Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 91


__ADS_3

"Mau kemana mas, kok buru-buru?" tanya Kiran pada suaminya.


"Aku mendapat kabar dari kantor polisi kalau sikat wc sengaja menenggak cairan pembersih toilet. Dia sekarang ada di rumah sakit," ujar Marvel memberitahu.


"Lalu, apa hubungannya dengan mu?"


"Hanya ingin memastikan si sikat wc itu hidup. Jika dia mati, hukumannya tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan dulu."


"Aku mau ikut, mau lihat dia. Sudah lama aku gak lihat Sikat wc."


"Ya udah, ayo!"


Marvel dan Kiran pun pergi ke rumah sakit tempat di mana Sika di rawat. Kiran sangat terkejut saat melihat keadaan Sika yang tampak kurus dan tidak secantik dulu lagi.


"Kiran,....setan kau Kiran. Bebaskan aku!" Ucap Sika yang masih lemah. Ia ingin menyerang Kiran tapi tak bisa karena tangannya terborgol.


"Oh, ini anak kesayangan ayah. Yang ku pikir selama ini anak tiri ayah gak tahunya anak kandung ayah. Kok sekarang jelekkan?"


"Diam kau Kiran!" Sika berteriak.


"Jika kau ingin cepat mati, kenapa tidak memakan racun tikus dengan nya saja?"


"Kau,...diam kau Kiran. Lihat saja, aku akan mengirim mu pada ibu mu!"


"Oh, tidak bisa. Kau di penjara loh. Ku pikir dengan kau masuk penjara bisa menjadi pribadi yang lebih baik, tapi nyatanya tidak. Tetap saja jahat!"


"Lihatlah Marvel, apa ini istri yang kau idamkan?, perempuan jahat yang tega memasukan saudara dan orang tuanya kedalam penjara?"


"Bukankah seorang pembunuh harus masuk penjara?, masih untung di penjara,.....!" Marvel mendekat ke telinga Sika, "jika tidak aku akan membunuh kedua orang tua mu demi membalas sakit hati Kiran." Bisik Marvel membuat Sika takut.

__ADS_1


Marvel mengajak Kiran pulang tapi Kiran yang penasaran ingin pergi melihat Desi dan Hasan.


"Yakin mau ketemu sama mereka?" tanya Marvel sebelum masuk.


"Yakin. Memangnya kenapa?" Kiran bertanya balik.


"Mas takutnya kamu sedih atau apa gitu."


"Itu mah pikiran mas aja!"


Marvel hanya menghela nafas pelan lalu mengajak Kiran masuk ke dalam. Orang pertama yang ia temui adalah Desi.


Desi yang melihat kedatangan Kiran langsung tersulut emosi.


"Kau dan ibu mu sama saja. Sama-sama pembawa bencana di dalam hidup ku. Kenapa kau tidak mati saja Kiran," ucap Desi dengan nada tinggi.


"Jaga mulut mu Kiran!" bentak Desi.


"Kau atau anda yang harus menjaga?" Kiran bertanya, "ah,...sudahlah. Tujuan ku datang kemari hanya untuk melihat-lihat. Aku akan pergi melihat suami mu!"


Kiran mengajak Marvel pergi untuk melihat pak Hasan.


Pertama kali melihat Kiran setelah sekian lama tak bertatap muka, Hasan tak kalah emosi sama seperti Desi.


"Anak durhaka. Mati saja kau!" Hasan berteriak.


"Jaga mulut anda pak. Bisa-bisanya mendoakan anak seperti itu," ujar Marvel yang tidak terima.


"Aku tidak peduli. Mati sana, susul ibu mu itu....!"

__ADS_1


"Biarkan saja mas. Biarkan ayah kesayangan ku ini menyumpahi ku agar hatinya tenang," ujar Kiran.


"Bebaskan aku Kiran!" Teriak Hasan.


"Masa mau membebaskan seorang pembunuh!" Kiran tertawa renyah, "oh ya mas. Apa ayah ku ini sudah tahu mengenai kabar anak kesayangannya?" Kiran bertanya pada Marvel.


"Sepertinya belum," jawab Marvel.


"Apa?, apa maksud kalian hah?, kalian apakan anak ku?" tanya Hasan mendadak khawatir.


"Wah, lihatlah mas. Dia sangat perhatian pada anaknya, lalu aku ini anak siapa ya?"


"Jawab aku, kalian apakan Sika?" tanya Hasan dengan wajah panik.


"Mas, aku lelah. Ayo pulang!" Ajak Kiran.


Marvel mengiyakan, mereka keluar dari ruangan tersebut dengan di iringi teriakan Hasan yang ingin tahu tentang kabar Sika.


Kiran sengaja mengajak suaminya pulang karena ia tak mau menjawab pertanyaan sang ayah.


"Bagaimana perasaan mu setelah bertemu dengan mereka?" tanya Marvel.


"Biasa saja mas. Entah kenapa aku tidak lagi menganggap mereka sebagai keluarga ku."


"Itu karena kau sudah terbiasa menjalani kehidupan ini sendiri tanpa dukungan dari mereka."


"Mungkin saja. Aku tidak bisa menjelaskannya!"


*****Maafkan wahai kakak karena kemarin gak up😁 Saya sibuk pindahan rumah*****

__ADS_1


__ADS_2