Diam Dengan Luka Pergi Dengan Luka

Diam Dengan Luka Pergi Dengan Luka
doa yang sama


__ADS_3

sehabis acara pernikahan saras, saras tidak lagi pulang ke rumah dinas nya melain kan ke rumah usatad Ali yang ada di dalam pesantren. hari yang melelahkan juga menyenang kan telah aku lewati bahagia rasa nya melihat saras bahagia.


kata-kata saras "kapan nyusul" sedari tadi terus terngiang di pikiran ku, benar juga kata saras di usia ku yang sudah matang ini seharus nya sudah sepantas nya aku memiliki rumah tangga sendiri tapi, apa bole buat mungkin jedoh nya belum datang atau karna aku yang terlalu cuek kepada law and jenis? aku pun tak tau. yang pasti aku harus tetap mantaskan diri untuk diri nya yang telah di pilihkan tuhan untuk ku kelak, aku yakin jodoh sudah ada yang mengatur tugas ku hanya menunggu dalam sabar.


"assalamualaikum dek" kata ayah


"waalaikumussalam yah, baru pulang yah? " tanya ku pasal nya ayah tadi pamit solar isa di mesjid pesantren


"iya, buatin ayah kopi dek" pinta ayah


"yah uda malam tidak baik minum kopi, lagian ayah semalam juga minum kopi kan di pesantren" kata ku, ayah sangat menyukai kopi semenjak kepergian bunda kata ayah hanya bunda hang bisa membuat teh terenak di dunia ini, bahkan aku dan ka rika tidak bisa kata ayah pada hal cara buat nya sama saja.


"segelas kecil saja dek"


"yah, adek tidak mau ayah sakit, biar adek buatin yang lain"


"baik lah jus alpukat saja" kata ayah pasrah


"tunggu sebentar yah" kata ku sambil berlalu kedapur membuat minuman ayah


"ini yah"


"terima kasih" kata ayah, lama kami diam sampai akhir nya ayah membuka suara nya


"kamu kapan nyusul saras? " kata ayah


"emang saras kemana yah? " tanya ku bingung


"kapan kamu nyusul nikah maksud ayah"


"ohh itu, belum tau yah, lagian adek belum ke pikiran sampe situ" kata ku sambil memainkan jari ku, aku sedikit gugup pasal nya baru kali ini ayah menyinggung soal itu.


"ayah sudah makin tua ayah kepingin sebelum ayah menyusul bunda mu kamu sudah punya keluarga sendiri"

__ADS_1


"ayah ko ngomong gitu, adek tidak suka ayah ngomong gitu" kata ku sambil melihat wajah lelah ayah yang sedang melihat hamparan bintang yang indah


"sejatinya setiap yang bernyawa pasti akan mengalami yang nama nya kematian begitu pun dengan ayah"


"iya dan adek belum siap untuk kehilangan lagi" lirih ku sambil mengusap air mata ku yang jatuh


"dek, dulu bunda pernah bilang ke ayah bahwa ayah harus menikah kan mu dan kakak mu dengan orang yang baik yang sanyang kalian apa ada nya dan menerima semua kekurangan kalian dan alhamdulillah kakak mu sudah menemukan nya sekarang giliran kamu dek"


"ayah tidak tau apakah ayah bisa menemukan orang yang bisa menjagamu nanti setelah ayah tiada"


"ayah dan abang-abang yang akan selalu menjaga ade dan ka rika jadi adek mohon jangan pernah berkata seperti ini lagi yah, ayah tau seberapa sakit nya ade pas kehilangan bunda? di situ ade menyesal karna pergi terlalu jauh dan lama hingga mengakibat kan waktu yang adek dan bunda punya hanya sedikit"


"adek menyesal karna terlalu berambisi untuk membuat kalian bangga dan membuat kalian bahagia hingga pada saat adek sudah dapat membuat kalian bangga bunda malah pergi"


"andai waktu bisa di ulang kembali adek lebih memilih hidup sederhana dengan kalian ketimbang hidup mewah tapi ada yang kurang, sakit rasa nya keberhasilan ku hanya sedikit yang di cicipi bunda pada hal dulu adek berjuang hanya untuk kalian" kata ku sambil terus menangis dengan ayah yang merangkul bahuku yang berjuncang hebat


"kamu tau dek? bunda sangat bangga pada mu, maka dari itu jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi karna pada hakikat nya penyesalan hanya akan mendatangkan luka yang teramat menyakit kan"


"adek rindu bunda" kata ku lirih


"kuta semua sama, bunda orang yang baik maka doakan bunda yang terbaik"


"yah"


"hmmm"


"doa adek sedari dulu sampe sekarang yang tidak pernah berubah ayah tau? "


"hmmm"


"serius ayah tau? "


"iya"

__ADS_1


"kenapa bisa? "


"karna doa ade, bunda dan ayah sama"


"apa itu? "


"tuhan jangan ambil nyawa orang yang ku sanyang sebelum engkau mengambil nyawa ku terlebih dahulu jika engkau ingin mengambil mereka maka ambil aku sehari lebih dulu sebelum engkau mengambil mereka karna aku tidak kuat untuk kehilangan"


"sama?" tanya ayah dan aku hanya menganggukkan kepala ku, ternyata doa kami sama


"dan doa nya yang terkabul adalah doa bunda" kata ayah lagi


"dan aku mau doa yang terkabul selanjut nya adek" kata ku pasti


"umur mu masih panjang nak" kata ayah


"umur hanya tuhan yang tau yah"


"sudah lah, kamu selalu keras kepala" kata ayah sambil mengusap rambut ku yang tergerai


"sama seperti ayah dan bunda" kata ku


"iya sama" kata ayah


"sudah malam yah ayo kita tidur tidak baik begadang"


"siap ibu dokter cantik, bungsu nya bunda kesanyangan nya anton saingan nya rika" kata ayah deramatis


"bang agung tidak bilang sekalian yah"


"agung mah es batu" kata ayah dan kami tertawa bersama


terima kasih tuhan atas nikmat mu hari ini, terima kasih atas tangis dan tawa di hari ini, terima kasih atas semua karunia mu yang tidak dapat kuhitung lagi. aku percaya engkau akan memberikan yang terbaik untuk ku dan seluruh hamba mu, terima kasih tuhan pencipta sekalian alam Allah SWT.

__ADS_1


__ADS_2