Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 75


__ADS_3

Sudah lama sekali rasanya Kiran tidak pulang ke rumah miliknya. Hari ini, bersama Marvel ia pergi untuk sekedar menjenguk rumah yang sudah lama kosong.


Berdebu, rumah ini sepi dan hampa. Kiran tidak mungkin tinggal di sana, banyak kenangan pahit yang ikut tumbuh besar bersama dengan dirinya.


"Kita apakan rumah ini mas?" tanya Kiran yang bingung.


"Kamu maunya bagaimana?" Marvel bertanya balik.


"Ah, kamu ini mas. Aku bertanya malah tanya balik. Menyebalkan!"


"Tanah kamu luas, kamu pengennya di jadikan apa tempat ini?"


"Cita-cita ku cuma ingin membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Mas, tabungan yang di tinggalkan ibu untuk ku juga lumayan banyak. Bagaimana jika kita membangun tempat usaha di sini?"


"Wah, istri mas ini sekarang mulai pandai. Kamu mau usaha apa sayang?"


"Apa aja yang penting bermanfaat bagi orang banyak," jawab Kiran.


"Nanti mas pikirkan lagi ya," ujar Marvel di iyakan oleh Kiran.


Kiran mengajak Marvel untuk masuk kedalam rumah. Kiran membuka pintu kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan. Marvel ikut masuk kedalam kamar, betapa panasnya hati Marvel saat melihat foto kebersamaan Kiran dan Gama.


"Mas kenapa?" tanya Kiran merasa heran melihat perubahan ekspresi wajah suaminya.


"Buang semua foto kamu dan Hama ini. Mas tidak suka melihatnya."


"Mas cemburu ya," goda Kiran.

__ADS_1


"Ya cemburu lah. Suami mana sih yang gak cemburu melihat foto istrinya sama laki-laki lain?"


"Iya deh, aku buang!"


Sementara itu, Gama yang tak sengaja lewat di depan rumah Kiran tiba-tiba saja menghentikan motornya saat melihat pintu rumah terbuka dan ada mobil yang terparkir di bawah pohon.


Gama yang penasaran langsung masuk begitu saja ke halaman rumah Kiran. Betapa kagetnya Gama saat melihat Kiran membakar foto mereka.


"Kiran, apa-apaan kau ini?"


Tiba-tiba saja Gama muncul dan mematikan api dengan sapu lidi yang berada tak jauh darinya. Tentu saja Marvel dan Kiran kaget dengan kehadiran Gama.


"Mau apa kau kesini hah?" Kiran bertanya dengan wajah tidak suka.


"Kenapa kau membakar foto kita?" Gama bertanya dengan perasaan marah, "pasti laki-laki ini yang sudah menghasut mu kan?"


"Aku suaminya berhak mengatur istri ku. Lagian, kenapa kau tidak ada hubungan apa-apa dengan Kiran."


Marvel mendorong tubuh Gama hingga pria tersebut jatuh kebelakang.


"Lihatlah Kiran, apa kau masih ingin bertahan dengan laki-laki kasar seperti dia?" Gama bertanya, berharap pikiran Kiran bisa berubah.


"Tapi suami ku ini tidak pernah kasar pada ku Gama. Tampangnya memang ganas, tapi suami ku sangat baik," sahut Kiran membuat senyum Marvel melebar.


"Pergilah atau ku hajar kau bocah ingusan!" Ancam Marvel.


Gama menatap tajam Marvel kemudian pergi.

__ADS_1


"Sepertinya hama itu harus di basmi. Lama-lama aku merasa terganggu dengan dia," ujar Marvel.


"Gama memang seperti itu. Tidak bisa berpikir positif. Dia marah jika aku berteman dengan orang lain.Tapi dia sendiri tidak mempercayai ku."


"Benar-benar egois!" Seru Marvel.


"Ya sudah ah. Kita pulang yuk mas, tapi sebelum pulang aku mau rambut nenek dulu," ujar Kiran membuat suaminya kaget.


"Hah?" Marvel kaget, "nenek siapa yang mau jual rambutnya sayang?, kamu ini ada-ada aja!"


"Maksudnya bukan rambut beneran mas. Itu loh sejenis gulali atau permen kapas," sahut Kiran sambil tertawa.


"Oh, permen kapas. Ngomong dong yang bener. Malah bilang rambut nenek."


"Ya memang namanya rambut nenek."


"Iya,...iya,...terserah istri mas aja. Ayo pergi," ajak Marvel.


"Gendong!" rengek Kiran.


"Manjanya istri ku!"


"Dari pada manja sama suami tetangga," sahut Kiran.


"Coba saja kalau berani. Akan mas lempar kamu ke dasar laut sana!"


Kiran tertawa sambil menarik brewok suaminya yang sudah mulai panjang. Marvel tidak bisa merapikan bulu-bulu di wajahnya demi mengikuti keinginan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2