
"Mau apa lagi kau datang ke rumah ku hah?" Marvel bertanya dengan wajah dinginnya.
"Hanya ingin bertemu Kiran om!" Jawab Gama dengan wajah sok polosnya.
"Bukanlah aku sudah memperingati mu untuk tidak datang menemui istri ku lagi? Lalu, kenapa kau masih keras kepala juga?"
"Om tidak berhak melarang ku untuk bertemu Kiran. Aku sahabatnya sejak kecil, aku lebih mengenal Kiran!"
Telinga Marvel panas, darahnya mulai naik turun menahan emosi.
Marvel mencengkeram leher Gama, sorot matanya tajam menatap Gama.
"Kiran adalah istri ku, aku yang berhak atas dirinya bukan kau!" Ucap Marvel tegas.
"Tapi, aku sangat yakin jika Kiran sangat tersiksa dalam pernikahan ini."
Gama kekeh pada pemikirannya jika Kiran hidup menderita bersama Marvel.
"Jika aku hidup menderita bersama suami ku. Lalu kenapa aku mengandung anaknya sekarang?"
Ucapan Kiran yang tiba-tiba itu langsung membuat kaki Gama lemas. Marvel tersenyum mengejek Gama.
"Kiran, jangan bohong kau!" Ucap Gama.
"Aku tidak bohong, aku sedang sekaran hamil sekarang!" Sahut Kiran.
"Itu tidak mungkin!" Seru Gama.
"Apa yang tidak mungkin? aku menikah, aku memiliki suami jadi wajar jika aku hamil."
"Kiran hamil anak ku. Sekali lagi aku tegaskan. ANAK KU!" Ucap Marvel menegaskan.
"Tidak, kau tidak mungkin hamil. Kiran, aku mencintai mu!" Ucap Gama sungguh membuat Kiran terkejut tapi tidak dengan Marvel.
"Gama, apa maksud mu?" Tanya Kiran bingung.
"Aku mencintai mu Kiran. Jika kau merasa tidak bahagia dengan dia, ayo kembali bersama ku. Apa kau lupa kebaikan ku dulu? Kiran, aku tidak rela jika kau bersama dia."
Bukk.....
Marvel tiba-tiba saja memberi satu tanda di wajah Gama. Dengan emosi pria ini menyeret Gama keluar dari rumahnya.
"Untuk kejadian hari ini aku akan melupakannya. Tapi, jika kau lakukan lagi, akan ku habisi kau!" Ancam Marvel kemudian langsung masuk ke dalam rumah.
Gama mengusap sudut bibirnya yang berdarah, obsesinya untuk mendapatkan Kiran kembali membuat ia menjadi bodoh dan lupa diri.
"Mas,....!" Kiran menghampiri suaminya ketika masuk kedalam rumah. Tapi aneh, Marvel tak menyahut dan tampak acuh. Pria itu berlalu begitu saja meninggalkan sang istri.
Dada Kiran terasa sesak, sekian purnama di jadikan ratu oleh sang suami, baru sekarang Marvel mengacuhkan dirinya.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata tiba-tiba jatuh membasahi pipi Kiran. Kiran menangis, hatinya dongkol sekali.
"Kiran, kamu kenapa nak?" tanya Dona yang baru saja pulang dari berbelanja.
"Mas Marvel kalau udah gak suka sama aku harusnya ngomong mah. Jangan seperti ini, dia mengacuhkan ku!" Adu Kiran membuat Dona terkejut.
"Ah masa sih suami mu seperti itu?" Dona tidak percaya.
"Mas Marvel pasti punya pacar di luar sana!" Racau Kiran.
"Udah, gak usah di pikirin dulu. Sebaiknya kamu istirahat, kasihan bayi mu nak."
"Kiran gak mau istirahat di kamar. Kiran mau istirahat di ruang tamu aja!"
Kiran berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar tamu lalu menguncinya. Ia menangis sejadinya, entah kenapa hatinya begitu perasa sekarang. Kiran mudah tersinggung sejak hamil.
"Ini tidak bisa di biarkan. Jika cucu ku kenapa-kenapa, bisa bahaya!"
Dona pergi ke kamar anaknya, mulutnya terus berkomat kamit ingin menyemprot Marvel.
