Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 62


__ADS_3

"Dasar anak durhaka!" Seru Hasan dengan mata melotot.


"Seharusnya anda malu melontarkan kata-kata seperti itu pada ku!" Ujar Kiran.


"Di banding kau, Sika jauh lebih baik. Dia tidak pernah melawan, apa lagi membuat ayahnya ini menderita."


Kiran tertawa mengejek, "wah, jika Sika anak kebanggaan anda, kenapa dia tidak bisa membebaskan anda?"


"Diam kau Kiran!" Sentak Hasan, "jika ku tahu kau jadi pembangkang seperti ini, sudah dari dulu aku mengirim mu bersama ibu mu!"


Jedeer.....


Kata-kata Hasan sungguh sangat melukai hati Kiran.Kiran tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Seeeeet,......


Tiba-tiba saja Marvel masuk ke lalu melemparkan beberapa lembar foto mesra Sika bersama beberapa orang pria beristri. Tidak ada kata sopan lagi, Marvel muak melihat mertuanya ini.


"Lihatlah wajah anak kesayangan mu itu. Dia simpanan suami orang!" Ujar Marvel memberitahu Hasan.


Hasan memungut foto-foto tersebut, rasanya ia tidak percaya jika anak kesayangannya melakukan hal yang menjijikkan seperti ini.


"Sika tidak mungkin melakukan hal yang memalukan seperti ini," ucap Hasan.


"Terkadang, apa yang kita pikirkan tidak mungkin bisa jadi mungkin. Buktinya Sika seperti itu," sahut Kiran.


"Diam kau Kiran!" sentak Hasan, "pasti kalian berdua sudah memfitnah anakku!"


"Bawa dia," titah Marvel pada seorang polisi, "biarkan dia melihat anaknya!"


Hasan yang penasaran langsung ikut bersama polisi tersebut. Tentu saja dengan tangan yang di borgol.


"Mas, dari mana kau dapat semua foto itu?" Tanya Kiran penasaran.


"Apa pun bisa ku dapat. Mari memberi pelajaran pada orang tua mu yang kurang ajar itu!" Kata Marvel yang sangat geram pada Hasan.


Melewati beberapa ruangan, Hasan terkejut saat melihat Sika yang di keroyok beberapa orang ibu-ibu. Ada yang menampar, menjambak bahkan menendang. Polisi yang berusaha melerai nyatanya kalah.


"Berhenti,...berhenti,....!" Teriak Hasan, "jangan sakiti anakku!" Ujarnya berusaha menolong Sika dengan keadaan tangan terborgol.


"Oh, jadi anda ini bapaknya. Bisa-bisanya anda membiarkan anak perempuan anda jadi simpanan suami saya," ucap salah seorang ibu-ibu.


"Iya, sudah berapa banyak uang suami ku di makan perempuan ini." Timpal ibu yang lain.

__ADS_1


"Anak ku tidak seperti itu, dia berpendidikan. Tidak mungkin anak ku seperti itu," ujar Hasan membela anaknya.


"Ayah,....!" Sika menangis di pelukan sang ayah.


"Lihat saja, perempuan ini harus menderita. Kami akan menuntut dia. Anak mu ini kurang ajar, murahan dan tidak ada harganya!"


"Berhenti menghina anak ku!" Bentak Hasan.


Hasan baru sadar jika tangan Sika terborgol, sontak saja ia panik dan bingung.


"Sika, kenapa kau di borgol seperti ini?" Tanya Hasan.


"Ayah aku tidak ingin di penjara," rengek Sika dengan tangisanya.


"Kau tetap akan di penjara, aku menuntut mu karena kau sudah berniat mencelakai istri dan calon anak ku. Selebihnya, terserah ibu-ibu ini." Sahut Marvel.


"Mas, ayo pergi dari sini. Kepala ku pusing," ujar Kiran sembari menarik tangan suaminya.


"Pak, urus mereka semua!"Titah Marvel pada pengacaranya sebelum pergi.


Kiran menarik nafas panjang setelah ia masuk ke dalam mobil. Entahlah, rasanya runyam sekali jika memikirkan masalah keluarganya. Sebenarnya Kiran merasa malu pada suaminya, tapi mau bagaimana lagi, beginilah kehidupannya.


Setibanya di rumah, Kiran langsung beristirahat. Marvel membawakan segelas jus jeruk kesukaan Kiran.


"Mau ganti baju sayang," jawab Marvel lembut.


"Peluk,...." Ujarnya sambil merentangkan kedua tangan.


"Eh, tumben minta peluk siang-siang."


"Kalau gak mau ya udah!" Rajuk Kiran.


"Jangan dong, sini mas peluk!"


Marvel tidak jadi berganti pakaian, ia naik keatas ranjang lalu memeluk istrinya.


"Mas,...."


"Hemmm,..."


"Terimakasih ya," ucap Kiran membuat Marvel bingung.


"Makasih untuk apa?" Tanya Marvel.

__ADS_1


"Terimakasih untuk segala yang mas berikan pada ku. Terimakasih udah terima aku apa adanya."


"Hemmm,...dulu aja gak mau sama mas. Bilang jijik lah apa lah om-om lah brewokan lah," ujar Marvel bercanda.


"Apaan sih mas?" Kiran mencabut bulu dada suaminya.


"Aaaaa,...sayang. Sakit!"


"Nakal...!" Seru Kiran.


"Loh, mas benerkan?"


"Ya kan dulu aku malu mas, masa anak sekolahan di kejar-kejar ama om-om. Mana udah duda lagi."


"Terus kalau sekarang bagaimana?" Tanya Marvel penasaran.


"Gak mau jauh-jauh," jawab Kiran manja.


"Maklum lah ya, brewokan mas ini memang suka memikat hati," gurau Marvel.


"Hih, kalau ngomong suka bener!"


Kiran dan Marvel tertawa, entah kenapa sejak hamil suasana hati Kiran suka berubah-ubah.


"Tapi sayang. Mas lesu nih," ujar Marvel.


"Loh, lesu kenapa mas?" Tanya Kiran khawatir.


"Sekarang jatah mas berkurang delapan puluh persen. Kalau main gak bisa lima ronde di tambah lagi jatah sekarang hanya tiga kali dalam seminggu. Sedih banget."


"Sabar dong mas, semua ini demi anak kita loh."


"Hem,...demi junior Marvel ya kan. Papahnya ini harus berkorban banyak."


"Cium dulu dong!" Goda Kiran.


"Mulai berani kamu ya...!" Marvel mencolek hidung istrinya.


"Gak tahu nih mas, tiba-tiba aja aku gak mau jauh dari kamu."


"Sayang, mumpung mamah pergi arisan. Satu ronde bisalah ya...!"


"Bisa dong, ayo...!!"

__ADS_1


Tidak seperti biasanya, sejak hamil Marvel harus mengatur kecepatan dalam bermain di atas ranjang. Marvel juga tidak mau menyakiti anaknya yang ada di dalam perut.


__ADS_2