Diam Dengan Luka Pergi Dengan Luka

Diam Dengan Luka Pergi Dengan Luka
ternyata dia


__ADS_3

Setelah kami keliling kota bandung dan membeli beberapa kebutuhan kami akhir nya kami pulang. Kami sampai ke pesantren sehabis solat magrib dan ke aneh nya pesantren sangat ramai pada saat kami sampai.


"kenapa ramai ras?" tanya ku penasaran


"entah" kata saras sambil menganggkat bahu nya


"nyambut kita kali ya?"


"emang kamu siapa? sampe harus di Sam but segala"


"ya kan calon istri ustad" jawab saras dengan PD nya


"hmm iya lah"


"eh tunggu tapi ko mereka tunggu di depan rumah mu?"


"kan uda gue bilang cit kalo mereka lagi nyambut kita"


"gaya mu sok 'gue' tapi, apa jangan-jangan mereka pikir calon pengantin wanita nya labor kali ya?"


"ngaco kamu, uda ah kita turun aja dari pada kita nebak terus tapi ujung nya salah mulu mending kita lihat langsung" aja saras


selama kami jalan menuju rumah rasar banyak pasang mata yang memperhatikan kami itu membuat ku sangat risih, berbeda dengan saras yang agak gesrek.


"berasa kaya artis aku cit, di liatin banyak orang" kata saras sambil senyum pepsoden


"gila lu"


"ihh sejak kapan ibu cinta bisa bilang lu?" kata saras mengejek pasal nya baru kali ini aku mengatakan kata yang sangat biasa di ungkap kan banyak orang di daerah jakarta dan sekitar nya mulai dari anak muda sampai orang tua"


"sajak tadi"


sesalmpai nya kami di depan rumah saras


"dek kalian dari mana saja?" tanya ayah


"habis jalan-jalan yah" kata ku jujur


"iya yah, kan tadi udah pamitan sama ayah" sambung saras dan aku pun mengiaya kan


"kenapa sih yah? ko rami bangat?" tanya ku penasaran


"itu tadi ada penyambutan pilik pesantren tapi ada kecelakaan sedikit"


"kecelakaan apa?" tanya ku lagi


"teratak roboh dan menimpah beberapa santri termasuk yang punya pesantren"


"bukan nya yang punya datang besok?" tanga saras


"ayah juga gak tau"


"terus yang kena timpahan uda di obatin yah?"


"makanya itu kita tunggu kalian di sini"


"lah ayah kenapa masih ngajak ngobrol dari tadi?"


"yang banyak nanya lu cit" kesal saras


"emang iya" kata ku cuek dan masuk kedalam ruang rawar saras dan di situ sudah ada lima orang yang berbaring di ranjang pasien"


"anak mu yah bikini kesal" kata saras


"sudah-sudah sana kalian obatin" kata ayah


"cit bantuin ya?"


"hmmm"


kami pun mulai mengobati mereka mulai dari yang kepala bocor, memar sampai ada tangan nya yang patah dan keseleo. semua yang kena timpahan teratak laki-laki semua dan salah satu dari mereka yang aku obatin adalah pemilik pesantren yang tangan nya patah.


"maap ustad saya harus pegang tangan ustad biar saya tau kondisi nya seperti apa" kata ku meminta izin untuk memegang tangan nya, kenapa aku harus minta izin? itu karna di seorang ustad yang tidak sembarang orang boleh menyentuh nya


"apakah dengan tangan anda langsung?"


" suara itu seperti pernah aku dengar " batin ku

__ADS_1


"saya akan menggunakan sarung tangan juja ustad keberatan" kata ku


"maap merepotkan"


"tidak sama sekali" kata ku tersenyum ramah.


"ras sarung tangan mu di mana?"


"di rak paling atas pojok paling kanan" kata saras sambil fokus membalut luka seorang santri.


"maap" kata ku sebelum memegang tangan ustad itu


"diba di lurus kan"


"tidak bisa ssttt" kata nya sambil meringis


"seperti nya tangan anda patah"


"ras di sini ada gips"


"ada"


"dimana?"


"di belakan" aku pun kembali ke Bala kan untuk mengambil peralatan yang aku butuh kan


"kamu bisa cit?" tanya saras


"insaallah"


"kamu kan dokter sepesialis"


"emang kalo sepesialis tidak bisa?"