Duar,....
Dona membanting pintu kamar hingga membuat Marvel terkejut.
"Mah, ada apa?" Tanya Marvel heran.
"Tidak ku apa-apakan!" Jawab Marvel.
"Lalu kenapa Kiran menangis hah?"
"Apa mah, Kiran menangis? Dimana dia sekarang? kenapa tidak kembali ke kamar?"
Marvel mulai panik.
"Kiran mengunci diri di kamar Tamu," ujar Dona memberitahu, "Marvel, istri mu sedang hamil. Jangan buat dia berpikiran yang tidak-tidak."
Marvel bergegas pergi ke kamar tamu lalu hendak membuka pintu kamar tapi sayangnya terkunci dari dalam.
"Sayang, buka pintunya. Mas minta maaf."
Marvel terus memanggil nama sang istri namun Kiran tak sekali pun menyahut.
"Sayang buka pintunya. Mas gak bermaksud mengacuhkan kamu tadi."
"Gak bermaksud apa? Kiran tadi ngomong kalau kamu punya perempuan lain di luar sana." Ujar Dona.
Plak,....
Dona yang geram memberikan satu jitakan di kepala Marvel.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kamu menyelingkuhi istri mu di saat dia sedang hamil!" Dona geram sendiri pada anaknya.
"Mah, Marvel gak pernah selingkuh. Cuma Kiran status perempuan di hati Marvel."
"Ingat Marvel, Kiran itu masih muda. Sekalipun dia menjadi janda, akan ada banyak laki-laki yang bersedia menjadi suaminya apa lagi Kiran adalah janda mu!"
"Mah, mulut mamah ini kenapa durjana sekali? itu sama aja mamah mendoakan aku dan Kiran bercerai."
"Mamah tidak mendoakan, mamah hanya mengingatkan mu saja!"
"Mah,....!" Marvel tidak tahu lagi ingin ngomong apa.
"Bujuk Kiran sampai keluar. Jika tidak, kau yang akan tidur di luar malam ini." Dona mengancam anaknya.
Dona kembali ke kamarnya, sedangkan Marvel sedang berusaha membujuk Kiran agar mau membuka pintu kamar.
Sudah hampir satu jam Marvel berada di depan pintu, mengeluarkan semua rayuan dan gombalan manjanya tapi tetap saja Kiran tidak mau membuka pintu.
"Habislah aku sekarang," ucap Marvel, "kenapa pula aku yang bodoh ini mengacuhkan istri ku tercinta tadi?"
"Selamat berjuang mas Marvel!", Mbok Rumi mengejek Marvel.
Marvel hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Satu jam berteriak di depan pintu membuat suaranya mulai habis.
Sementara itu, Gama yang menyimpan dendam pada Marvel kini sedang berada di kantor polisi. Gama membuat laporan jika Marvel sudah memukulnya dan menghajarnya tadi siang.
Sebelum pulang, Gama mampir sebentar ke lapas untuk bertemu dengan Hasan.
"Apa, hamil?" Hasan terkejut ketika mendapatkan kabar jika Kiran sedang hamil sekarang.
"Iya om," jawab Gama lesu, "sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan Kiran."
"Kenapa kau lemah seperti ini?" Tanya Hasan, "kau dan Kiran tumbuh besar sejak kecil. Kau berhak atas dirinya, kau separuh hidup Kiran."
Kedua manusia bodoh ini berkata seolah mereka paling benar.
"Gama, di mana Sika sekarang?" tanya Hasan yang tiba-tiba teringat pada anaknya.
"Aku gak tahu om. Menurut informasi yang aku dapat, ada seseorang yang menjamin kebebasan Sika. "
"Siapa orang itu?" tanya Hasan penasaran.
"Aku juga tidak tahu om, memangnya kenapa?"
"Kalau bisa cari tahu, om mau dia juga menjamin kebebasan om."
"Nanti lah aku cari tahu om, aku akan menghubungi Sika setelah pulang."
"Masalah Kiran, ganggu saja rumah tangganya. Om sangat mendukung kamu Gama, kamu adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengan Kiran. Bukan si Marvel itu, manusia kejam tidak tahu diri dan buta matanya!"
__ADS_1