
"Mau apa kau kesini?" Tanya Marvel dengan wajah dingin tak bersahabat. Sedangkan Kiran tampak diam saja bingung ingin bersikap seperti apa.
"Mohon maaf jika kedatangan kami membuat kalian tidak nyaman. Tapi Gama hanya ingin melihat anak Kiran," ucap Doris yang sebenarnya tidak enak hati.
Seketika Marvel melirik Gama yang duduk di samping kakaknya dengan wajah menunduk.
"Anak yang dulu hendak kau bunuh secara paksa!" Ujar Marvel terlihat galak.
"Aku minta maaf," ucap Gama pelan.
"Aku sangat menghargai kebaikan mu pada istri ku dulu. Tapi maaf, kau hanya boleh melihat anak ku dan Kiran dari jauh."
Gama mengangkat wajahnya, menatap Marvel sejenak.
"Tidak bisakah aku menggendongnya sebentar?" Ujar Gama penuh harap.
"Maaf Gama, aku tidak bisa mengizinkan mu. Kejadian waktu itu membuat ku trauma," ucap Kiran.
Gama menghela nafas pelan, ia mengangguk tanda paham. Gama hanya bisa memandang bayi mungil yang sedang di gendong mamah Dona dari kejauhan.
"Anak mu tampan. Aku punya hadiah untuk dia," ucap Gama sembari menyodorkan paper bag.
__ADS_1
Bukan Kiran yang menerima, tapi Marvel. Pria ini membuka isi paper bag tersebut untuk mengeceknya.
Sebuah pianika, kening Marvel berkerut heran.
"Kenapa kau memberikan ini pada anak ku?" Tanya Marvel penasaran.
"Dulu Kiran suka menyanyi, aku memberikan ini agar anak kalian bisa menciptakan alunan indah sama seperti Kiran yang suka menciptakan lagunya sendiri." Jelas Gama membuat Marvel terkejut. Ini adalah satu hal yang belum pernah Marvel ketahui jika Kiran suka merangkai kata untuk di nyanyikan sendiri.
"Oh. Terimakasih," ucap Marvel dengan memaksa senyumnya.
Gama dan kakaknya pamit pulang, sebelum masuk ke dalam mobil, Doris menepuk pundak adiknya berulang kali.
"Tidak apa-apa. Apa yang kau lakukan sudah baik, sekarang kau bisa melanjutkan hidup mu. Cari pasangan mu sendiri, kakak yakin masih ada perempuan di luar sana yang mau menerima mu apa adanya."
"Kau laki-laki yang baik Gama. Ayo masuk,....!!"
Mobil Doris meninggalkan halaman rumah Marvel. Tinggallah Marvel yang sedang ingin menghakimi istrinya sekarang.
"Apa sih mas, kok ngelihatin aku seperti itu?"
"Apa benar yang di katakan si Hama tadi?" Tanya Marvel.
__ADS_1
"Kata-kata yang mana?" Tanya balik Kiran yang tidak mengerti.
"Katanya kamu suka bernyanyi dan menciptakan lagu mu sendiri. Mana?, kenapa mas tidak pernah mendengarnya?"
"Ginian aja di bahas. Dasar om bewok. Udah punya anak juga masih kek remaja!"
"Pasti si hama itu selalu mendengar kamu bernyanyi. Kamu pasti selalu bernyanyi untuk dia. Kenapa kamu gak pernah bernyanyi untuk mas?" Marvel protes.
"Aku malu," ucap Kiran. "Suara ku jelek!"
"Mas gak mau tahu, kamu harus nyanyi untuk mas!" Marvel merajuk.
"Kamu ini apa-apaan sih Vel?, kok seperti anak kecil aja. Perkara nyanyi doang kok panjang!" Omel mamah Dona.
"Ah, perempuan sama aja. Sini anak ku!"
Marvel yang merajuk mengambil alih baby Joe dari gendongan omanya.
"Marvel, mau di bawa kemana cucu mamah?"
"Mamah sama Kiran sana!" Seru Marvel kesal.
__ADS_1
"Itu orang kenapa sih?, bikin bingung aja deh mah!"
"Marvel sama papahnya itu sama aja. Bikin naik darah!" Ujar mamah Dona.