"gak juga sih"


"kalo uda siapa sini bantuin"


"iya"


aku dan saras pun menangani ustad itu, tapi aneh nya saras hanya memperhatikan wajah ustad itu tapi ustad itu sedang memejamkan mata nya untuk menahan rasa sakit atau untuk menjaga pandangan aku pun tidak tau.


"iya, tapi wajah ustad ini gak asing deh cit" kata saras sambil membantu ku dan aku yakin ustad itu mendengat perkataan saras


"ustad seperti nya kita pernah bertemu" kita saras dan ustad itu membuka mata nya


"tuh kan" kata saras sambil mengeraskan suara nya dan sepontan ustad itu kembali menutup mata nya dan aku langsung mundur dua langkah


"saras kecilkan suara mu" geram ku


"ok ok maap, tapi kamu gak kenalin ustad ini cit?" tang saras dan aku hanya menggelengkan kepala tidak enak juga kan sama orang yang di bicara kan


"kebiasaan, kamu ingat gak pas kita dulu nge kos terus kita cari makan ujung-ujunh nya kita dengar ceramah" kata saras antusias


"hmmm"


"ingat gak ustad nya?"


"itu uda lama"


"bilang aja uda lupa"


"sudah selesai ustad, jangan terlalu banyak bergerak dulu sama banyak istirahat biar tulang nya kembali seperti semula sama jangan lupa mininum obat nya"


"terima kasih dokter"


"sama-sama ustad"


"ustad ingat gak sama kami?"


ataga saras malu-maluin bangat batin ku


"iya"


"tuh kan ustad aja ingat masa kamu gak ingat sih cit" kesal saras


"hakikat manusia adalah hilap dan pelupa, maap ustad jisa saya lupa"

__ADS_1


"tidak apa-apa"


"ustad ini yang pernah kamu certain pas kamu di Palestina cit" lanjut saras


"yang di Palestina banyak ras"


"aiss emang dasar cuek sih" kat saras


"dokter saras yang kan menikah dengan ustad muhammad Ali ya?" tanya ustad itu


"iya ustad" kata saras sambil menunduk aku yakin dia pasti malu karna sikap nya yang pecicilan tidak seperti ustad Ali yang kaelem dan bojakasan


"fuffff"


"jangan ketawa cit" kata saras mengingat kan


"iya"


"ustad yang punya pesantren ya?" tanya saras


"punya abi"


"tapi sekarang beralih ke ustad ya?"


"insaallah"


"uda punya istri a tau calon? "


astaga


"belum dok"


"sama teman saya ini juga belum ustad, tidak ada yang mau sama dia karna dia bagaikan balok es di gurun pasir" kata saras deramatis sedangkan ustad itu tersenyum menanggapai nya.


"mencari dong" kata ustad itu


"mungkin suatu saat ustad tapi, kutlrasa itu mustahil ustad"


"apa sih" kata ku


"aku selalu berdoa pada tuhan semoga sahabat ku ini gak jadi perawan tua"


"nauzubillah" kata ku


"ustad bagaimana sih cara mencari kan jodoh orang lain?"


"maksud nya?" kata ku


"iya, aku may mencari kan mu jodoh biar kamu cepat nyusl" kata saras sambil cekikikan dan ustad itu tersenyum manis


"kamu saja belum menikah sudah mau mencari kan ku jodoh" kesal ku


"ingat sehari lagi aku akan ke tahap itu" sombing saras


"iya yang mau menikah semoga ustad Ali tahan dengan sikap mu yang bawel"


"Amin" kata saras


"oh ya ustad kita belum kenalan nama ku saras dan teman saya ini citra ayuningtias dokter sepesialis sarap"


"iya dan sebelum nikah kamu akan saya cuci sarap nya biar warasan dikit" kesal ku


"kalian sangat lucu ya" bukan saras yang mengatakan tapi ustad itu


"kalo saya sudah biasa di bilang lucu tapi kalo teman saya ini mungkin baru kali ini"


"ya tuhan andai membunuh itu tidak dosa ingin sekali aku membunuh teman ku yang bernama saras ini"


"astagfirullah, istigfar cit kalo kamu bunuh aku calon suami ku akan duda sebelum kata sah terdengar"


"iya dan dia akan sangat beruntung"


"ya Allah ampuni dosa ku ya Allah" kata saras


"ustad nama ustad siapa?" tanya saras kembali


"MUHAMMAD ILYAS"

__ADS_1


nama ini sangat pamiliar dia kah orang itu


__ADS_2