka 12 apakah aku salah bertanga? atau aku terlalu lama menjelskan? aduh malu nya, tapi kenapa ustad nya senyum seperti itu" batin ku
" pertanyaanmu sangat bagus jujur saya sendiri bingung saya sendiri bingung harus menjawab seperti apa ini saran saya bisa kamu terima bisa juga kamu tolak" kata ustad ilyas dan aku pun mulai mendengarkan begitu pun yang lain
"jika kamu sudah berjanji itu artinya kamu sedang berhutang, kita semua sama-sama tahu janji itu adalah hutang dan hutang itu harus dibayar, begitu juga dengan kamu jika kamu berjanji untuk tetap ada dan tetap menunggu mereka maka kamu harus tetap ada dan menunggu mereka walaupun mereka pergi dan meninggalkanmu"
__ADS_1
"tapi jika kita tetap menunggu dan mereka tetap tidak datang maka kita harus berbuat apa ustad?" tanya ku kembali
"tugas kamu hanya tetap menunggu"jawab nya kembali
" tapi semua orang pasti tahu menunggu itu adalah hal yang paling membosankan" kata just kembali
" dan menunggu itu adalah hal yang paling bagus untuk mengajarkan kita tentang arti bersabar dan balasan bagi orang-orang yang bersabar akan mendapatkan pahala yang sangat melimpah"
" tapi ustad jika kita tetap menunggu mereka dan itu membuat kita terus berharap akan kedatangan nya dan membuat kita tersakiti akan janji janji nya apakah kita harus tetap menunggunya walau itu menyakiti kita"
tanyaku kembali seakan tidak puas dengan jawaban ustad ilyas akupun semakini ingin terus bertanya dan aku seakan lupa dengan ratusan orang yang menghadiri pengajian ini.
" tunggulah mereka selagi kamu mampu tapi, jika menunggu itu membuat tersakiti dan membuatmu berharap kepada manusia maka pergi lah dengan cara baik baik dan meninggalkan nya dengan cara baik-baik, berpamitan lah kepadanya katakan kamu telah lelah menunggu dan kamu ingin pergi dan kamu ingin lepas dari janjimu dan utang"
kata ustad ilyas aku hanya diam tidak lagi bertanya seakan aka sibuk dengan dunia ku sendiri samapa-sampai aku tidak sadar bahwa pengajian telah usai.
"cit ayo pulang, emang kamu mau tidur di sini? kata saras membuyarkan lamunan ku
"ayo" kata just singkat
"usatda ilyas" kata saras sontak aku berhebti melangkah dan menundukkan kepala.
__ADS_1