
"Pasti semua ini kerjaan kamu kan?" tanya Jeff dengan wajah kesalnya.
"Bukan aku, tapi semua ini idenya Kiran!" jawab Fani tak kalah kesalnya.
"Lagian ngapain sih menghadiri acara pernikahan mantan tunangan mu itu?"
"Karena aku di undang!" jawab Fani dengan dada sesak.
"Dia mengundang mu hanya untuk melihat mu sakit hati. Udahlah, mending gak usah datang aja."
"Jika aku tidak menghadiri pernikahannya, sudah pasti dia akan mengejek ku."
"Eh, iya juga ya. Aku yakin bajingan itu sengaja mengundang mu untuk membuat mu cemburu."
"Minimal ngasih amplop terus pulang," ucap Fani langsung menarik tangan Jeff masuk ke dalam gedung pernikahan.
Dengan sengaja Fani menggandeng tangan Jeff, tampak mesra tapi tetap saja hati Fani sakit terasa.
"Jangan pasang wajah cemberut, tunjukan wajah bahagia mu," bisik Jeff.
"Iya...iya...bawel!" gerutu Fani.
"Hehe,...kapan lagi di gandeng wanita cantik," batin Jeff terkekeh geli.
Mereka berdua masuk kedalam ruangan dengan wajah ceria. Fani tidak ingin menunjukan betapa hancur dirinya saat di tinggal menikah oleh tunangannya.
"Itu mantan mu?" tanya Jeff dengan nada mengejek.
"Ya,...!" jawab Fani singkat.
"Ganteng juga aku," ucap Jeff sambil memuji dirinya sendiri, "kau ini cantik, entah di mana kau letakan bola matu hingga kau bisa jatuh cinta padanya?"
Plak,....
Fani yang kesal tiba-tiba saja menendang kaki Jeff.
"Kenapa kau banyak bicara hah?"
"Aku tidak banyak bicara, aku hanya bertanya saja. Hadeeh,...ayo ke depan, tunjukan pada mantan mun jika kau bisa menggandeng pria tampan seperti diri ku ini."
Fani menarik nafas panjang, kedua matanya mendelik malas untuk melihat kebahagiaan sang mantan.
"Selamat atas pernikahan mu!" ucap Fani membuat sang mantan terkejut.
__ADS_1
"Fa-ni,....dengan siapa kau datang?" tanya sang pria tidak tahu diri.
Saat Fani hendak menjawab, Jeff langsung mengulurkan tangannya mengajak pria tersebut bersalaman.
"Perkenalkan, nama ku Jeff. Calon suami Fani."
Glek,...
Mantan Fani yang bernama Hendri tersebut hanya bisa menelan ludahnya kasar.
"Oh calon suami, baguslah jika kau sudah move on!" ucap perempuan di samping Hendri yang tak lain adalah istrinya.
"Ambillah dia, aku sudah tidak butuh. Lagian, sekarang aku sudah mendapatkan pengganti Hendri yang jauh lebih tampan dan mapan. Tidak seperti lelaki tidak tahu diri ini, hanya menumpang hidup saja!" cibir Fani.
"Sayang, sebaiknya kita pergi sekarang. Bukankah malam ini kita ada acara makan malam romantis?"
Di luar skenario, tanpa izin Jeff tiba-tiba saja merangkul pinggang Fani lalu mengecup punggung tangannya.
Hendri yang melihat hal tersebut tentu saja merasa cemburu. Sejak tadi ia hanya menebak jika mereka berdua hanya berteman saja.
"Oh, ayo kita pergi sekarang!" ajak Fani yang sudah tidak sabar ingin menghajar Jeff.
Fani dan Jeff pergi, mereka langsung menuju tempat parkir lalu masuk kedalam mobil.
"Apa maksud mu mencium tangan ku tadi hah?"
"Tapi gak gitu juga kali....!"
"Jika tidak seperti itu, mantan mu yang jelek itu tidak akan percaya jika kita ada hubungan."
Huft,...
Fani membuang nafas kasar.
"Terserah kau!" serunya kesal.
Jeff langsung mengantarkan Fani pulang, tidak ada acara makan malam romantis atau sebagainya.
Sementara itu, Kiran juga tak kalah kesalnya malam ini karena Marvel terus mengganggu dirinya.
"Sayang, mas pengen!" bisik Marvel.
"Seribu kali pun mas ngomong pengen kalau aku gak bisa ya gak bisa!" sahut Kiran.
__ADS_1
"Sampai kapan sih kamu halangannya?" tanya Marvel lesu, "perasaan udah lama banget deh!"
"Mas, baru tiga hari...!" Kiran mengangkat tiga jarinya.
"Tiga hari serasa tiga abad. Kasian timun mas, airnya sudah banyak!"
"Ya ampun mas, ada-ada aja."
"Main sama bibir manja mu bolehkan sayang?"
Marvel mencoba merayu Kiran.
"Gak ada, ayo tidur. Besok kamu kerja!"
"Sayang,...!" keluh Marvel.
"Dua hari lagi....!"
Malam ini tidak ada jatah untuk Marvel, membuat pria ini kehilangan semangat.
"Besok mamah akan pergi ke luar negeri bersama teman-temannya. Kita akan mengantar mamah ke bandara," ujar Marvel memberitahu istrinya.
"Mas, seandainya mamah menikah lagi bagaimana?" tanya Kiran tiba-tiba.
"Gak ada, udah tua kok mau nikah lagi. Enak aja papah ku di duain."
"Ya kali, mamah juga butuh teman di hari tuanya!"
"Mending kita kasih cucu aja untuk mamah," sahut Marvel.
"Gak gitu juga mas, cucu itu hanya pelengkap di masa tua.Mamah juga butuh teman tidur, sama seperti kamu."
"Nanti lah mas tanya, mamah mau nikah lagi apa gak?"
"Mamah masih cantik loh mas, yakin kamu gak mau punya papah lagi?" Kiran menggoda Marvel.
Marvel melirik istrinya dengan tajam.
"Kamu ini suka sekali bercanda. Bercanda serius lagi, membuat mas kepikiran aja!"
Kiran hanya tertawa, ia hanya penasaran saja jika sang suami memiliki papah baru.
"Mas, papah baru sudah pasti akan ada adik baru. Aku yakin jika gelar mu seorang anak tunggal akan terpatahkan jika mamah menikah lagi."
__ADS_1
"Sayang,......!!"
Marvel gemas sendiri melihat istrinya yang sejak tadi mengompori dirinya.