
"ustad ilyas" sontak aku berhenti melangkah dan menunduk
"assalamualaiku" kata ustad ilyas
"waalaikumussalam"
"Ada apa memanggil says? "kata ustad ilyas
"emmm gak ada apa-apa sih ustad cuma sekedar menyapa saja" jawab saras sedangkan aku hanya diam dan menunduk
"cit di bawa ada uang jatuh ya" kata saras sontak aku mengangkat wajah ku menghadap saras dan kembali melihat kebawah memastikan apakah ada uang jatuh atau tidak
"hemmee? tidak ada" kata ku polos, sebenarnya aku heran mengapa saras mengatakan demikian apakah dia ingin mengerjai aku atau tidak tapi, yang lebih mengherankan lagi adalah wajah ustad ilyas yang berusaha menahan tawa.
"lah terus kenapa kamu melihat kebawa dari tadi? aku pikir di bawa ada uang jatu"kata saras dengan polos ya sedangkan aku baru mengerti kenapa ustad ilyas berusaha menahan tawanya dia ingin menertawakan aku dan saras tapi mungkin dia tidak enak hati.
" saras kalau seseorang menghadap bawah belum tentu di bawah ada uang jatuh" kataku dengan garamnya karena aku sendiri sudah malu apalagi di depan seorang ustad mau ditaruh dimana muka aku.
__ADS_1
"trus kenapa kamu hadap bawa dari tadi? " tanya saras kembali, sedangakan ustad ilyas hanya diam dari tadi menyaksikan kekonyolan saras.
"maka nya sekolah yang pintar, biar tau jawaban nya" jawab ku kesal
"emmmm, mungkin ustad tau jawaban dari pertanyaan ku tadi?" Tanya saras kembali
" wanita yang baik adalah wanita yang bisa menjaga kehormatan nya yang menjaga matanya dari dosa, menjaga tangannya dari dosa menjaga mulutnya dari dosa" jawab ustad ilyas
" hubungannya dengan menunjukkan wajah apa ustad?" tanya saras kembali sedangkan ustad ilyas tersenyum dan menjawab
" astaga berarti aku sudah banyak berdosa ustad, karena sedari tadi aku memandang wajah ustad yang tampan ini" kata saras dengan tidak tahu malunya sedangkan aku yang mendengarnya langsung menatap saras lain halnya dengan ustad ilyas yang tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
" astaga saras mingkem" ujar ku karna saras yang berkata demikian aku yang malu
"mingkem? apa lagi tu? sejenis dosa lagi? "kata saras kembali aku langsung menepuk jidat just sedangkan ustad ilyas sudah tetawa tanpa suara terbukti Dari badan nya yang bergetar.
"ustad meriang ya? "tanya saras kembali sedangkan ustad ilyas langsung mengangkat kepalanya dan menatap heran kepada saras, belum sempat ustad ilyas menjawab pertanyaan saras aku langsung menarik tangan saras untuk pergi karena aku tidak ingin semakin dibuat lagi dengan tingkah saras yang semakin menjadi.
__ADS_1
" kami permisi ustad assalamualaikum" kataku sambil berlalu pergi dengan tanganku yang masih menarik tangan sarah
" citra kenapa main tertarik segala sih aku kan belum tahu arti dari mingkem dan satu lagi kenapa tadi badan ustad ilyas bergetar kayak meriang gitu? apa mungkin ustad ilyas sakit?
" dia tidak sakit saras dia sedang berusaha menahan tawanya sarassss" kataku dengan menekan kata saras agar dia mengerti kalau aku sedang geram dengannya
" kenapa di menahan tawanya?"
"karna pertanyaan mu yang tidak jelas itu"
"pertanyaan ku tadi jelas ko"
"au ah, aku cape mau istirahat, kamu langsung ke kamar mu sana"kata ku setelah kami sampai di kosan.
"aku bole tidur gak di kamar mu? "tanya saras dengan wajah yang di buat seimut mungkin
"tidak" kataku sambil berlalu ke kamar ku dan tidak lupa mengunci pintu nya agar saras tidak bisa masuk jujur, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan belum bagi dengan tingkah saras yang tidak masuk akal terkadang dia sangat pintar tapi, tidak jarang pula dia bertingkah bodoh dan sering membuatku malu dengan tingkahnya sedangkan dia yang bertingkah merasa biasa saja.
__ADS_1