Dikejar Cinta Om Duda

Dikejar Cinta Om Duda
Chapter 86


__ADS_3

Ada yang di gantung tapi bukan rambutan, apa hayoooo.......?


"Mas kamu kenapa?" tanya Kiran heran, "perasaan sejak pagi bolak balik toilet terus."


"Perut mas sakit sayang, ini pinggang mas juga nyeri."


"Mas.....!" Mata Kiran melotot.


"Lah, kok marah. Kenapa?" tanya Marvel heran.


"Perasaan kamu udah dua hari gak jenguk anak kita di dalam. Kok bisa pinggang kamu nyeri?"


"Ya mana mas tahu," jawab Marvel juga heran.


"Jangan-jangan.......!" Kiran curiga pada suaminya.


"Jangan fitnah, mas gak akan mungkin main sama perempuan lain."


"Itu pinggang sakit kenapa?"


"Gak tahu ah. Mas mau ke kamar mandi lagi," ucap Marvel sembari bergegas pergi ke kamar mandi.


Belum ada lima menit, Marvel keluar sambil mengelus-elus perutnya.


"Kamu salah makan kali mas?"


"Gak mungkin ah. Apa yang kamu makan, mas makan juga."


"Ya udah rebahan, biar ku usap minyak angin."


Marvel kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur sambil melepas baju yang ia kenakan.


"Ah,...emangnya minyak angin ini bisa meresap kedalam kulit?" tanya Kiran mulai melucu.

__ADS_1


"Ya bisa dong, kenapa juga gak bisa?"


"Lihat bulu mu mas, lebat. Membuat ku geli saja!"


"Mulut mu itu lama-lama harus di sumpal sama ini nih...!" Ujar Marvel yang menunjuk ke bawah.


"Hiiidiiih,......!"


Kiran mulai membaluri perut suaminya dengan minyak angin. Entah kenapa Marvel merasa sangat nyaman sekali di belai oleh tangan kecil milik istrinya.


"Mas, udah ya. Aku mau minum," ucap Kiran tapi tak mendapatkan respon dari suaminya.


"Mas,....mas,.....!"


Merasa tak di respon, Kiran mengintip wajah suaminya yang sengaja di tutup bantal.


"Dasar om bewok. Enak banget main tidur aja!"


"Loh Kiran, di mana Marvel?" tanya mamah Dona.


"Ada, lagi tidur mah. Katanya perut dan pinggang mas Marvel sakit."


"Ya udah kalau begitu. Mamah pergi dulu ya, hati-hati di rumah. Kamu, kalau mau makan apa-apa minta sama bi Rumi. Kalau pengen jajan di luar, telpon mamah aja."


"Iya mah. Nanti aja kalau kepengen."


"Ayo dong ngidam yang aneh-aneh lagi. Mamah suka loh kamu mengerjai Marvel," ujar mamah Dona.


"Waaah,...sedap sekali. Ternyata mamah biang kerok selama ini?"


"Loh mas, bukannya kamu tadi tidur?" tanya Kiran sedikit terkejut.


"Kamu itu loh, baru di tinggal tidur lima detik aja udah hilang dari pandangan." Marvel mengomel.

__ADS_1


"Aaah,...urusan kalian. Mamah pergi dulu....!"


Mamah Dona pergi, tinggallah Kiran dan Marvel di rumah.


"Kamu pake sepatu mau kemana mas?" tanya Kiran penasaran.


"Anu sayang. Ada berkas yang harus mas tanda tangani. Kamu main di tempat mbak Fani mu itu bagaimana?"


"Boleh mas. Aku pengen merampok di toko kuenya," ujar Kiran.


"Makan yang banyak. Nanti mas yang bayar."


"Ya udah, aku ambil tas dulu."


"Gak usah. Ini udah mas bawain," ujar Marvel.


"Gak sia-sia nikah sama om-om. ter the best emang!"


Marvel kemudian mengantar Kiran ke toko kue Fani. Hanya sekedar mengantar setelah itu pergi.


Bukan untuk menandatangani berkas, ternyata Marvel datang ke rumah besar Erma.


"Apa dia masih hidup?" tanya Marvel.


"Masih kak. Tadi Dokter ku sudah menanganinya.


"Bagaimana dia bisa melakukannya?" tanya Marvel heran.


"Aku juga tidak tahu kak. Saat aku masuk, Jessi sudah tergantung di pintu besi ini."


"Hati-hati, dia perempuan licik. Aku yakin Jessi sedang merencanakan sesuatu."


"Ya kak, sepertinya begitu!"

__ADS_1


__ADS_2