Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 93


__ADS_3

"Mas, kok nangis?" tanya Kiran dengan santainya.


"Mas udah gak tahan sayang. Perut mas nyeri, pinggang juga rasanya mau patah!"


"Aduh,...perasaan udah di panggilin tukang pijet. Lalu, aku harus apa dong sekarang?" Kiran bingung.


Marvel semakin menjadi-jadi, pria ini berguling-guling di atas tempat tidur. Sejak pagi sampai sore ini Marvel Merasakan nyeri diperut dan pinggangnya.


"Sayang, kok kamu keringetan. Kamu kenapa?" tanya Marvel mendadak hilang sakitnya.


"Anu mas, perut ku keras. Perut juga rasanya sedikit nyeri. Kaki ku lemas loh mas."


"Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?"


Marvel mendadak panik, khawatir dan juga bingung. Pria ini berlari ke luar kamar, dari lantai atas berteriak memanggil mamahnya hingga membuat heboh seisi rumah.


"Mamah,....mama...mamah...!"


Mamah Dona yang merasa bising bertanya pada Marvel.


"Ada apa sih Vel, teriak-teriak seperti di hutan aja?"


"Kiran, istri ku,anu,....cucu mamah mau keluar!"


"Apa.....?" Mamah Dona terperanjat, bergegas ia menaiki tangga.

__ADS_1


Marvel kembali masuk ke dalam kamar, ia sudah mendapati Kiran yang sedang menahan rasa sakit sambil mencengkram alas tempat tidur.


"Aduh,...kok di diemin. Cepat bawa ke rumah sakit Vel!"


Bergegas Marvel menggendong istrinya, mamah Dona membawa perlengkapan melahirkan yang sudah di persiapkan dari jauh hari.


Setibanya di rumah sakit Kiran langsung mendapatkan penanganan dari Dokter.


"Loh Dok, kok keluar? Apa anak saya sudah lahir?" tanya Marvel heran.


"Istri bapak baru mengalami pembukaan empat. Masih ada beberapa pembukaan lagi. Kita tunggu saja ya pak sambil di pantau."


"Berapa lama kira-kira Dok?" tanya Marvel.


Dokter tersebut melihat jam tangannya.


"Ya ampun Dok, yang bener aja? Sekarang baru jam empat sore. Dokter ini beneran Dokter atau gak sih?" Marvel kesal.


"Aduuuh,...maafin anak saya yang gak tahu di untung ini ya Dok. Dia mana tahu masalah melahirkan," ucap mamah Dona yang menebalkan muka akibat ulah Marvel.


"Iya bu. Tidak apa-apa, wajar bapaknya begitu. Mungkin panik. Tapi, selama ini belum ada sih yang protes segitunya sama saya!" Ucap Dokter yang sedikit menyinggung Marvel.


Mamah Dona hanya bisa tersenyum tidak enak hati pada Dokter tersebut. Saat sang Dokter sudah keluar dari ruangan, mamah Dona langsung menendang kaki anaknya.


"Kamu ini loh Vel, malu-maluin aja. Sok tahu gitu loh jadi orang!"

__ADS_1


"Ya kali mah, masa lama bener!"


Huft....


Mamah Dona membuang nafas kasar.


"Ya udah, mamah pulang sebentar buat ambil perlengkapan yang gak ke bawa. Itu Kiran di jaga, jangan di buat nangis!"


Marvel hanya mengiyakan, pria ini menghampiri istrinya yang sejak tadi menahan rasa sakit.


"Mas, sakit. Aku udah gak tahan," ucap Kiran dengan keringat panas dingin.


"Kalau sakit cubit mas aja sayang. Jangan teriak-teriak," ucap Marvel.


"Loh, kenapa memangnya mas?"


"Karena kita bikinnya diem-diem, masa iya lahirnya harus teriak-teriak?"


"Mas,.....!"


Ingin sekali Kiran mencakar mulut suaminya tapi rasa sakit itu keburu datang.


"Eh sayang, tapi kok mas udah gak ngerasa sakit lagi ya?, apa ini ada hubungannya dengan kamu yang mau melahirkan?"


"Gak tahu ah mas. Perutku sakit, jangan banyak tanya!"

__ADS_1


"Apa ini yang di namakan membuat bersama merasakan sakitnya pun bersama?" Marvel mulai berpikir keras.


__ADS_2